Sabtu, 27 Februari 2010

BRONKIEKTASIS

KONSEP DASAR

PENGERTIAN BRONKIEKTASIS

Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muscular dinding bronkus (Soeparman & Sarwono, 1990).

Jumat, 26 Februari 2010

SATUAN ACARA PENYULUHAN (S.A.P) HIPERTENSI

SATUAN ACARA PENYULUHAN

HIPERTENSI
  1. Tema : Hipertensi
  2. Tujuan :
    1. Tujuan Umum : Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 1 × 45 menit, keluarga Ny.S mampu memahami penyakit hipertensi
    2. Tujuan Khusus: Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan selama 1 × 45 menit, Ny.S mampu menjelaskan:
      1. Pengertian hipertensi
      2. Jenis hipertensi
      3. Penyebab hipertensi
      4. Tanda dan gejala hipertensi
      5. Komplikasi hipertensi
      6. Pengobatan hipertensi
      7. Pencegahan hipertensi
      8. Makanan yang dianjurkan untuk penderita hipertensi
      9. Makanan yang perlu dihindari
      10. Melakukan pengobatan tradisional untuk hipertensi
  3. Sasaran : Ny.S dan keluarganya
  4. Tempat : Rumah Ny.S, Desa………Kelurahan……..Kecamatan……Kab……..
  5. Waktu : Pukul 08.30 WIB
  6. Penyuluh : …… (Mahasiswa AKPER……….)
  7. Materi:
    1. Pengertian hipertensi
    2. Jenis hipertensi
    3. Penyebab hipertensi
    4. Tanda dan gejala hipertensi
    5. Komplikasi hipertensi
    6. Pengobatan hipertensi
    7. Pencegahan hipertensi
    8. Makanan yang dianjurkan untuk penderita hipertensi
    9. Makanan yang perlu dihindari
    10. Cara membuat jus mentimun untuk penderita hipertensi
  8. Kegiatan belajar mengajar

    No

    -

    FASE

    KEGIATAN

    PENYULUH

    SASARAN

    1

    Pra Interaksi

    Menyiapkan

    --

    2



    Orientasi

     

    - Salam

     

     

    -   Perkenalan

     

     

    -  Menjelaskan tujuan

     

    - Kontrak waktu

     


    - Mengucapkan Salam



    - Memperkenalkan diri

    - Menjelaskan tujuan



    - Melakukan kontrak waktu yang akan digunakan

     

    - Menjawab Salam

    - Memperhatikan

    -   Memperhatikan

    - Memperhatikan

    3



    Kerja

     

    - Melakukan appersepsi

     

     

    - Menjelaskan materi dengan metode

     

     

     

     

         a. Ceramah

     

         b. Tanya jawab

     

         c.   Demonstrasi

     

     

    - Memberikan kesempatan bertanya

     

    - Mengajukan pertanyaan

    - Menjelaskan materi dengan metode:

    a. Ceramah

    b. Tanya jawab

    Demonstrasi

    -         Mempersilahkan untuk bertanya

     

     

     

     

     

     

    - Menjawab pertanyaan

     

     

     

     

    a. Memperhatikan

     

    b. Menjawab pertanyaan

    c.  Memperhatikan

     

    -        Mengajukan pertanyaan

    4



    Terminasi

     

     

     

    - Salam

     

    - Mengajukan pertanyaan

    - Mengucapkan salam

     

    - Menjawab pertanyaan

    - Menjawab salam

  9. Metode
    1. Ceramah
    2. Tanya jawab
    3. Demonstrasi
  10. Media dan alat peraga
    1. Leaflet tentang pengertian hipertensi, jenis hipertensi, penyebab hipertensi, tanda dan gejala hipertensi, komplikasi hipertensi, pengobatan hipertensi, pencegahan hipertensi, makanan yang dianjurkan untuk penderita hipertensi, makanan yang perlu dihindari, cara pengobatan tradisional untuk penderita hipertensi
    2. Mentimun, alat penyaring, serutan, gelas/tempat jus untuk membuat obat tradisional jus mentimun
  11. Rencana Evaluasi
    1. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan pengertian hipertensi
    2. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan jenis hipertensi
    3. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan penyebab hipertensi
    4. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan tanda dan gejala hipertensi
    5. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan komplikasi hipertensi
    6. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan pengobatan hipertensi
    7. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan pencegahan hipertensi
    8. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan makanan yang dianjurkan untuk penderita hipertensi
    9. Ny.S dan keluarganya dapat menjelaskan makanan yang perlu dihindari
    10. Ny.S dan keluarganya dapat mendemonstrasikan cara membuat jus mentimun untuk penderita hipertensi
  12. Daftar Pustaka

Surakarta, 17 Juli 2009

                                                                                                              Penyuluh

 

                                                                                                            (………...)

Lampiran: I. Materi Hipertensi

  1. Pengertain hipertensi adalah kenaikan tekanan darah sistolik diatas 150 mmHg dan tekanan darah diastolik = 100 mmHg. Jika tekanan darah anda adalah 170/100 mmHg, maka
    1. Tekanan sistoliknya : 170 mmHg
    2. Tekanan diastoliknya: 100 mmHg
  2. Jenis-jenis hipertensi adalah:
    1. Hipertensi ringan: Jika tekanan darah sistolik antara 140 – 159 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 90 – 95 mmHg
    2. Hipertensi sedang: Jika tekanan darah sistolik antara 160 – 179 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 100 – 109 mmHg
    3. Hipertensi berat: Jika tekanan darah sistolik antara 180 – 209 mmHg dan atau tekanan diastolik antara 110 – 120 mmHg
  3. Penyebab hipertensi antara lain adalah stres, usia, merokok, obesitas (kegemukan), alkohol, faktor keturunan, faktor lingkungan (gaduh/bising)
  4. Tanda dan gejala hipertensi antara lain adalah sakit kepala, pusing, lemas, kesemutan kelelahan, rasa berat di tengkuk, gangguan tidur.
  5. Komplikasi hipertensi antara lain:
    1. Penyakit jantung (gagal jantung)
    2. Penyakit ginjal (gagal ginjal)
    3. Penyakit otak (stroke)
  6. Pengobatan hipertensi untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut:
    1. Pengobatan farmakologis yaitu dengan menggunakan obat-obatan atas ijin dokter
    2. Pengobatan non farmakologis yaitu dengan
      1. Mengurangi asupan garam dan lemak
      2. Mengurangi atau menghilangkan kebiasaan minum alkohol bagi yang mengkonsumsinya
      3. Berhenti merokok bagi yang merokok
      4. Menurunkan berta badan bagi yang kegemukan
      5. Olah raga teratur seperti joging, jalan cepat, bersepeda, berenang
      6. Menghindari ketegangan
      7. Istirahat cukup
      8. Hidup tenang
  7. Pencegahan agar tidak terjadi komplikasi dari hipertensi
    1. Kontrol teratur
    2. Minum obat teratur
    3. Diit rendah garam dan lemak
  8. Makanan yang dianjurkan untuk penderita hipertensi antara lain:
    1. Sayur-sayuran hijau kecuali daun singkong, daun melinjo dan melinjonya
    2. Buah-buahan keculi buah durian
    3. Ikan laut tidak asin terutama ikan laut air dalam seperti kakap dan tuna
    4. Telur boleh dikonsumsi maksimal 2 butir dalam 1 minggu dan diutamakan putih telurnya saja
    5. Daging ayam (kecuali kulit, jerohan dan otak karena banyak mengandung lemak)
  9. Makanan yang perlu dihindari
    1. Makanan yang di awetkan seperti makanan kaleng, mie instant, minuman kaleng
    2. Daging merah segar seperti hati ayam, sosis sapi, daging kambing
    3. Makanan berlemak dan bersantan tinggi serta makanan yang terlalu asin
  10. Pengobatan tradisional yang dapat dibuat dirumah antara lain dengan mengkonsumsi secara teratur jus:
    1. Buah mentimun
    2. Buah belimbing
    3. Daun seledri

    Sedangkan cara membuat obat tradisional seperti jus mentimun adalah
    1. ½ kg buah mentimun dicuci bersih
    2. Dikupas kulitnya kemudian diparut
    3. Saring airnya menggunakan penyaring/kain bersih
    4. Diminum setiap hari ± 1 kg untuk 2 kali minum pagi dan sore hari

DAFTAR PUSTAKA

  1. Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. “Penuntun Diet”; Edisi Baru, Jakarta, 2004, PT Gramedia Pustaka Utama
  2. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani W. I, Setiowulan W, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi ke-3 jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakrta, 1999

Ca RECTIE

CARSINOMA RECTUM ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KARSINOMA RECTIE

I. KONSEP MEDIS

PENGERTIAN

Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian Rectie yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali.

INSIDEN dan FAKTOR RESIKO

Kanker yang ditemukan pada kolon dan rektum 16 % di antaranya menyerang Rectie terutama terjadi di negara-negara maju dan lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi sebagai berikut

  1. Kebiasaan diet rendah serat
  2. Polyposis familial
  3. Ulcerasi colitis
  4. Deversi colitis

PATOFISIOLOGI

Penyebab kanker pada saluran cerna bagian bawah tidak diketahui secara pasti. Polip dan ulserasi colitis kronis dapat berubah menjadi ganas tetapi dianggap bukan sebagai penyebab langsung. Asam empedu dapat berperan sebagai karsinogen yang mungkin berada di kolon. Hipotesa penyebab yang lain adalah meningkatnya penggunaan lemak yang bisa menyebabkan kanker kolorektal.

Tumor-tumor pada Recti dan kolon asendens merupakan lesi yang pada umumnya berkembang dari polip yang meluas ke lumen, kemudian menembus dinding kolon dan jaringan sekitarnya. Penyebaran tumor terjadi secara limfogenik, hematogenik atau anak sebar. Hati, peritonium dan organ lain mungkin dapat terkena

Menurut P. Deyle, perkembangan karsinoma kolorektal dibagi atas 3 fase.

  1. Fase pertama ialah fase karsinogen yang bersifat rangsangan, proses ini berjalan lama sampai puluhan tahun.
  2. Fase kedua adalah fase pertumbuhan tumor tetapi belum menimbulkan keluhan (asimtomatis) yang berlangsung bertahun-tahun juga.
  3. Kemudian fase ketiga dengan timbulnya keluhan dan gejala yang nyata.

Karena keluhan dan gejala tersebut berlangsung perlahan-lahan, dan tidak sering penderita umumnya merasa terbiasa dan menganggap enteng saja sehingga penderita biasanya datang berobat dalam stadium lanjut.

GAMBARAN KLINIS

Semua karsinoma kolorektal dapat menyebabkan ulserasi, perdarahan, obstruksi bila membesar atau invasi menembus dinding usus dan kelenjar-kelenjar regional. Kadang-kadang bisa terjadi perforasi dan menimbulkan abses dalam peritoneum. Keluhan dan gejala sangat tergantung dari besarnya tumor.

Tumor pada Recti dan kolon asendens dapat tumbuh sampai besar sebelum menimbulkan tanda-tanda obstruksi karena lumennya lebih besar daripada kolon desendens dan juga karena dindingnya lebih mudah melebar. Perdarahan biasanya sedikit atau tersamar. Bila karsinoma Recti menembus ke daerah ileum akan terjadi obstruksi usus halus dengan pelebaran bagian proksimal dan timbul nausea atau vomitus. Harus dibedakan dengan karsinoma pada kolon desendens yang lebih cepat menimbulkan obstruksi sehingga terjadi obstipasi.

DIAGNOSA BANDING

  1. Kolitis ulserosa
  2. Penyakit Chron’s
  3. Kolitis karena amuba atau shigella
  4. Kolitis iskemik pada lansia
  5. Divertikel kolon

PROSEDUR DIAGNOSTIK

Untuk menegakkan diagnosa yang tepat diperlukan:

  1. Anamnesis yang teliti, meliputi
    1. Perubahan pola/kebiasaan defekasi baik berupa diare maupun konstipasi (change of bowel habit)
    2. Perdarahan per anum
    3. Penurunan berat badan
    4. Faktor predisposisi:
      • Riwayat kanker dalam keluarga
      • Riwayat polip usus
      • Riwayat kolitis ulserosa
      • Riwayat kanker pada organ lain (payudara/ovarium)
      • Uretero-sigmoidostomi
      • Kebiasaan makan (tinggi lemak rendah serat)
  2. Pemeriksaan fisik dengan perhatian pada:
    1. Status gizi
    2. Anemia
    3. Benjolan/massa di abdomen
    4. Nyeri tekan
    5. Pembesaran kelenjar limfe
    6. Pembesaran hati/limpa
    7. Colok rektum (rectal toucher)
  3. Pemeriksaan laboratorium
  4. Pemeriksaan radiologis
  5. Endoskopi dan biopsi
  6. Ultrasonografi

Uraian tentang prosedur diagostik dijelaskan lebih lanjut dalam fokus pengkajian keperawatan

PENGOBATAN

Pengobatan pada stadium dini memberikan hasil yang baik.

  1. Pilihan utama adalah pembedahan
  2. Radiasi pasca bedah diberikan jika:
    1. Sel karsinoma telah menembus tunika muskularis propria
    2. Ada metastasis ke kelenjar limfe regional
    3. Masih ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal tetapi belum ada metastasis jauh.
    (Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rektum).
  3. Obat sitostatika diberikan bila:
    1. Inoperabel
    2. Operabel tetapi ada metastasis ke kelenjar limfe regional, telah menembus tunika muskularis propria atau telah dioperasi kemudian residif kembali.
      Obat yang dianjurkan pada penderita yang operabel pasca bedah adalah:
      • Fluoro-Uracil 13,5 mg/kg BB/hari intravena selama 5 hari berturut-turut. Pemberian berikutnya pada hari ke-36 (siklus sekali 5 minggu) dengan total 6 siklus.
      • Futraful 3-4 kali 200 mg/hari per os selama 6 bulan
      • Terapi kombinasi (Vincristin + FU + Mthyl CCNU)
    Pada penderita inoperabel pemberian sitostatika sama dengan kasus operabel hanya lamanya pemberian tidak terbatas selama obat masih efektif. Selama pemberian, harus diawasi kadar Hb, leukosit dan trombosit darah.Pada stadium lanjut obat sitostatika tidak meberikan hasil yang memuaskan.

 

II. FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN

RIWAYAT KEPERAWATAN dan PENGKAJIAN FISIK

Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:

  1. Aktivitas/istirahat:
    • Gejala:
      • Kelemahan, kelelahan/keletihan
      • Perubahan pola istirahat/tidur malam hari; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya nyeri, ansietas dan berkeringat malam hari.
      • Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat stres tinggi.
  2. Sirkulasi:
    • Gejala:
      • Palpitasi, nyeri dada pada aktivitas
    • Tanda:
      • Dapat terjadi perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
  3. Integritas ego:
    • Gejala:
      • Faktor stres (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stres (merokok, minum alkohol, menunda pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
      • Masalah terhadap perubahan penampilan (alopesia, lesi cacat, pembedahan)
      • Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan kontrol, depresi.
    • Tanda:
      • Menyangkal, menarik diri, marah.
  4. Eliminasi:
    • Gejala:
      • Perubahan pola defekasi, darah pada feses, nyeri pada defekasi
    • Tanda:
      • Perubahan bising usus, distensi abdomen
      • Teraba massa pada abdomen kuadran kanan bawah
  5. Makanan/cairan:
    • Gejala:
      • Riwayat kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, pemakaian zat aditif dan bahan pengawet)
      • Anoreksia, mual, muntah
      • Intoleransi makanan
    • Tanda:
      • Penurunan berat badan, berkurangnya massa otot
  6. Nyeri/ketidaknyamanan:
    • Gejala:
    • Gejala nyeri bervariasi dari tidak ada, ringan sampai berat tergantung proses penyakit
  7. Keamanan:
    • Gejala:
      • Komplikasi pembedahan dan atau efek sitostika.
    • Tanda:
      • Demam, lekopenia, trombositopenia, anemia
  8. Interaksi sosial
    • Gejala:
      • Lemahnya sistem pendukung (keluarga, kerabat, lingkungan)
      • Masalah perubahan peran sosial yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
  9. Penyuluhan/pembelajaran:
    • Riwayat kanker dalam keluarga
    • Masalah metastase penyakit dan gejala-gejalanya
    • Kebutuhan terapi pembedahan, radiasi dan sitostatika.
    • Masalah pemenuhan kebutuhan/aktivitas sehari-hari

TES DIAGNOSTIK

Tes diagnostik yang sering dilakukan diuraikan pada tabel berikut:

No

Jenis Pemeriksaan

Tujuan/Interpretasi Hasil

1

Pemeriksaan Laboratorium  

a

Tinja Untuk mengetahui adanya darah dalam tinja (makroskopis/mikroskopis)

b

CEA (Carcino-embryonic anti-gen)

Kurang bermakna untuk diagnosis awal karena hasilnya yang tidak spesifik serta dapat terjadi psoitif/negatif palsu tetapi bermanfaat dalam mengevaluasi dampak terapi dan kemungkinan residif atau metastase

2

Pemeriksaan radiologis Perlu dikerjakan dengan cara kontras ganda (double contrast) untuk melihat gambaran lesi secara radiologis

3

Endoskopi dan biopsi Endoskopi dengan fiberscope untuk melihat kelainan struktur dari rektum sampai Recti. Biopsi diperlukan untuk menentukan jenis tumor secara patologi-anatomis

4

Ultrasonografi Diperlukan untuk mengtahui adanya metastasis ke hati

PRIORITAS PERAWATAN

  1. Dukungan proses adaptasi dan kemandirian
  2. Meningkatkan kenyamanan
  3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal
  4. Mencegah komplikasi
  5. Memberikan informasi tentang penyakit, perawatan dan kebutuhan terapi.

 

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.
    • Ditandai dengan:
      • Peningkatan bunyi usus/peristaltik
      • Peningkatan defekasi cair
      • Perubahan warna feses
      • Nyeri/kram abdomen
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.
    • Ditandai dengan:
      • Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan/massa otot, tonus otot buruk
      • Peningkatan bunyi usus
      • Konjungtiva dan membran mukosa pucat
      • Mual, muntah, diare
  3. Ansietas (uraikan tingkatannya) berhubungan dengan faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma)
    • Ditandai dengan:
      • Eksaserbasi penyakit tahap akut
      • Penigkatan ketegangan, distres, ketakutan
      • Iritabel
      • Fokus perhatian menyempit
  4. Koping individu tak efektif berhubungan dengan intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat)
    • Ditandai dengan:
      • Menyatakan ketidakmampuan menghadapi masalah, putus asa, ansietas
      • Menyatakan diri tidak berharga
      • Depresi dan ketergantungan
  5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.
    • Ditandai dengan:
      • Mengajukan pertanyaan, meminta informasi atau kesalahan pernyataan konsep
      • Tidak akurat mengikuti instruksi
      • Terjadi komplikasi/eksaserbasi yang dapat dicegah

 

IV. INTERVENSI KEPERAWATAN

  1. Diare berhubungan dengan inflamasi, iritasi, malabsorbsi usus atau penyempitan parsial lumen usus sekunder terhadap proses keganasan usus.

    No

    INTERVENSI KEPERAWATAN

    RASIONAL

    1

    Bantu kebutuhan defekasi (bila tirah baring siapkan alat yang diperlukan dekat tempat tidur, pasang tirai dan segera buang feses setelah defekasi)

    Defekasi tiba-tiba dapat terjadi tanpa tanda sehingga perlu diantisipasi dengan menyiapkan keperluan klien

    2

    Tingkatkan/pertahankan asupan cairan per oral

    Mencegah timbulnya maslah kekurangan cairan

    3

    Ajarkan tentang makanan-minuman yang dapat memperburuk/mencetus-kan diare

    Membantu klien menghindari agen pencetus diare

    4

    Observasi dan catat frekuensi defekasi, volume dan karakteristik feses.

    Menilai perkembangan masalah

    5

    Observasi demam, takikardia, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas dan kelesuan.

    Mengantisipasi tanda-tanda bahaya perforasi dan peritonitis yang memerlukan tindakan kedaruratan

    6

    Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai program terapi (antibiotika, antikolinergik, kortikosteroid).

    Antibiotika untuk membunuh/menghambat pertumbuhan agen patogen biologik, antikolinergik untuk menurunkan peristaltik usus dan menurunkan sekresi digestif, kortikosteroid untuk menurunkan proses inflamasi.

  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrien, status hipermetabolik sekunder terhadap proses keganasan usus.

    No

    INTERVENSI KEPERAWATAN

    RASIONAL

    1

    Pertahankan tirah baring selama fase akut/pasca terapi

    Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.

    2

    Bantu perawatan kebersihan rongga mulut (oral hygiene).

    Meningkatkan kenyamanan dan selera makan.

    3

    Berikan diet TKTP, sajikan dalam bentuk yang sesuai perkembangan kesehatan klien (lunak, bubur kasar, nasi biasa)

    Asupan kalori dan protein tinggi perlu diberikan untuk mengimbangi status hipermetabolisme klien keganasan

    4

    Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (roborantia)

    Pemberian preparat zat besi dan vitamin B12 dapat mencegah anemia; pemberian asam folat mungkin perlu untuk mengatasi defisiensi karen amalbasorbsi

    5

    Bila perlu, kolaborasi pemberian nutrisi parenteral

    Pemberian peroral mungkin dihentikan sementara untuk mengistirahatkan saluran cerna.

  3.  Kecemasan (uraikan tingkatannya) berhubungan dengan faktor psikologis (ancaman perubahan status kesehatan, status sosio-ekonomi, fungsi-peran, pola interaksi) dan rangsang simpatis (proses neoplasma).

    No

    INTERVENSI KEPERAWATAN

    RASIONAL

    1

    Orientasikan klien dan orang terdekat terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan

    Informasi yang tepat tentang situasi yang dihadapi klien dapat menurunkan kecemasan/rasa asing terhadap lingkungan sekitar dan membantu klien mengantisipasi dan menerima situasi yang terjadi

    2

    Eksplorasi kecemasan klien dan berikan umpan balik

    Mengidentifikasi faktor pencetus/pemberat masalah kecemasan dan menawarkan solusi yang dapat dilakukan klien

    3

    Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang lazim dialami oleh banyak orang dalam situasi klien saat ini

    Menunjukkan bahwa kecemasan adalah wajar dan tidak hanya dialami oleh klien satu-satunya dengan harapan klien dapat memahami dan menerima keadaanya

    4

    Ijinkan klien ditemani keluarga (significant others) selama fase kecemasan dan pertahankan ketenangan lingkungan

    Memobilisasi sistem pendukung, mencegah perasaan terisolasi dan menurunkan kecemsan

    5

    Kolaborasi pemberian obat sedatif

    Menurunkan kecemasan, memudahkan istirahat

    6

    Pantau dan catat respon verbal dan non verbal klien yang menunjukan kecemasan

    Menilai perkembangan masalah klien

  4. Koping individu tak efektif (koping menyangkal/defensif/depresi/agresi) berhubungan dengan intensitas dan pengulangan stesor melampaui ambang adaptif (penyakit kronis, ancaman kematian, kerentanan individu, nyeri hebat, sistem pendukung tak adekuat).

    No

    INTERVENSI KEPERAWATAN

    RASIONAL

    1

    Bantu klien mengembangkan strategi pemecahan masalah yang sesuai didasarkan pada kekuatan pribadi dan pengalamannya

    Penderita kanker tahap dini dapat hidup survive dengan mengikuti program terapi yang tepat dan dengan pengaturan diet dan aktivitas yang sesuai

    2

    Mobilisasi dukungan emosional dari orang lain (keluarga, teman, tokoh agama, penderita kanker lainnya)

    Dukungan semua orang dapat membantu meningkatkan spirit klien untuk mengikuti program terapi

    3

    Kolaborasi terapi medis/keperawatan psikiatri bila klien mengalami depresi/agresi yang ekstrim

    Terapi psikiatri mungkin diperlukan pada keadaan depresi/agresi yang berat dan lama sehingga dapat memperburuk keadaan kesehatan klien

    4

    Kaji fase penolakan-penerimaan klien terhadap penyakitnya (sesuai teori Kubler-Ross)

    Menilai perkembangan masalah klien

  5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pemaparan dan atau kesalahan interpretasi informasi.

    No

    INTERVENSI KEPERAWATAN

    RASIONAL

    1

    Kaji tingkat pengetahuan klien/orang terdekat dan kemampuan/kesiapan belajar klien

    Proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental klien

    2

    Jelaskan tentang proses penyakit, penyebab/faktor risiko, dan dampak penyakit terhadap perubahan status kesehatan-sosio-ekonomi, fungsi-peran dan pola interaksi sosial klien

    Meningkatkan pengetahuan klien tentang masalah yang dialaminya

    3

    Jelaskan tentang terapi pembedahan, radiasi dan kemoterapi serta efek samping yang dapat terjadi

    Meningkatkan partisipasi dan kemandirian klien untuk mengikuti program terapi.

    4

    Tekankan pentingnya mempertahan-kan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat

    Penderita kanker yang mengikuti program terapi yang tepat dengan status gizi yang adekuat meningkatkan kualitas hidupnya

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta
  2. Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
  3. Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta
  4. Soeparman & Waspadji (1990), Ilmu Penyakit Dalam, Jld.II, BP FKUI, Jakarta.

By. Kapuk

Kamis, 25 Februari 2010

Ca COLON

Ca COLON CANCER COLON 

DEFINISI 

Kanker colon adalah suatu kanker yang yang berada di colon. Kanker colon adalah penyebab kedua kematian di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru (ACS 1998)

Penyakit ini termasuk penyakit yang mematikan karena penyakit ini sering tidak diketahui sampai tingkat yang lebih parah. Pembedahan adalah satu-satunya cara untuk mengubah kanker Colon.

PATOFISIOLOGI

Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kira-kira pada bagian (Sthrock, 1991):

  • 26 % pada caecum dan ascending colon
  • 10 % pada transfersum colon
  • 15 % pada desending colon
  • 20 % pada sigmoid colon
  • 30 % pada rectum

Gambar dibawah ini menggambarkan terjadinya kanker pada sigmoid dan colon kanan dan mengurangi timbulnya penyakit pada rektum dalam waktu 30 tahun (Sthrock).

Karsinoma Colon sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terdeteksi sampai gejala-gejala muncul secara berlahan dan tampak membahayakan. Penyakit ini menyebar dalam beberapa metode. Tumor mungkin menyebar dalam tempat tertentu pada lapisan dalam di perut,mencapai serosa dan mesenterik fat. Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada disekitarnya, kemudian meluas kedalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa, setelah sel tumor masuk pada sistem sirkulasi,biasanya sel bergerak menuju liver.

Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh kemudian metastase ke paru-paru. Tempat metastase yang lain termasuk :

  • Kelenjar Adrenalin
  • Ginjal
  • Kulit
  • Tulang
  • Otak

Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan sistem sirkulasi tumor colon juga dapat menyebar pada bagian peritonial sebelum pembedahan tumor belum dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker dari tumor pecah menuju ke rongga peritonial.

KOMPLIKASI

Komplikasi terjadi sehubungan dengan bertambahnya pertumbuhan pada lokasi tumor atau melelui penyebaran metastase yang termasuk :

  • Perforasi usus besar yang disebabkan peritonitis
  • Pembentukan abses
  • Pembentukan fistula pada urinari bladder atau vagina

Biasanya tumor menyerang pembuluh darah dan sekitarnya yang menyebabkan pendarahan. Tumor tumbuh kedalam usus besar dan secara berangsur-angsur membantu usus besar dan pada akirnya tidak bisa sama sekali. Perluasan tumor melebihi perut dan mungkin menekan pada organ yang berada disekitanya (Uterus, Urinary Bladder, dan Ureter) dan penyebab gejala-gejala tersebut tertutupi oleh kanker.

ETIOLOGI

Penyebab dari pada kanker Colon tidak diketahui. Diet dan pengurangan waktu peredaran pada usus besar (aliran depan feces) yang meliputi faktor kausatif. Petunjuk pencegahan yang tepat dianjurkan oleh Amerika Cancer Society (The National Cancer Institute), dan organisasi kanker lainnya.

Makanan-makanan yang pasti di curigai mengandung zat-zat kimia yang menyebabkan kanker pada usus besar. Makanan tersebut juga mengurangi waktu peredaran pada perut, yang mempercepat usus besar menyebabkan terjadinya kanker. Makanan yang tinggi lemak terutama lemak hewan dari daging merah,menyebabkan sekresi asam dan bakteri anaerob, menyebabkan timbulnya kanker didalam usus besar. Daging yang di goreng dan di panggang juga dapat berisi zat-zat kimia yang menyebabkan kanker. Diet dengan karbohidrat murni yang mengandung serat dalam jumlah yang banyak dapat mengurangi waktu peredaran dalam usus besar. Beberapa kelompok menyarankan diet yang mengadung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan (e.g Mormons, seventh Day Adventists).

Makanan yang harus dihindari :

  • Daging merah
  • Lemak hewan
  • Makanan berlemak
  • Daging dan ikan goreng atau panggang
  • Karbohidrat yang disaring (example:sari yang disaring)

Makanan yang harus dikonsumsi:

  • Buah-buahan dan sayur-sayuran khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis (seperti brokoli,brussels sprouts)
  • Butir padi yang utuh
  • Cairan yang cukup terutama air

Karena sebagian besar tumor Colon menghasilkan adenoma, faktor utama yang membahayakan terhadap kanker Colon menyebabkan adenoma. Ada tiga type adenoma Colon : Tubular, Villous dan Tubulo Villous. Meskipun hampir sebagian besar kanker Colon berasal dari adenoma, hanya 5% dari semua Adenoma Colon menjadi manigna, Villous Adenoma mempunyai potensial tinggi untuk menjadi manigna.

Faktor yang menyebabkan adanya adenoma benigna atau manigna tumor tidak diketahui, poliposis yang bergerombol bersifat herediter yang tersebar pada gen autosom dominan. Ini di karakteristikkan pada permulaan adematus polip pada colon dan rektum. Resiko dari kanker pada tempat femiliar poliposis mendekati 100 % dari orang yang berusia 20 – 30 tahun.

Orang-orang yang telah mempunyai Ulcerative Colitis atau penyakit Crohn’s juga mempunyai resiko terhadap kanker Colon. Penambahan resiko pada permulaan usia muda dan tingkat yang lebih tinggi terhadap keterlibatan colon. Resiko dari kanker Colon akan menjadi 2/3 kali lebih besar jika anggota keluarga menderita penyakit tersebut

KEJADIAN

Kira-kira 152.000 orang di amerika serikat terdiagnosa kanker Colon pada tahun 1992 dan 57.000 orang meninggal karena kanker ini pada tahun yang sama (ACS 1993). Sebagian besar klien pada kanker Colon mempunyai frekuensi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Kanker pada colon kanan biasanya terjadi pada wanita dan Ca pada rektum biasanya terjadi pada laki-laki.

ALTERNATIF TRANSKULTURAL

Kejadian Ca Colon pada USA tampaknya mengalami kemunduran dari seluruh bangsa-bangsa lain kecuali pada laki-laki Afrika dan Amerika. Kejadian yang lebih besar terjadi terhadap kanker ini terjadi di daerah industri bagian barat dan sebagian Jepang, Firlandia dan Afrika. Ini adalah pemikiran yang berhubungan dengan diet. Daerah yang penduduknya mengalami kejadian yang rendah terhadap Ca Colon mempunyai diet tinggi terhadap buah-buahan, sayuran, ikan dan sebagian kecil daging.

 

COLABORATIF MANAGEMENT

PENGKAJIAN

SEJARAH

Sejarah Ca pada klien diperoleh perawat berdasarkan usia dan jenis kelamin, sejarah diet dan keadaan dari letak geografi diet. Sebagian besar resiko yang menjadi pertanyaan perawat :

    1. Sejarah dari keluarga terhadap Ca Colon
    2. Radang usus besar
    3. Penyakit Crohn’s
    4. Familial Poliposis
    5. Adenoma

Perawat bertanya tentang perubahan kebiasaan pada usus besar seperti diare dengan atau tanpa darah pada feces, klien mungkin merasa perutnya terasa penuh, nyeri atau berat badan turun tetapi biasanya hal tersebut terlambat ditemukan .

PEMERIKSAAN FISIK

Tanda-tanda Ca Colon tergantung pada letak tumor. Tanda-tanda yang biasanya terjadi adalah :

    1. Perdarahan pada rektal
    2. Anemia
    3. Perubahan feces

Kemungkinan darah ditunjukan sangat kecil atau lebih hidup seperti mahoni atau bright-red stooks. Darah kotor biasanya tidak ditemukan tumor pada sebelah kanan kolon tetapi biasanya (tetapi bisa tidak banyak) tumor disebelah kiri kolon dan rektum.

Hal pertama yang ditunjukkan oleh Ca Colon adalah :

    1. Teraba massa
    2. Pembuntuan kolon sebagian atau seluruhnya
    3. Perforasi pada karakteristik kolon dengan distensi abdominal dan nyeri

Ini ditemukan pada indikasi penyakit Cachexia.

PEMERIKSAAN PSIKOSOSIAL

Orang-orang sering terlambat untuk mencoba perawatan kesehatan karena khawatir dengan diagnosa kanker. Kanker biasanya berhubungan dengan kematian dan kesakitan. Banyak orang tidak sadar dengan kemajuan pengobatan dan peningkatan angka kelangsungan hidup. Deteksi dini adalah cara untuk mengontrol Ca Colon dan keterlambatan dalam mencoba perawatan kesehatan dapat mengurangi kesempatan untuk bertahan hidup dan menguatkan kekhawatiran klien dan keluarga klien.

Orang-orang yang hidup dalam gaya hidup sehat dan mengikuti pedoman kesehatan mungkin merasa takut bila melihat pengobatan klinik, klien ini mungkin merasa kehilangan kontrol, tidak berdaya dan shock. Proses diagnosa secara umum meluas dan dapat menyebabkan kebosanan dan menumbuhkan kegelisahan pada pasien dan keluarga pasien. Perawat membolehkan klien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaanya selama proses ini.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Nilai Hemoglobin dan Hematocrit biasanya turun dengan indikasi anemia. Hasil tes Gualac positif untuk accult blood pada feces memperkuat perdarahan pada GI Tract. Pasien harus menghindari daging, makanan yang mengandung peroksidase (Tanaman lobak dan Gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feces spesimen. Perawat dapat menilai apakah klien pada menggunakan obat Non steroidal anti peradangan (ibuprofen) Kortikosteroid atau salicylates. Kemudian perawat dapat konsul ke tim medis tentang gambaran pengobatan lain.

Makanan-makanan dan obat-obatan tersebut menyebabkan perdarahan. Bila sebenarnya tidak ada perdarahan dan petunjuk untuk kesalahan hasil yang positif.

Dua contoh sampel feses yang terpisah dites selama 3 hari berturut-turut, hasil yang negatif sama sekali tidak menyampingkan kemungkinan terhadap Ca Colon. Carsinoma Embrionik Antigen (CEA) mungkin dihubungkan dengan Ca Colon, bagaimanapun ini juga tidak spesifik dengan penyakit dan mungkin berhubungan dengan jinak atau ganasnya penyakit. CEA sering menggunakan monitor untuk pengobatan yang efektif dan mengidentifikasi kekambuhan penyakit.

PEMERIKSAAN RADIOGRAFI

Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Tes ini mungkin menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut, dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Luka yang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan tes ini. Enema barium secara umum dilakukan setelah sigmoidoscopy dan colonoscopy.

Computer Tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan luas dari penyakit. Chest X-ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LAIN

Tim medis biasanya melakukan Sigmoidoscopy dan Colonoscopy untuk mengidentifikasi tumor. Biopsi massa dapat juga dilakukan dalam prosedur tersebut.

ANALISIS

Pasien dengan tipe Ca Colon mempunyai diagnosa keperawatan seperti dibawah ini:

  1. Diagnosa keperawatan utama
    1. Resiko tinggi terhadap luka s.d efek dari tumor dan kemungkinan metastase.
    2. Ketidakefektifan koping individu s.d gangguan konsep diri.
  2. Diagnosa keperawatan tambahan
    1. Nyeri s.d obstruksi tumor pada usus besar dengan kemungkinan menekan organ yang lainnya.
    2. Gangguan pemeliharaan kesehatan s.d kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, program diagnosa dan rencana pengobatan.
    3. Ketidakefektifan koping keluarga : Kompromi s.d gangguan pada peran, perubahan gaya hidup dan ketakutan pasien terhadap kematian.
    4. Gangguan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d program diagnosa.
    5. Ketakutan proses penyakit
    6. Ketidakberdayaan s.d penyakit yang mengancam kehidupan dan pengobatannya.
    7. Gangguan pola sexual s.d gangguan konsep diri.

PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

RESIKO TINGGI TERHADAP LUKA

PERENCANAAN :

Tujuan Klien.
Tujuan untuk klien adalah :

  1. Pengalaman pengobatan atau memperpanjang kelangsungan hidup.
  2. Pengalaman untuk meningkatkan kualitas hidup.
  3. Tidak ada pengalaman tentang komplikasi kanker termasuk metastase.

INTERVENSI

  1. Pembedahan
    Biasanya pengobatan untuk tumor di kolon atau rektal.Tetapi radiasi dan kemoterapi mungkin juga digunakan untuk membantu pembedahan, untuk mengontrol dan mencegah kekambuhan kanker.
  2. Pelaksanaan tanpa pembedahan.
    Tim medis dapat menilai kanker tiap pasien untuk menentukan rencana pengobatan yang baik dengan mempertimbangkan usia, komplikasi penyakit dan kualitas.
  3. Terapi radiasi
    Persiapan penggunaan radiasi dapat diberikan pada pasien yang menderita Ca kolorektal yang besar, walaupun ini tidak dilaksanakan secara rutin. Terapi ini dapat menyebabkan kesempatan yang lebih banyak dari tumor tertentu, yang mana terjadi fasilitas reseksi tumor selama pembedahan.
    Radiasi dapat digunakan post operatif sampai batas penyebaran metastase. Sebagai ukuran nyeri, terapi radiasi menurunkan nyeri, perdarahan, obstruksi usus besar atau metastase ke paru-paru dalam perkembangan penyakit.
    Perawat menerangkan prosedur terapi radiasi pada klien dan keluarga dan memperlihatkan efek samping (contohnya diare dan kelelahan). Perawat melaksanakan tindakan untuk menurunkan efek samping dari terapi .
  4. Kemoterapi
    Obat non sitotoksik memajukan pengobatan terhadap Ca kolorektal kecuali batas tumor pada anal kanal. Bagaimanapun juga 5 fluorouracil (5-FU,Adrucil) dan levamisole (ergamisol) telah direkomendasikan terhadap standar terapi untuk stadium khusus pada penyakit (contoh stadium III) untuk mempertahankan hidup. Kemoterapi juga digunakan sesudah pembedahan untuk mengontrol gejala-gejala metastase dan mengurangi penyebaran metastase. Kemoterapi intrahepatik arterial sering digunakan 5 FU yang digunakan pada klien dengan metastasis liver.

MANAJEMEN PEMBEDAHAN

Reseksi kolon dengan atau tanpa kolostomi dan reseksi perineal abdomen adalah prosedur umum pembedahan terhadap Ca kolorektal.

Reseksi kolon

Tipe khusus terhadap reseksi dan keputusan untuk membuat kolostomi sementara atau permanen tergantung pada :

    • Lokasi dan ukuran tumor
    • Tingkat komplikasi (contoh obstruksi atau perforasi)
    • Kondisi klien
    • Reseksi kolon melibatkan pemotongan pada bagian kolon dengan tumor dan meninggalkan batas area dengan bersih.

Perawatan Pre operatif

Perawat membantu klien untuk menyiapkan reseksi kolon dengan mempertegas keterangan dari dokter terhadap prosedur rencana pembedahan. Klien menanyakan kepastian tentang kemungkinan perubahan yang terjadi pada anatomi dan fisiologi setelah pembedahan sebelum evaluasi pembedahan tumor dan kolon, dokter mungkin tidak dapat menentukan apakah kolostomo diperlukan sementara atau permanen. Jika ini sebuah penyakit dokter memberikan pertolongan pada klien tentang kemungkinan kolostomi. Ketika dokter memastikan kolostomi akan diperlukan, klien bertanya tentang kolostomi sebelum pembedahan. Jika kolostomi pasti direncanakan, perawat mengkonsulkan terapi enterostomal untuk menasehati penempatan ostomi yang optimal dan mengintruksikan kepada klien tentang fungsi umum ostomi dan rasionalnya. Terapi enterostomal adalah perawat yang recatat mempunyai latihan spesialisasi yang lengkap dan disahkan dalam perwatan ostomi.

Tidak berfungsinya alat sexual adalah suatu masalah yang potensial untuk laki-laki dan wanita yang mengalami Ca bedah rektal.Pembicaraan dokter ini tentang resiko terhadap klien,dan yang mendukung klien dalam usaha ini.Perawat mempersiapkan klien untuk bedah abdomen dengan anestesi umum.

Jika usus tidak obstruktif atau perforasi,rencananya adalah bedah elektif. Klien menerima dengan sungguh-sungguh pembersihan dari usus, atau “persiapan pembersihan usus”, untuk meminimalkan pertumbuhan bakteri dan mencegah terjadinya komplikasi, untuk persiapan pembersihan usus klien mengintruksikan untuk menentukan diet mereka untuk membersikan cairan cairan 1-2 hari sebelum pembedahan. Pembersihan mekanik akan sempurna dengan pencuci perut dan pemasukan cairan ke dalam poros usus atau dengan melavement seluruh isi perut. Untuk melavement seluruh isi perut, kuantitas besar makanan klien pada sodium sulfat dan poliyethilene glycol solution. Solusi yang melebihi kapasitas absobsi pada usus kecil dan colon bersih dari feces. Untuk mengurangi bahaya infeksi, para ilmuwan memberikan antibiotik oral atau intravena untuk di berikan pada hari sebelum pembedahan

Prosedur Operatif

Ahli bedah membuat insisi dalam perut dan memeriksa rongga abdomen untuk menentukan letak reseksi dari tumor tersebut. Bagian dari colon dengan tumor adalah menghilangkan dan terkhir membuka dua pada usus yang di irigasi sebelum hubungannya dengan colon. Jika hubungan ini tidak dapat dijalankan karena lokasi pada tumor atau kondisi pada usus.(Contoh inflamasi) ,kolostomi meningkat. Ahli bedah membuat colostomi dengan membuat pembukaan dalam lubang. Pada kolon ( Lubang kolostomi) atau dengan membagi kolon dan terakir membawa keluar satu (Akhir terminal kolostomi ), sisa setoma adalah sisa lubang menjahit luka untuk kulit pada abdomen. Kolostomi mungkin dapat meningkat pada kolon ascending,transversum,descending atau kolon sikmoit

Prosedur Hartman sering kali di lakukan ketika kolostomi sementara yang menghendaki untuk istirahat dan beberapa bagian usus. Kolon proksimal di gunakan untuk membuat kolostomi. Ahli bedah menjahit ujung distal dari kolon dan tempat dalam rongga abdomen atau eksterior pada mucus fitula.

Perawatan post operatif

Klien yang mempunyai kerusakan kolon tanpa menerima perawatan kolostomi sejenis, untuk klien yang menderita sedikit bedah abdomen.

Pasien yang mempunyai kolostomi dapat kembali dari pembedahan dengan sebuah sistem kantung ostomi pada tempatnya. Bila tidak ada sistem kantung pada tempatnya, Perawat meletakkan pembalut petrolatum tipis pada seluruh setoma untuk menjaganya untuk tetap lembab. Kemudian, stoma ditutup dengan pembalut steril yang kering. Perpaduan dengan terapi enterostomal (ET), perawat meletakkan sistem kantung sesegera mungkin. Sistem kantung kolostomi membuat lebih nyaman dan pengumpulan feces lebih bisa di terima dari pada dengan pembalutan.

Perawat mengobservasi untuk :

  • Nekrosis jaringan
  • Perdarahan yang tidak biasa
  • Warna pucat, yang mengindikasikan kurang sirkulasi

Stoma yang sehat berwarna merah muda-kemerahan-dan lembab. Sejumlah kecil perdarahan pada stoma adalah biasa tetapi perdarahan lain dilaporkan pada dokter bedah. Perawat juga secara berfrekuensi memeriksa sistem katung untuk mengetahui kondisinya tetap baik dan tanda-tand kebocoran.

Colostomi harus mulai berfungsi 2 – 4 hari setelah operasi. Ketika colostomi mulai berfungsi , kantung perlu dikosongkan secara berfrekuensi untuk menghilangkan gas yang terkumpul. Kantung harus di kosongkan bila sudah 1/3 –1/2 nya sudah penuh feces. Feces berbentuk cair sesudah operasi, tetapi menjadi lebih padat, tergantung pada di mana stoma diletakkan pada kolon. Sebagai contoh feces dari kolostomi dalam kolon bagaian atas yang naik adalah cair, feces di kolostomi dalam kolon melintang berbentuk pasta (mirip dengan feces seperti biasanya yang dikeluarkan dari rektum).

Aspek penting yang lain dari kolostomi adalah perawatan kulit. Barier pelindung di letakkan pada kulit sebelum kantung di pasang. Perawat mengamati kulit di sekitar stoma, untuk kulit kemerahan atau kerusakan kulit dan memberitahukan pada dkter atau ahli terapi atau fisik bila terjadi iritasi kulit.

Pemindahan Abdominal – Perineal

Bila ada tumor rektal, struktur pendukung rektum dan rektal dapat perlu di pindahkan. Pemindahan abdominal perineal biasanya membutuhkan kolostomi yang permanen untuk evaluasi. Bagaimanapun dengan improfisasi pada teknik pembedahan, banyak pasien dapat menjalani pemindahan kolon dengan spincter rektal dibiarkan utuh. Dengan demikian kebutuhan kolostomi dapat di hindari.

Perawatan pra operasi

Perawatan pra operasi untuk pasien yang menjalani pemindahan A/P sama dengan yang diberikan pada pasien yang menjalani pemindahan kolon (lihat bagian awal).

Prosedur Operasi

Dokter bedah membuka kolon sigmoit, kolon rekto sigmoid, rektum dan anus melalui kombinasi irisan pada abdominal dan perineal. Di buat akiran yang permanen dari kolostomi sigmoid.

Perawatan pasca operasi

Perawatan pasca operasi setelah pemindahan A/P adalah sama dengan perawatan yang diberikan setelah pemindahan kolon dengan pembuatan kolostomi sigmoid. Perawat bekerja sama dengan dokter ET untuk menyediakan perawatan kolostomi dan pasien serta pendidikan untuk keluarga.

Ada 3 metode dalam pembedahan untuk menutup luka :

  1. Luka dibiarkan terbuka, kasa diletakkan pada luka, dibiarkan pada tempatnya selama 2-5 hari. Bila ahli bedah melakukan pendekatan ini, irigasi luka dan kasa absorben digunakam sampai tahap penyembuhan.
  2. Luka dapat sebagian saja ditutup karena penggunaan jahitan luka atau bedah penrose yang diletakkan untuk pengeringan cairan yang terkumpul didalam luka.
  3. Luka dapat ditutup seluruhnya , kateter diletakkan melalui luka sayatan sepanjang sisi luka perineal dan dibiarkan selama 4-6 hari. Satu kateter digunakan untuk irigasi luka dengan salin isotoni yang steril dan kateter yang lain dihubungkan pada pengisapan yang bawah.

Pengeringan dari luka parineal dan rongga perut adalah penting karena kemungkinan infeksi dan pembentukan abses. Pengeringan copius serosa nguineous dari luka perineal adalah diharapkan penyembuhan luka perineal dapat memerlukan 6-8 bulan. Luka dapat menjadi sumber rasa tidak nyaman pada irisan abdominal dan ostomi. Dan perlu perawatan yang lebih baik dan intensif. Pasien dapat dihantui rasa sakit pada rektal karena inerfasi simpatik untuk kontrol rektal tidak diganggu. Sakit dan rasa gatal kadang-kadang bisa terjadi srtelah penyembuhan. Tidak ada penjelasan secara fisiologis untuk rasa ini. Intervensi dapat termasuk pengobatan anti puritis seperti bezocain dan sitz baths.

Perawat :

  1. Menjelaskan fisiologi dari sensasi perineal pada pasien
  2. Secara berkelanjutan menilai tanda infeksi, nanah atau komplikasi lainnya.
  3. Metode pelaksanaan menbentuk pengeringan luka dan kenyamanan

 

PENANGGULANGAN SECARA INDIVIDUAL YANG TAK EFEKTIF

RENCANA

Tujuan pasien

Tujuannya adalah bahwa pasien akan mengidentifikasi, mengembangkan dan menggunakan metode penanggulangan yang efektif dalam persetujuan dengan meluhat perubahan dan takut kehilangan pengalaman.

INTERVENSI

Pasien dan keluarganya dihadapkan dengan isu atau rumor penyakit kanker kemungkinan kehilangan fungsi tubuh dan perubahan fungsi tubuh.

Perawat mengamati dan mengidentifikasi :

  • Metode baru penanggulangan pasien dan keluarganya
  • Sumber dukungan atau semangat yang efektif digunakan pada saat setelah krsisis

PERENCANAAN PERAWATAN

Persiapan perawatan rumah

Perawat menilai semua pasien mempunyai kemampuan melakukan perawatan insisi dan aktifitas hidup sehari-hari (ADL) dalam batas-batas tertentu.

Untuk pasien yang menjalani kolostomi, perawat menimbang situasi rumah untuk membantu pasien dalam pengaturan perawatan. Jadi ostomi akan berfungsi secara tepat, pasien dan keluarga harus menjaga persediaan ostomi di daerah (kamar mandi lebih disukai) dimana temperatur tidak panas juga tidak dungin (rintangan kulit dapat menjadi keras atau meleleh dalam temperataur ekstrim).

Tidak ada perubahan yang di butuhkan dalam akomodasi tidur. Beberapa pasien pindah ke ruangan tersendiri atau ke tempat tidur kembar. Ini dapat menuntun jarak fisik dan emosionil dari suami atau istri dan yang penting lainnya. Penutup karet pada awalnya dapat di tempatkan di atas kasur tempat tidur jika pasien merasa gelisah tentang sistem kantung.

Pengajaran kesehatan

Pasien yang menjalani reseksi kolon tanpa kolostomi menerima instruksi untuk kebutuhan spesifik di berokan sama pada pasien yang menjalani bedah abdomen. Di samping informasi ini, perawat mengajar semua pasien dengan reseksi kolon untuk melihat dan manifestasi laporan klinik untuk opstruksi usus dan perforasi.

Rehabilitasi sesudah bedah ostomi mengharuskan pasien dan keluarga belajar prinsip perawatan kolostomi dan kemampuan psikomotor untuk memudahkan perawatan ini. Memberikan informasi adalah penting, tetapi perawat juga harus memberikan kesempatan yang cukup kepada pasien untuk belajar kemampuan psikomotor yang terlibat dalam perawatan ostomi sebelum pelaksanaan. Waktu latihan yang cukup direncanakan untuk pasien dan keluarga atau yang penting lainnya. Sehingga mereka dapat mengurus, memasang dan menggunakan semua perawatan ostomi. Perawat mengajar pasien dan keluarga :

    1. Tentang stoma
    2. Pengunaan, perawatan dan pelaksanaan sistem kantung
    3. Pelindung kulit
    4. Kontrol diet atau makanan
    5. Kontrol gas dan bau
    6. Potensial masalah dan solusi
    7. Tips bagaimana melanjutkan aktifitas normal, termasuk bekerja, perjalanan dan hubungan seksual.

Pasien dengan kolostomi sigmoid mungkin beruntung dari irigasi kolostomi untuk mengantur eliminasi. Perawat mendiskusikan teknik ini dengan pasien dan keluarga untuk menentukan itu dikerjakan dan dirasakan berharga. Jika metode ini di pilih, perawat mengajar pasien dan keluaraga bagaimana melakukan irigasi kolostomi. Berbagai macam alat ajar dapat di gunakan. Instruksi tertulis menolong sebab clien dapat mengambil contoh ini sebagai acuan untuk waktu yang akan datang. Reposisin sangat diperlukan dalam mengajarkan pada pasien tentang kemampuan ini. Kegelisahan, ketakutan, rasa tidak nyaman dan semua bentuk tekanan mengubah pasien dan kemampuan keluarga pasien untuk belajar dan mengumpulkan informasi.

Dalam rangka menginstruksikan pada pasien tentang manifestasi klinis dari gangguan penyumbatan dengan dibuatnya lubang. Perawat juga menyarankan pada pasien dengan kolostomi untuk melaporkan adanya demam ataupun adanya serangan sakit yang timbul mendadak atau pun rasa berdenyut/ bergelombang pada sekitar stoma.

Persiapan Psikososial

Diagnosa kanker dapat menghentikan emosional klien dan keluarga atau orang penting lainnya, tetapi pengobatan di sambut sebab itu memberikan harapan dalam mengontrol penyakit. Perawat memeriksa reaksi sakit pasien dan persepsi dari interfensi yang di rencanakan.

Reaksi pasien terhadap pembedahan ostomi,yang mana mungkin termasuk pengerusakan dan melibatkan :

  1. Perasaan sakit hati terhadap yang lain
  2. Perasaan kotor, dengan penurunan nilai rasa
  3. Takut sebagai penolakan

Perawat mengijinkan pasien untuk mengungkapkan dengan kata-kata perasaannya. Dengan mengajarkan pasien bagaimana fisiknya mengatur ostomi, perawat membantu pasien dalam memperbaiki harga diri dan meningkatkan body image, yang mana memiliki peranan penting dalam hubungan yang kokoh dengan yang lain. Pemasukan keluarga dan orang lain yang penting dalam proses rehabilitasi, juga menolong mempertahankan persahabatan dan meningkatkan harga diri pasien.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.
  2. Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
  3. Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
  4. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
  5. Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  6. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.
  7. Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.

By. Kapuk

Ca MAMMAE

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CARSINOMA MAMMAE

PENGERTIAN CARSINOMA MAMMAE

Carsinoma mammae adalah neoplasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase (Soeharto Resko Prodjo, 1995)

Selasa, 23 Februari 2010

SOFTWARE

Silahkan di Download, semoga bermanfaat...




  1. AAALogo2010v3.10
  2. Adobbe Flash CS3
  3. Adobbe Flash CS3
  4. Adobe PS CS4 Portable
  5. Dreamweaver CS4
  6. Easy GIF Animator v5.1.0.44.Full

HUMAN ATLAS

ANIMASI KEPERAWATAN

Kamis, 18 Februari 2010

BPH (BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI/PLASI)

PENGERTIAN

Benigna Prostat Hiperplasi (BPH) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).

Benigna Prostat Hiperplasi (BPH) adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Marilynn, E.D, 2000 : 671).

ETIOLOGI


Benigna Prostat Hiperplasi (BPH)
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan. Ada beberapa faktor kemungkinan penyebab antara lain :
  1. Dihydrotestosteron
    Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .

Readmore --> BENIGNA PROSTAT HIPERTROPI / HIPERPLASI (BPH)

.

Blog Archive

 

Tentang Kami

kapuk online Askep Kapuk Online | RS PKU Muhammadiyah Solo askep dan asuhan keperawatan gratis.

Bila anda mempunyai koleksi Askep, Asuhan Keperawatan, Makalah Keperawatan atau Kesehatan yang ingin di publish disini untuk di bagikan kepada teman-teman, silahkan kirim beserta identitas lengkap ke Email Kami

FRIEND

Langgan artikel Via Email

RSS Feed Langganan posting via RSS FEED

Atau kirim update terbaru dari
Blog Kapuk Online langsung
ke Inbox Email anda!: