Senin, 31 Mei 2010

STROKE (LEAFLET)

Stroke merupakan penyakit yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah ke otak.

FAKTOR PENCETUS

Faktor resiko yang dapat mengakibatkan stroke antara lain:


Readmore --> Leaflet Stroke

Kamis, 27 Mei 2010

PROSES KEPERAWATAN . V.4

Posting ini kelanjutan dari posting sebelumnya PROSES KEPERAWATAN . V.1, PROSES KEPERAWATAN . V.2, PROSES KEPERAWATAN . V.3

MENCATAT PROSES KEPERAWATAN

Secara umum, tujuan dari sistem pencatatan adalah:


Readmore  Proses Keperawatan Edisi 4

PROSES KEPERAWATAN . V.3

Posting ini kelanjutan dari posting sebelumnya PROSES KEPERAWATAN EDISI 2

Hasil Pasien yang Diperkirakan

Hasil pasien yang diperkirakan didefinisikan sebagai hasil intervensi keperawatan dan respons-respons pasien yang dapat dicapai, diinginkan oleh pasien dan/atau pemberi asuhan, dan dapat dicapai dalam peride waktu yang telah ditentukan, situasi dan sumber-sumber tertentu yang ada. Hasil yang diinginkan ini merupakan langkah yang dapat diukur mengarah pada tujuan-tujuan saat pulang yang telah ditetapkan sebelumnya.


Readmore Proses keperawatan Edisi 3

PROSES KEPERAWATAN . V.2


Posting ini kelanjutan dari posting sebelumnya Proses keperawatan Edisi 1

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik termasuk sebagai bagian dari proses pengumpulan data. Perawat harus waspada terhadap hasil pemeriksaan signifikan yang membutuhkan pelaporan pada dokter dan/atau melakukan intervensi keperawatan khusus. Beberapa pemeriksaan digunakan untuk mendiagnosa penyakit, sementara yang lainnya sangat berguna dalam mengikuti perjalanan penyakit atau penyesuaian terapi.


Readmore PROSES KEPERAWATAN EDISI 2

PROSES KEPERAWATAN . V.1


Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif, dan preventif perawatan kesehatan. Untuk sampai pada hal ini, profesi keperawatan telah mengidentifikasi proses pemecahan masalah yang “menggabungkan elemen yang paling diinginkan dari seni keperawatandengan elemen yang paling relevan dari sistem teori, dengan menggunakan metode ilmiah” (Shore, 1988)


Readmore Proses keperawatan Edisi 1

Senin, 24 Mei 2010

Kanker Tiroid

A. DEFINISI

Kanker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki 4 tipe yaitu: papiler, folikuler, anaplastik dan meduler. Kanker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan.

Jumat, 21 Mei 2010

Gesang Meninggal

Innalillahi wa inna illaihi rooji'un


Telah pulang ke Rahmatulloh, Maestro keroncong pencipta lagu "Bengawan Solo" pada Hari Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 18.10 di RS PKU Muhammadiyah Surakarta (Solo)


GESANG MARTOHARTONO

Lahir di Solo, 1 Oktober 1917


Semoga Segala Amal Kebaikan diterima Disisi-Nya & Diampuni Segala Kesalahan dan Dosanya


Amiiin

Gesang


Kenapa saya posting ini, karena aku telah beberapa kali merawat beliau di Rumah Sakit dimana aku bekerja yaitu di RS PKU Muhammadiyah Surakarta (Solo)


Kepada teman-teman blogger, aku mohon menundukkan kepala sejenak untuk mendo'akan beliau.


Terima kasih..


Kamis, 20 Mei 2010

NILAI NORMAL LABORATORIUM

Berikut aku posting tentang nilai normal hasil laboratorium.


Referensi : Unit Laboratorium RS PKU Muhammadiyah Surakarta,/p>

HASIL LABORAT LENGKAP


No
PEMERIKSAAN
ANGKA NORMAL
SATUAN
**HEMATOLOGI**
1
HEMOGLOBIN
Lk: 13,0 – 18,0  Pr: 11,5 – 16,5
gr/dl
2
LEKOSIT
4.000 – 11.000
/mm3
3
ERYTROSIT
Lk: 4,5 – 5,5  Pr: 4,0 – 5,0
/mm3
4
HEMATOKRIT
Lk: 40 – 50  Pr: 37 - 43
%
5
TROMBOSIT
150.000 – 400.000
/mm3
6
LED 1 Jam
Lk: 0 – 10  Pr: 0 - 15
mm/jam
7
WAKTU PERDARAHAN
1 - 5
menit
8
WAKTU PEMBEKUAN
2 - 6
menit
 
**HEMOGRAM**
1
EOSINOFIL
1 - 3
%
2
BASOFIL
0 - 1
%
3
STAF
2 - 5
%
4
SEGMEN
50 - 70
%
5
LYMPHOSIT
20 - 40
%
6
MONOSIT
2 - 6
%
7
RETIKULOSIT
0,1 – 1,5
%
**KIMIA DARAH**
1
SGOT
Lk: < 35  Pr: < 31
U/L
2
SGPT
Lk: < 41  Pr: < 31
U/L
3
BILLIRUBIN TOTAL
0 - 1
mg/dl
4
BILLIRUBIN DIREK
0 – 0,25
Mg/dl
5
BILLIRUBIN INDIREK
0 – 0,75
Mg/dl
6
PROTEIN TOTAL
6,2 – 8,4
gr/dl
7
ALBUMIN
3,5 – 5,5
gr/dl
8
GLOBULIN
1,3 – 3,3
gr/dl
9
UREUM
10 - 50
Mg/dl
10
KREATININ
Lk: 0,9 – 1,3  Pr: 0,6 – 1,1
Mg/dl
11
ASAM URAT
Lk: 3,6 – 8,2  Pr: 2,3 – 6,1
Mg/dl
12
TRIGLISERID
< 200
Mg/dl
13
CHOLESTEROL
= 200
Mg/dl
14
HDL
Lk: 35 – 55  Pr: 45 - 65
U/L
15
LDL
< 150
Mg/dl
16
GULA DARAH PUASA
55 - 110
Mg/dl
17
GULA DARAH 2 JAM PP
55 - 115
Mg/dl
18
GULA DARAH SEWAKTU
70 - 115
Mg/dl
19
CHOLESTEROL HDL
= 35
Mg/dl
20
CHOLESTEROL LDL
= 130
Mg/dl
21
CKMB
< 24
U/L
22
ALFA HBDH
< 182
U/L

HASIL LABORAT LENGKAP URINE



## ANALISA URINE##



*URINALISA*


1
WARNA
KUNING

2
KEKERUHAN
JERNIH

3
REDUKSI
NEGATIF

4
BILLIRUBIN
NEGATIF

  5
KETON
NEGATIF

  6
BERAT JENIS


7
PH


8
PROTEIN
NEGATIF

9
UROBILLINOGEN
E.U/dl
10
NITRIT
NEGATIF


*SEDIMEN*


1
LEKOSIT
NEGATIF
Plpb
2
ERYTROSIT
NEGATIF
Plpb
3
EPYTEL SQUAMOS
NEGATIF
Plpb

*SILINDER*


1
SILINDER BUTIR HALUS
NEGATIF
Plpb
2
SILINDER HYALIN
NEGATIF
Plpb

*KRISTAL*


1
TRIPEL PHOSPHAT
NEGATIF
Plpb
2
URIC ACID
NEGATIF
Plpb
3
CA OXALAT
NEGATIF
Plpb
4
AMORF FOSFAT
NEGATIF
Plpb

BAKTERI
NEGATIF






*ANALISA FECES*


1
KONSISTENSI


2
LENDIR


3
ERITROSIT
NEGATIF

4
LEKOSIT
NEGATIF

5
TELUR ASCARIS L
NEGATIF

6
TELOR CACING
NEGATIF


Nilai tersebut diatas referensi dari Unit Laboratorium RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dimana aku bekerja.


Mungkin hasil normal akan lain di instansi yang berlaianan tergantung dari alat pemeriksaan yang digunakan, akan tetapi tidak terpaut besar tentang pembacaan angka normalnya


Semoga yang sedikit ini ada manfaatnya



Minggu, 16 Mei 2010

Stroke Non Hemoragic

A. Definisi

Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA (Cerebro Vaskular Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67)



Readmore Askep Stroke Non Hemoragic

Senin, 10 Mei 2010

GASTRO ENTERITIS

Gastroenteritis secara klinik dibedakan 2 jenis :

  1. Gastroenteritis disentriform: disebabkan antara lain oleh sigella, salmonella, “Entamoeba hystoliticia”
  2. Gastroenteritis koleriform: disebabkan antara lain oleh vibrio, “Escherecia coli”, klostridia dan intoksikasi makanan

Kedua bentuk ini dapat menyebabkan dehidrsi. Tetapi yang terutama akan menyebabkan keadaan syock dan dehidrasi berat adalah bentuk koleriform.


Pengobatan yang optimal pada penderita ini haruslah berorientasi sepenuhnya pada patofisiologi. Hal-hal pokok yang harus diperhatikan:

  1. Atasi syock hipovolemik dengan pemberian cairan per infus, ataupun sejenisnya.
  2. Gantikan kehilangan cairan yang menyebabkan keadaan dehidrasi
  3. Replesi elektrolit untuk mencegah terjadinya lebih lanjut “salt losing syndrome”, asidosis dan hipovolemik
  4. Setelah rehidrasi, pelihara keadaan ini sampai diare berkurang atau berhenti.
  5. Berikan antibiotika untuk mengurangi volume dan lama diare.
  6. Awasi komplikasi-komplikasi yang mungkin terjadi dan waspada terhadap penyakit-penyakit lain disamping muntah berat akut.

KLASIFIKASI

  1. Berdasarkan keadaan klinik, dehidrasi dibagi menjadi 3 tingkatan:
    1. Dehidrasi ringan: kehilangan cairan 2 – 5 % dari berat badan
      Gambaran klinik: Dehidrasi, turgor kurang, suara serak (vox cholerica), penderita belum jatuh dalam keadaan syock.
    2. Dehidrasi Sedang: Kehilangan cairan 5 – 8 % dari berat badan.
      Gambaran klinik: Turgor jelek, suara serak, penderita jatuh dalam pre-syock atau syock, nadi cepat, nafas cepat dan dalam.
    3. Dehidrasi berat: Kehilangan cairan 8 – 10 % dari berat badan
      Gambaran klinik: Seperti tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah dengan kesadaran menurun (Apatis sampai koma), otot-otot menjadi kaku, sianosis.
  2. Berdasarkan berat jenis plasma: plasma mempunyai berat jenis tertentu (1.025). Pada dehidrasi, berat jenis plasma meningkat.
    Penentuan berat jenis plasma dapat dilakukan dengan larutan tembaga sulfat (Cu SO4), Dengan cara ini disebut :
    1. Dehidrasi berat bila berat jenis plasma 1.032 – 1.040
    2. Dehidrasi sedang bila berat jenis plasma 1.028 – 1.032
    3. Dehidrasi ringan bila berat jenis plasma 1.025 – 1.028
  3. Dengan mengukur CVP
    “Central Venous Pressure” (CVP) diukur di dalam atau dekat atrium dengan menggunakan kateter. Normal CVP: + 4 sampai dengan + 11 cm H2O. Dalam keadaan syock, CVP kurang dari + 4 cm H2O

PENATALAKSANAAN

Pengembalian cairan dan elektrolit yang hilang (rehidrasi)


Cairan yang dapat diberikan adalah: Ringer laktat dan larutan NaCl 0,9% : Natrium bikarbonat = 2 : 1 (dengan tambahan KCL 3 x 1 gram per-oral)


Setelah diagnosis ditegakkan, maka rehidrasi dapat dilakukan menurut penilaian keadaan dehidrasi. Penilaian secara klinik dapat dilakukan dengan sistem skor, yaitu sebagai berikut:


No

PEMERIKSAAN

SKOR

1

Muntah

1

2

Vox

2

3

Apatis

1

4

Somnolent (Soporous)

2

5

Tekanan darah < 90 mmHg

1

6

Tekanan darah < 60 mmHg/tak teratur

2

7

Nadi = 120 x/menit

1

8

Nafas = 30 x/menit

1

9

Turgor kurang

1

10

Facies cholerica

2

11

Ekstremitas dingin

1

12

“Washer woman’s hand”

1

13

Cyanosis

2

14

Umur antara 50 – 60 tahun

- 1

15

Umur > 60 tahun

- 2


Pada keadaan syock atau pre-syock, cairan diberikan dengan memakai rumus:

skor/15 x berat badan x 10% x 1 liter.
Gastro Enteritis

Jumlah cairan ini diberikan dalam waktu 2 jam, kemudian diikuti dengan pemberian sebanyak pengeluaran selama 2 jam sebelumnya. Bila setelah 3 jam syock telah diatasi, berikan larutan elektrolit per-oral. Bila masih dalam keadaan syock atau pre-syock, maka skema diatas diulang.


Jika skor kurang dari 3, maka hanya diberikan secara per-oral (sebanyak mungkin sedikit demi sedikit). Sebaiknya infus dipertahankan bila volume tinja lebih dari 600 ml/jam dan boleh dihentikan bila dalam 6 jam tak ada berak dan muntah lagi. Penderita harus ditempatkan pada “cholera cot”


Bila tak ada syock, langsung diberikan cairan peroral. Jika kemudian timbul syock atau pre-syock, berikan infus sesuai penilaian.

PEMBERIAN CAIRAN PER-ORAL

  1. Jenis cairan yang diberikan adalah:
    1. Menurut WHO – Manila: 4 g NaCl, 2 g NaHCO3  , 20 g Glukosa dan 1½ g Na citrat dalam 1 liter air
    2. Rumus Namru – 2: 7g NaCl, 2½ g NaHCO3 , 3½ g K citrat dan 20 g Glukosa dalam 1 liter air
    3. Cairan 5 : 4 : 1 yang terdiri dari 5 g NaCl, 4 g NaHCO3, dan 1 g KCL dalam 1 liter air.
    4. Garam diare/elektrolit
  2. Cairan ini diberikan per-oral diminum seperti biasa. Bila penderita tidak bisa meminumnya secara biasa, dipasang “”Nasogastric Tube (NGT)”
  3. Jumlah cairan yang diberikan dalam 3 jam pertama 1800 cc yaitu 600 cc cairan perjam. Perhitungan pemberian cairan setelah 3 jam tersebut adalah 100 cc cairan per-oral setiap jam ditambah sejumlah cairan per-oral sesuai dengan pengeluaran tinja setiap jam sebelumnya.
  4. Terapi tidak lagi diberikan bila pengeluaran tinja kurang dari 300 cc dalam 6 jam terakhir. Diit bubur saring diganti bubur kasar. Bila penyebabnya adalah virio, maka setelah rehidrasi tercapai dapat langsung makan seperti sebelum sakit. Bila dipakai penilaian dengan berat jenis plasma, maka secara empirik berlaku rumus:

    Jumlah cairan dibutuhkan = (BJ Plasma sekarang dikurangi BJ Plasma normal) hasilnya dibagi 0,001 kemudian dikalikan Berat Badan lalu dikalikan 4 cc

Bila CVP dipakai sebagai tolok ukur, maka cairan dapat langsung diberikan per-infus dan peningkatannya dapat diamati hingga tercapai nilai CVP normal.

MEDIKAMENTOSA

  1. Tetrasiklin 4 x 500 mg selama 3 hari. Dapat juga diberikan kloramfenikol dengan dosis yang sama
  2. Bila diberi infus lebih dari 6 jam berturut-turut, diberikan KCL 1 gram tiap 6 jam, KCL dihentikan bila penderita diberi elektrolit per-oral.

DAFTAR PUSTAKA

Purnawan Junadi, Atiek S Sumasto, Husna Amelz; 1982, "Kapita Selekta Kedokteran", Edisi ke-2, Media Aesculapius, Jakarta


Sabtu, 01 Mei 2010

TONSILITIS

A. DEFINISI

Tonsilitis akut adalah peradangan pada tonsil yang masih bersifat ringan. Radang tonsil pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis. ( Ngastiyah,1997 )

Blog Archive

 

Tentang Kami

kapuk online Askep Kapuk Online | RS PKU Muhammadiyah Solo askep dan asuhan keperawatan gratis.

Bila anda mempunyai koleksi Askep, Asuhan Keperawatan, Makalah Keperawatan atau Kesehatan yang ingin di publish disini untuk di bagikan kepada teman-teman, silahkan kirim beserta identitas lengkap ke Email Kami

FRIEND

Langgan artikel Via Email

RSS Feed Langganan posting via RSS FEED

Atau kirim update terbaru dari
Blog Kapuk Online langsung
ke Inbox Email anda!: