Rabu, 28 Juli 2010

SOP ALIH BARING

Download Askep Kapuk Online Update Standar Operasional Prosedur (SOP) Keperawatan ALIH BARING persiapan OSCA Jateng (Jawa Tengah)


 

ALIH BARING

 

 

 

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR

 

 

PENGERTIAN

Melakukan tindakan alih baring pada pasien immobile untuk mencegah komplikasi akibat immobilisasi

TUJUAN

  1. Mencegah kerusakan integritas kulit
  2. Memperbaiki sirkulasi dan perfusi

KEBIJAKAN

Pada pasien dengan gangguan immobilisasi

PETUGAS

Perawat

PERALATAN

Bantal atau guling

PROSEDUR
PELAKSANAAN

 

  1. Tahap Pra Interaksi
    1. Melakukan verifikasi program pengobatan klien
    2. Mencuci tangan
    3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
  2. Tahap Orientasi
    1. Memberikan salam sebagai pendekatan therapeutic
    2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga
    3. Menanyakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
  3. Tahap Kerja
    1. Menjaga privacy pasien
    2. Merubah posisi dari terlentang ke miring:
    3. Menata beberapa bantal disebelah klien
    4. Memiringkan klien kearah bantal yang disiapkan
    5. Menekuk lutut kaki yang atas
    6. Memastikan posisi klien aman
    7. Merubah posisi dari miring ke terlentang:
    8. Menata beberapa bantal di sebelah klien
    9. Menelentangkan klien kearah bantal yang disiapkan
    10. Meluruskan kedua lutut
    11. Memastikan posisi klien aman
    12. Merapikan pasien
  4. Tahap Terminasi
    1. Mengevaluasi hasil tindakan
    2. Berpamitan dengan pasien/keluarga
    3. Menginformasikan akan dating 2 jam lagi untuk merubah posisi selanjutnya
    4. Mencuci tangan
    5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan


PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI ASPEK KETRAMPILAN
ALIH BARING



No

ASPEK YANG DINILAI

BOBOT

NILAI

0

1

2

A

ALAT

 

 

 

 

 

Bantal atau guling

2

 

 

 

B

Tahap Pra Interaksi

 

 

 

 

1

Melakukan verifikasi program pengobatan klien

2

 

 

 

2

Mencuci tangan

1

 

 

 

3

Menempatkan alat didekat pasien dengan benar

1

 

 

 

C

Tahap Orientasi

 

 

 

 

1

Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik

1

 

 

 

2

Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien/keluarga

2

 

 

 

3

Menayakan persetujuan dan kesiapan klien sebelum tindakan dilakukan

1

 

 

 

D

Tahap Kerja

 

 

 

 

1

Menjaga privacy pasien

2

 

 

 

 

Merubah posisi dari terlentang ke miring:

 

 

 

 

2

Menata beberapa bantal disebelah klien

4

 

 

 

3

Memiringkan klien kearah bantal yang disiapkan

4

 

 

 

4

Menekuk lutut kaki yang atas

4

 

 

 

5

Memastikan posisi klien aman

4

 

 

 

 

Merubah posisi dari miring ke terlentang:

 

 

 

 

6

Menata beberapa bantal di sebelah klien

4

 

 

 

7

Menelentangkan klien kearah bantal yang disiapkan

4

 

 

 

8

Meluruskan kedua lutut

4

 

 

 

9

Memastikan posisi klien aman

4

 

 

 

10

Merapikan pasien

1

 

 

 

E

Tahap Terminasi

 

 

 

 

1

Mengevaluasi hasil tindakan

1

 

 

 

2

Berpamitan dengan pasien

1

 

 

 

3

Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula

1

 

 

 

4

Mencuci tangan

1

 

 

 

5

Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

1

 

 

 

 

TOTAL

50

 

 

 



Jumat, 16 Juli 2010

Kelahiran Anak Kami yang ke-2

Alhamdulillahirobbil’aalamiin


Telah lahir anak kami yang ke-2 berjenis kelamin laki-laki pada tanggal 15 Juli 2010 tepat pada pukul 15.30 dengan Berat 3.300 gr dan panjang badan 51 cm




Dzacky Randu Kalimasada


Mohon do’a restunya dari teman-teman blogger, semoga menjadi anak yang sholeh; berbhakti kepada kedua orang tua, agama dan negara


Amiin


Kamis, 15 Juli 2010

KONSEP DASAR ASKEP OSTEOMALASIA

Askep Kapuk Online update KONSEP DASAR ASKEP OSTEOMALASIA dan Posting ini kelanjutan dari posting saya sebelumnya tentang KONSEP DASAR TEORI ASKEP OSTEOMALASIA

Rabu, 14 Juli 2010

KONSEP DASAR TEORI ASKEP OSTEOMALASIA

Askep Kapuk Online update KONSEP DASAR TEORI OSTEOMALASIA


Pengertian


Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak memadainya mineralisasi tulang. Pada orang dewasa osteomalasia bersifat kronis dan deformitasnya skeletalnya tidak seberat pada anak-anak karena pertumbuhan skeletalnya telah selesai.

Osteomalasia


Osteomalasia ialah perubahan patologik berupa hilangnya mineralisasi tulang yang disebabkan berkurangnya kadar kalsium fosfat sampai tingkat di bawah kadar yang diperlukan untuk mineralisasi matriks tulang normal, hasil akhirnya ialah rasio antara mineral tulang dengan matriks tulang berkurang.


Etiologi


Diperkirakan bahwa defek primernya adalah kekurangan vitamin D aktif (kalsitrol), sebagai akibat kegagalan mineralisasi terjadilah perlunakan dan perlemahan kerangka tubuh, menyebabkan nyeri, nyeri tekan skelet,dan perlengkungan tulang sertakarena fraktur patologi.


Penyebab utama osteomalasia yang terjadi setelah masa anak-anak ialah :


  1. Menurunnya penyerapan vitamin D akibat penyakit bilier, penyakit mukosa usus halus proksimal dan penyakit ileum.
  2. Peningkatan katabolisme vitamin D akibat obat yang menyebabkan peningkatan kerja enzim-enzim oksidase hati.
  3. Gangguan tubulus renalis yang disertai terbuangnya fosfat

Patofisiologi


Ada berbagai kasus osteomalasia yang terjadi akibat gangguan umum metabolism mineral. Faktor risiko terjadimya osteomalasia meliputi kekurangan dalam diet, malabsobsi, gastrektomi, gagal ginjal kronik, terafi antikonvulsan berkepanjangan (fenitoin, fenobarbital), dan kekurangan vitamin D.


Tipe malnutrisi ( kekurangan asupan vitamin D sering berhubungan dengan asupan kalsium jelek) terutama akibat kemiskinan, tapi memakan makanan dan kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi juga merupakan salah satu faktor. Selain itu juga akibat kurangnya terpajang sinar matahari.


Oateomalasia dapat pula terjadi sebagai akibat kegagalan absobsi kalsium atau kehilangan kalsium berlebihan dari tubuh. Kelainan gastrointestinal dimana absorbsi lemak tidak memadai sering menimbulkan osteomalasia melalui kehilangan vitamin D ( bersama dengan vitamin yang larut lemak lainnya) dan kalsium, kalsium disekresi melalui feces dalam kombinasi dengan asam lemak. Kelainan ini meliputi penyakit seliak, obstruksi traktus biliaris kronik, pankreatitis kronik dan reseksi usus halus.


Gagal ginjal berat mengakibatkan asidosis, kalsium yang tersedia dipergunakan menetralkan asidosis, dan hormon paratiroid terus menyebabkan pelepasan kalsium dari kalsium skelet sebagai usaha untuk mengembalikan pH fisiologis. Selama pelepasan kalsium skelet terus-menerus ini, terjadi fibrosis tulang dan kista tulang. Glumerulonefritis kronik, uropati obstruksi dan keracunan logam berat mengakibatkan berkurangnya kadar fosfat serum dan demeneralisasi tulang.


Penyakit hati dan ginjal pun dapat mengakibatkan kekurangan vitamin D karena keduanya merupakan organ yang melakukan konversi vitamin D kebentuk aktif. Akhirnya hiperparatiroidisme mengakibatkan deklasifikasi skelet dan artinya osteomalasia dengan peningkatan ekskresi fosfat dalam urine.


Manifestasi klinik


Osteomalasia 2

Gejala yang paling sering dan paling mencemaskan pada osteomalasia adalah nyeri tulang dan nyeri tekan tulang. Sebagai kekurangan kalsium biasanya terjadi kelemahan otot. Pasien akan mengalami cara jalan bebek atau pincang. Pada penyakit yang telah lanjut tungkai jadi melengkung karena tarikan otot dan berat tubuh. Vertebra yang melunak mengalami konpresi sehingga mengalami pemendekan tinggi badan dan merusak bentuk thorax ( kifosis).


Sakrum terdorong ke bawah dan ke depan sedangkan pelvis tertekan kelateral. Kedua deformitas tersebut menerangkan bentuk khas pelvis yang sering mengakibatkan perlunya dilakukan seksio seraria pada wanita hamil yang terkena penyakit ini. Kelemahan dan ketidak seimbangan mengakibatkan resiko jatuh dan fraktur.


Pemeriksaan penunjang


Osteomalasia 3 Pada foto X-ray jelas terlihat demineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan vertebra memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang jelas.


Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium memperlihatkan kadar kalsium fosfor yang rendah dan peningkatan moderat kadar alkali fosfatase. Kalsium urine dan ekskresi kreatinin rendah.


Sementara pada biopsi tulang menunjukkan peningkatan jumlah osteoid.


Penatalaksanaan


Berikut penanganan yang biasanya dilakukan pada penderita osteomalasia berdasarkan penyebabnya:


  1. Jika kekurangan kalsium.
    Jalan satu-satunya memperbanyak konsumsi unsur kalsium sehingga memperkuat kerja sel osteoblas (pembentuk tulang). Oleh sebab itu, makanan seperti sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan teri, daging, yogurt, sangatlah disarankan. Suplemen kalsium dapat ditambahkan baik yang berbentuk sirup atau tablet dengan konsumsi 1,5 gram per hari. Kekurangan kalsium juga menyebabkan mudah mengalami kram pada otot tangan dan kaki serta terganggunya tekanan darah.
  2. Jika kekurangan vitamin D.
    Perbanyak mengonsumsi makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Bisa juga dengan sering berjemur di bawah sinar matahari karena akan membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh. Waktu yang tepat untuk berjemur sekitar pukul 7 - 9 pagi dan sore pada pukul 16 ­-17. Berjemur di luar waktu tersebut justru berbahaya karena matahari banyak mengeluarkan sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker kulit dan katarak.
  3. Jika karena gangguan ginjal atau hati
    Langkah pertama adalah menyembuhkan dulu gangguan/penyakit tersebut. Biasanya terapi yang dilakukan lebih lama karena gangguan ginjal maupun hati mengganggu metabolisme penyerapan kalsium.
  4. Jika karena pengaruh atau efek samping dari obat-obatan seperti steroid Maka konsumsi obat itu harus segera dikurangi atau kalau bisa diganti dengan obat yang bisa menyerap kalsium.
  5. Jika sudah telanjur mengalami patah tulang.
    Mau tak mau harus dilakukan tindakan seperti gips untuk patah tulang di bagian lengan. Kalau patah tulang di bagian tungkai atau tulang paha dilakukan dengan biopsi. Berbeda patah tulang pada anak-anak relatif mudah tersambung kembali, yakni sekitar tiga bulanan. Tindakan selanjutnya upaya rehabilitasi atau fisioterapi untuk melatih kemampuan atau keterampilan gerak. Misalnya, melatih keseimbangan duduk, berdiri, dan berjalan.

Posting ini berlanjut tentang KONSEP DASAR ASKEP OSTEOMALASIA


Senin, 12 Juli 2010

Kegawat Daruratan (EMERGENCY)

Askep Kapuk Online update KEGAWAT DARURATAN (EMERGENCY)


Posting kali ini merupakan review untuk persiapan pelatihanku ke Gombong, Kebumen, Jawa Tengah sebagai salah satu anggota MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center)

Gawat :

Kegawat Daruratan MDMC

Suatu kondisi dimana korban harus segera ditolong apabila tidak segera di tolong akan mengalami kecacatan atau kematian.


Ex : gangguan pernafasan, gangguan sirkulasi, perdarahan hebat.

Darurat :

Suatu kondisi dimana korban harus segera di tolong tapi penundaan pertolongan tidak akan menyebabkan kematian / kecacatan.


Ex : Luka, Ca mamae, BPH, Fraktur tertutup

Gawat darurat medik :

Peristiwa yang menimpa seseorang dengan tiba-tiba yang dapat membahayakan jiwa, sehingga memerlukan tindakan medik dengan segera dan tepat.

Bencana :

Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam dan atau manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan prasarana umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat dan pembanguan nasional yang memerlukan bantuan dan pertolongan

Bencana masal :

Kejadian mendadak yang tidak diduga serta menimbulkan kerugian harta benda dan nyawa manusia lebih dari 10-25 orang


Bencana masal terjadi karena sebab-sebab:

  1. Alamiah : kebakaran, gempa bumi
  2. Kelalaian manusia : kecelakaan KA, pesawat terbang, kapal laut.
  3. Direncanakan : ledakan bom oleh teroris

Bencana dibagi dalam 4 tingkatan :

  1. Tingkat I   : Korban < 50 orang
  2. Tingkat II  : Korban 51 - 100 orang
  3. Tingkat III : Korban 101 - 300 orang
  4. Tingkat IV  : Korban >300 orang

Triage:


Suatu sistem seleksi penderita yang menjamin supaya tidak ada penderita yang tidak mendapat perawatan


Klasifikasi korban menurut perlukaan yang diderita :


  1. Golongan I (Label Hijau) :
    Penderita tidak luka / menderita gangguan jiwa sehingga tidak memerlukan tindakan bedah.

  2. Golongan II (Label Kuning) :
    Penderita dengan luka ringan dan memerlukan tindakan bedah minor.

  3. Golongan III (Label Merah) :
    Penderita keadaan luka berat / syok.

  4. Golongan IV (Label Putih) :
    Penderita dengan luka berat tetapi sulit ditolong

  5. Golongan V (Label Hitam) :
    Penderita meninggal dunia


Sistem pelayanan gadar menitik beratkan pada dua sasaran :

  1. Peningkatan kemampuan pelayanan gadar melalui kategori unit gadar RS
  2. Peningkatan fungsi infrastruktur meliputi:
    1. Bidang Management :
      1. Penetapan peraturan, standart pelayanan, pedoman PPGD.
      2. Peningkatan kemampuan perencanaan upaya PPGD
      3. Peningkatan kemampuan pengorganisasian PPGD.
    2. Pengembangan bidang sistem informasi.
      1. Peningkatan dan pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan serta analisa data pasien gadar

Tujuan PPGD :

  1. Mencegah kematian dan kecacatan
  2. Merujuk pasien gawat darurat (Gadar) untuk mendapatkan penanganan yang memadai
  3. Menanggulangi korban bencana

Keberhasilan PPGD ditentukan oleh:

  1. Kecepatan menemukan pasien gawat darurat (Gadar)
  2. Kecepatan meminta pertolongan
  3. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan
    1. Ditempat kejadian
    2. Perjalan ke RS
    3. Pertolongan selanjutnya di Puskesmas/RS

Berhasil atau tidaknya pertolongan yang diberikan dibagian gadar tergantung :

  1. Keadaan pasien saat tiba dibagian gadar
  2. Keadaan gedung
  3. Kualitas, jumlah peralatan, dan obat-obatan
  4. Kemampuan dan ketrampilan petugas.

Prosedur pelayanan gadar meliputi rangkaian :

  1. Fase pra RS : ditolong oleh
    1. Orang awam
    2. Polisi, SAR, Hansip, DPK
    3. Ambulance 118
  2. Fase RS, pertolongan di
    1. IGD
    2. ICU
    3. Ruang rawat
  3. Fase post RS :
    1. Sembuh
    2. Sembuh cacat
    3. Meninggal dunia

Problem dalam PGD

  1. Fase pra RS
    1. Komonikasi
    2. Pendidikan
    3. Transportasi
      1. Dari tempat kejadian sampai RS diangkut dengan berbagai kendaraan, sebagian kecil menggunakan ambulance.
      2. Syarat alat transportasi :
        1. Kendaraan (perahu, gerobak,helikopter)
          1. Prinsip : pasien dapat telentang, luas, cukup tinggi, komunikasi sentral dengan RS, identitas jelas
        2. Alat medis :
          1. Resusitasi (Ambubag)
          2. Laringoskopi, ET
          3. Guidel/mayo
          4. O2 transport
          5. Suction, balut, bidai, infus, matras, EKG dll.
        3. Personal
          1. Perawat yang bisa mengemudi
          2. Perawat CCN ( asrama )
      3. Syarat transpotasi penderita
        1. Gangguan pernafasan dan cardiovaskuler telah tertanggulangi
        2. Perdarahan dihentikan
        3. Luka ditutup
        4. Patah tulang telah di fiksasi

          Selama transportasi di monitor : Vital Sign, kesadaran, daerah perlukaan

  2. Fase RS
    1. Puskesmas
    2. Bagian gadar
    3. Penggolongan korban bencana

Disaster plan (Perencanaan Musibah)

  1. RS daerah atau kota dapat memanfaatkan tenaga dan fasilitas yang ada secara efisien.
  2. Problem disaster plan:
    1. Bencana datang secara tiba-tiba
    2. Jumlah korban lebih banyak dari pada petugas
  3. Faktor penghambat disaster plan :
    1. Anggapan bahwa bencana tidak akan terjadi disini
    2. Semoga tidak terjadi disini

Bantuan hidup Dasar / Basic Life Support


Tujuan BLS :

  1. Mencegah henti nafas dan henti jantung
  2. Membantu pernafasan dan atau sirkulasi dengan cara resusitasi jantung dan paru dengan langkah A.B.C

Indikasi :

  1. Henti nafas
    1. Penyebab : tenggelam, stroke, sumbatan benda asing, inhalasi asap, keracunan obat, syock listrik, tercekik, trauma, AMI, tersambar petir, coma.
  2. Henti jantung

Langkah- langkah BLS/BHD


A. Air Way Control (bebaskan jalan nafas)

  1. Posisi telentang
  2. Permukaan rata
  3. Buka jalan nafas dengan ekstensi kepala dengan mengangkat dagu (head tilt, chine lift manuver), kalau perlu mengangkat mandibula (jaw trust manuver) dan ketiganya dikenal dengan triple air way manuver.
  4. Bila ada muntahan bisa dibersihkan dengan cara manual.

B. Breathing Support ( bantuan nafas )

  1. Menilai ada nafas/ tidak dengan cara : melihat, mendengar, dan merasakan.
  2. Bila bernafas dan tidak sadar posisikan penderita stabil lateral dan pelihara jalan nafas
  3. Bila tidak bernafas dan tidak sadar : mulai pernafasan buatan dengan meniup 2 kali secara lambat
  4. Bila nadi ada, lanjutan pernafasan buatan 10-12 x/ mnt tanpa kompresi dada

Tindakan pada sumbatan jalan nafas :

  1. Manuver helmich (hentakan pada perut)
  2. Chest thrusts (hentakan dada): penderita gemuk, hamil, bayi < 1 thn
  3. Penyapuan dengan jari : hanya pada penderita tidak sadar

C. Circulation Support (bantuan sirkulasi )

  1. Nilai adanya nadi besar, bila teraba lanjutkan nafas buatan 10 - 12 kali per menit kalau perlu , jika nadi tidak teraba lakukan kompresi jantung luar
  2. Kompresi pada bayi dan anak : 100x/mnt, lokasi 1/3 bawah sternum (1 jari dibawah garis antara kedua putting susu) dengan perbandingan 5:1
    1. Neonatus: 2 jari (kedua jempol atau telujuk dan tangah dengan perbandingan 3:1 atau 5:1
    2. RJP dg 1 penolong: perbandingan 15: 2
    3. RJP dg 2 penolong , perbandingan 15 : 1

Jumat, 09 Juli 2010

PROSES KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

Posting PROSES KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI ini kelanjutan dari ASKEP KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI


PROSES KEPERAWATAN


A. Pengkajian


  1. Faktor predisposisi
    1. Faktor yang mempengaruhi harga diri, termasuk penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik
    2. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran, yaitu peran yang sesuai dengan jenis kelamin, peran dalam pekerjaan dan peran yang sesuai dengan kebudayaa
    3. Faktor yang mempengaruhi identitas diri, yaitu orang tua yang tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya dan kultur social yang berubah
  2. Faktor Presipitasi
    1. Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar individu ( internal or eksternal sources ), yang dibagi 5 ( lima ) kategori :
      1. Ketegangan peran, adalah stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami individu dalam peran atau posisi yang diharapkan seperti konsep berikut ini :
      2. Konflik peran : ketidaksesuaian peran antar yang dijalankan dengan yang diinginkan
      3. Peran yang tidak jelas: kurangnya pengetahuan individu tentang peran yang dilakukannya
      4. Peran berlebihan : kurang sumber yang adekuat untuk menampilkan seperangkat peran yang kompleks
      5. Perkembangan transisi, yaitu perubahan norma yang berkaitan dengan nilai untuk menyesuaikan diri
    2. Situasi transisi peran, adalah bertambah atau berkurangnya orang penting dalam kehidupan individu melalui kelahiran atau kematian orang yang berarti
    3. Transisi peran sehat – sakit, yaitu peran yang diakibatkan oleh keadaan sehat atau keadaan sakit. Transisi ini dapat disebabkan :
      1. Kehilangan bagian tubuh
      2. Perubahan ukuran dan bentuk, penampilan atau fungsi tubuh
      3. Perubahan fisik yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan
      4. Prosedur pengobatan dan perawata
    4. Ancaman fisik seperti pemakaian oksigen, kelelahan, ketidakseimbangan bio – kimia, gangguan penggunaan obat, alkoholdan zat.
  3. Perilaku
    Data yang dikumpulkan oleh seorang perawat, hendaknya data perilaku yang obyektif dan dapat diamati. Perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendaha ( Stuart dan Sundeen, 1995 ) yaitu identitas kacau dan depersonalisasi dapat dilihat pada tabel berikut.
    Perilaku dengan harga diri yang rendah
    1. Mengkritik diri sendiri atau orang lain
    2. Produktifitas menurun
    3. Destruktif pada orang lain
    4. Gangguan berhubungan
    5. Merasa diri lebih penting
    6. Merasa tidak layak
    7. Rasa bersalah
    8. Mudah marah dan tersinggung
    9. Perasaan negative terhadap diri sendiri
    1. Pandangan hidup yang pesimis
    2. Keluhan – keluhan fisik
    3. Pandangan hidup terpolarisasi
    4. Mengingkari kemampuan diri sendiri
    5. Mengejek diri sendiri
    6. Mencederai diri sendiri
    7. Isolasi social
    8. Penyalahgunaan zat
    9. Menarik diri dari realitas
    10. Khawatir
    11. Ketegangan peran

    Perilaku dengan Identitas kacau
    1. Tidak mengindahkan moral
    2. Mengurangi hubungan interpersonal
    3. Perasaan kosong
    4. Perasaan yang berubah – ubah
    5. Kekacauan identitas seksual
    6. Kecemasan yang tinggi
    1. Tidak mampu berempati
    2. Kurang keyakinan diri
    3. Mencintai diri sendiri
    4. Masalah hubungan intim
    5. Ideal diri tidak realistik

    Perilaku dengan Depersonalisasi

    Afek

    1. Identitas hilang
    2. Asing dengan diri sendiri
    3. Perasaan tidak aman, rendah diri, takut, malu
    4. Perasaan tidak realistic
    5. Merasa sangat terisolasi

    Persepsi

    1. Halusinasi pendengaran dan penglihatan
    2. Tidak yakin akan jenis kelaminnya
    3. Sukar membedakan diri dengan orang lain

    Kognitif

    1. Kacau
    2. Disorientasi waktu
    3. Penyimpangan pikiran
    4. Daya ingat terganggu
    5. Daya penilaian terganggu

    Perilaku

    1. Afek tumpul
    2. Pasif dan tidak ada respon emosi
    3. Komunikasi tidak selaras
    4. Tidak dapat mengontrol perasaan
    5. Tidak ada inisiatif dan tidak mampu mengambil keputusan
    6. Menarik diri dari lingkungan
    7. Kurang bersemangat

  4. Mekanisme Koping

    Jangka Pendek

    Jangka Panjang

    1. Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis : pemakaian obat – obatan, kerja keras, nonton TV terus menerus

    1. Menutup Identitas :

    Terlalu cepat mengadopsi identitas yang disenangi daro orang – orang yang berarti, tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri

    2. Kegiatan mengganti identitas sementara :

    (ikut kelompok social, keagamaan, politik )

    2. Identitas Negatif :

    Asumsi yang bertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat

    3. Kegiatan yang memberi dukungan sementara : ( kompetisi olah raga kontes popularitas )

     

    4. Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara : (penyalahgunaan obat – obat)

     

    Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah : fantasi, disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri daan orang lain

B. Masalah Keperawatan


ASKEP KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI Masalah gangguan konsep diri berhubungan dengan rasa bersalah sering menimbulkan kekacauan dan mengakibatkan respon koping yang maladaptive. Respon ini dapat dilihat bervariasi pada berbagai individu, yang mengalami ancaman integritas diri atau harga diri. Masalah keperawatan dan contoh diagnosa keperawatan lengkap yang berkaitan dengan gangguan konsep diri, lihat tabel berikut ini.


Masalah keperawatan yang berhubungan dengan konsep diri


Masalah keperawatan uatama

Contoh diagnosa keperawatan yang lengkap

1. Gangguan gambaran diri

  1. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan harga diri rendah
  2. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan defisit perawatan diri

2. Gangguan identitas diri

  1. Gangguan identitas diri berhubungan dengan perubahan penampilan peran
  2. Gangguan identitas berhubungan dengan keracunan obat yang dimanifestasika dengan control impuls yang kacau dan hilang

3. Gangguan penampilan peran

  • Gangguan penampilan peran berhubungan dengan harga diri rendah
  • 4. Gangguan harga diri

    1. Harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri yang tidak realistik
    2. Harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri terlalu tinggi

    C. Perencanaan Tindakan Keperawatan


    1. Tujuan Umum
      Meningkatkan aktualisasi diri klien : dengan membantu menumbuhkan, mengembangkan, menyadari potensi sambil mencari kompensasi ketidakmampuan
    2. Tujuan Khusus
      Klien dapat mengenal dukungan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan massalaha yang berhubungan dengan konsep diri daan membantu klien agar lebih mengerti akan dirinya secara tepat
    3. Tindakan Keperawatan
      Tindakan keperawatan membantu klien mengidentifikasikan penilaian tentang situasi dan perasaan yang terkait, guna meningkatkan penilaian diri dan kemudian melakukan perubahan perilaku. Pendekatan penyelesaian masalah ini memerlukan tindakan yang bertahap sebagai berikut :
      1. Memperluas kesadaran diri; Tahap memperluas kesadaran diri

        Prinsip

        Rasional

        Tindakan

        Membina hubungan saling percaya

        Sikap perawat yang terbuka dapat mengurangi perasaan terancam dan membantu klien menerima semua aspek dirinya

        1. Menerima klien apa adanya
        2. Dengarkan klien
        3. Dorong klien mendiskusikan pikiran dan perasaannya
        4. Respon yang tidak mengadili
        5. Katakan bahwa klien adalah individu yang berharga, bertanggung jawab dan dapat menolong diri sendiri

        Bekerja dengan kemampuan yang dimiliki klien

        Tingkat kemampuan menilai realitas dan control diri diperlukan sebagai landasan asuhan keperawatan

        1. Identitas kemampuan klien
        2. Arahkan klien sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
        3. Meyakinkan identitas klien
        4. Beri dukungan untuk menurunkan panic
        5. Pendekatan tanpa menuntut
        6. Menerima dan mengklarifikasikan komunikasi verbal dan non verbal
        7. Cegah klien mengisolasi diri
        8. Ciptakan kegiatan rutin ( ADL )
        9. Buat batasan perilaku yang tidak pantas
        10. Orientasikan klien ke dunia yang nyata
        11. Beri pujian pada perilaku yang tepat
        12. Tingkatkan kegiatan dan tugas secara bertahap untuk menimbulkan pengalaman positif
      2. Menyelidiki diri; Membantu klien menyelidiki diri

        Prinsip

        Rasional

        Tindakan

        Bantu klien menerima perasaan dan pikirannya

        Dengan menunjukkan sikap menerima perasaan dan pikiran klien, maka klien akan melakukan hal yang sama

        1. Motivasi klien mengekspresikan emosi, keyakinan perilaku dan pikirannya
        2. Gunakan komunikasi terapeutik dan empati
        3. Catat pikiran yang logis, observasi respon emosi

        Menolong klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan orang lain secara terbuka

        Keterbukaan persepsi diri adalah awal untuk merubah suasana sepi dan dapat mengurangi ansietas

        1. Tumbuhkan persepsi klien terhadap kekuatan dan kelemahannya
        2. Bantu klien menurunkan self idealnya
        3. Bantu klien menjelaskan hubungannya dengan orang lain

        Menyadari dan mengontrol perasaan perawat

        Kesadaran diri akan membantu penampilan model perilaku dan membatasi efek negative dalam berhubungan dengan orang lain

        1. Sadari perasaan sendiri baik perasaan negative dan positif dalam berhubungan

        Empati pada klien, tekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada klien

        Rasa empati dapat menguatkan pandangan klien memahami perasaan orang lain

        1. Gunakan respon empati dan observasi apakah perasaan perawat simpati atau empati
        2. Jelaskan bahwa klien berguna dalam memecahkan masalahnya
        3. Libatkan keluarga dan kelompok menyelidiki diri klien
        4. Bantu klien mengenal konflik dan koping maladaptive
      3. Mengevaluasi diri; Mambantu klien mengevaluasi diri

        Prinsip

        Rasional

        Tindakan

        Membantu klien mengidentifikasi masalahnya secara jelas

        Setelah mengetahui masalah dengan jelas alternative pemecahan dapat dibuat klien

        1. bersama klien identifikasi stressor dan bagaimana penilaiannya
        2. Jelaskan bahwa keyakinan klien mempengaruhi perasaan dan perilakunya

        Kaji respon koping adaptif dan maladaptif klien terhadap masalah yang dihadapi

        Dengan mengetahui koping yang dipilih klien dapat mengevaluasi konsekwensi positif dan negatif

        1. Bersama klien mengidentifikasi
        2. Keyakinan, ilusi, tujuan yang tidak realistic
        3. Identifikasi kekuatan klien
        4. Tunjukkan konsep sukses dan gagal dalam persepsi yang cocok
        5. Teliti sumber koping yang digunakan klien
        6. Uraikan pada klein bahwa respon koping dapat dipilih dengan bebas dan mempunyai dampak positif maupun negative
        7. Bersama klien mengidentifikasi respon koping yang maladaptif
        8. Komunikasi yang memfasilitasi konfrontasi yang mendukung
        9. Kalrifikasi peran
      4. Membuat perencanaan yang realistik; Membantu klien membuat rencana yang realistik

        Prinsip

        Rasional

        Tindakan

        Bantu klien mengidentifikasi pemecahan masalah

        Jika semua alternative sudah dievaluasi, perubahan menjadi efektif

        1. Jelaskan bahwa yang dapat merubah dirinya adalah klien bukan orang lain
        2. Bantu keyakinan dan ide klien ke dalam kenyataan
        3. Gunakan lingkungan membantu keyakinan klien jadi konsisten

        Bantu klien mengkonsep tujuan yang realistik

        Dengan tujuan yang jelas dapat merubah harapan yang diinginkan

        1. Bantu klien merumuskan tujuan
        2. Bantu klien untuk menetapkan perubahan yang diinginkan
        3. Anjurkan klien menggunakan pengalaman baru untuk mengembangkan potensinya
        4. Gunakan role model, role play, visualisasi dan redemonstrasi yang sesuai
      5. Bertanggung jawab dalam bertindak

        Prinsip

        Rasional

        Tindakan

        Mengeksplorasi koping adaptif dan maladaptif klien dalam memecahkan masalahnya

        Sangat penting bagi klien mengetahui koping yang digunakan dalam pemecahan masalahnya baik yang negative maupun yang poitif

        1. Beri kesempatan klien untuk memilih koping yang ingin digunakan dan konsekwensinya
        2. Bantu klien mengidentifikasi keuntungan kerugian mekanisme koping yang dipilih
        3. Diskusikan bila klien memilih mekanisme koping negative berikut konsekwensinya
        4. Berikan dukungan positif untuk mempertahankan kemajuannya

    Untuk meningkatkan penerimaan klien secara unuk di dalam keluarga, diperlukan pendidikan kesehatan mental yang dapat dilihat pada table berikut ini

    Pendidikan kesehatan mental bagi keluarga


    Tujuan

    Kegiatan Instruksional

    Evaluasi

    Menegaskan konsep keunikan anggota keluarga

    Diskusikan keunikan masing – masing anggota keluarga. Bantu klien mengidentifikasikan tingkat kemampuannya di antar anggota keluarga

    1. Klien dapat mengidentifikasi fungsi keluarga

    Uraikan karakteristik perpaduan emosi

    Analisa tipe dan pola hubungan dalam keluarga. Gunakan kertas dan pensil untuk menggambarkan pola keluarga

    1. Klien menguraikan pola hubungan dalam keluarga
    2. Klien mengidentifikasi peran dan perilakunya

    Diskusikan pembentukan dan pelaksanaan peran dalam keluarga

    Sintesa dinamika keluarga dan manifestasi stress pasien, akan mendorong komunikasi dalam keluarga

    1. Klien menyadari kontribusi keluarga terhadap stress masing – masing anggota

    D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


    Pada makalah ini akan diuraikan tindakan keperawatan pada 2 ( dua ) diagnosa, yaitu :

    1. Perubahan penampilan peran berhubungan dengan harga diri rendah
    2. Gangguan harga diri : harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh

    Rencana Tindakan Keperawatan pada :


    1. Diagnosa : Perubahan penampilan perab berhubungan dengan harga diri rendah

    1. Tujuan Umum :
      1. Klien dapat melanjutkan peran sesuai dengan tanggung jawabnya
    2. Tujuan Khusus :
      1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
      2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
      3. Klian dapat menilai kemampuan yang dapat dilakukan
      4. Klien dapat menetapkan ( merencanakan ) kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki
      5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan
      6. Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada
    3. Tindakan Keperawatan
      1. Bina hubungan saling percaya
        1. Salam terapeutik
        2. Perkenalkan diri
        3. Jelaskan tujuan interaksi
        4. Ciptakan lingkungan yang tenang
        5. Buat kontrak yang jelas (apa yang akan dilakukan/dibicarakan, waktu)
          1. Beri kesemapatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita
          2. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
          3. Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
      2. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik, kemampuan lain yang dimiliki oleh klien, aspek positif ( keluarga, lingkungan ) yang dimiliki klien. Jika klien tidak mampu mengidentifikasi, maka dimulai oleh perawat memberi “ reinforcement “ ( pujian terhadap aspek positif klien
      3. Setiap bertemu klien, hindarkan memberi penilaian negative. Utamakan memberi pujian yang realistik
      4. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. Misalnya : penampilan klien dalam “self-care”, latihan fisik dan ambulasi secara aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami klien
      5. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan pengguanaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien.
      6. Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total
      7. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
      8. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan ( sering klien takut melaksanakannya )
      9. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
      10. Beri pujian atas keberhasilan klien
      11. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
      12. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah
      13. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
      14. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
    4. Hasil Yang Diharapkan :
      1. Klien mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita
      2. Klien menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya ( fisik, intelektual, system pendukung )
      3. Klien berperan serta dalam perawatan dirinya
      4. Percaya diri klien dengan menetapkan keinginan atau tujuan yang realistis

    2. Diagnosa : Gangguan harga diri : harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh

    1. Tujuan Umum
      1. Klien menunjukkan pengingkatan harga diri
    2. Tujuan Khusus :
      1. Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
      2. Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh
      3. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
      4. Klien dapat menerima realita perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
      5. Klien dapat menyusun rencana cara – cara menyelesaikan masalah yang dihadapi
      6. Klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh
    3. Tindakan keperawatan :
      1. Bina hubungan saling percaya
        1. Salam terapeutik
        2. Komunikasi terbuka, jujur, empati
        3. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan klien terhadap perubahan tubuh.
        4. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
        5. Lakukan kontrak untuk program asuhan keperawatan ( pendidikan kesehatan, dukungan, konseling dan rujukan )
      2. Diskusikan perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
      3. Observasi ekspresi klien pada saat diskusi
      4. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien ( tubuh, intelektual, keluarga ) oleh klien di luar perubahan yang terjadi
      5. Setiap bertemu klien, hindarkan memberi penilaian negative. Utamakan memberi pujian yang realistik
      6. Beri pujian atas aspek posirtif dan kemampuan yang masih dimiliki klien
      7. Dorong klien untuk merawat diri dan berperan serta dalam asuhan klien secara bertahap
      8. Libatkan klien dalam kelompok klien dengan masalah gangguan citra tubuh
      9. Tingkatkan dukungan keluarga pada klien terutama pasangan
      10. Diskusikan cara – cara ( booklet, leaflet sebagai sumber informasi ) yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
      11. Dorong klien memilih cara sesuai bagi klien
      12. Bantu klien melakukan cara yang dipilih
      13. Membantu klien mengurangi perubahan citra tubuh. Misalnya : protesa untuk bagian tubuh tertentu, tongkat
      14. Rehabilitasi bertahap bagi klien
      15. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. Misalnya : penampilan klien dalam “self-care”, latihan fisik dan ambulasi secara aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami klien
      16. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan pengguanaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien.
      17. Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total
      18. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
      19. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan ( sering klien takut melaksanakannya )
      20. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
      21. Beri pujian atas keberhasilan klien
      22. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
      23. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah
      24. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
      25. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
    4. Hasil Yang Diharapkan :
      1. Klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
      2. Klien memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi
      3. Klien adaptasi dengan cara – cara yang dipilih dan digunakan

    Daftar Pustaka

    1. Keliat, B.A ( 1994 ), Gangguan Konsep Diri, Jakarta, EGC
    2. Keliat, B.A. ( 1998 ), Gangguan Koping, Citra Tubuh dan Seksual pada Klien Kanker, Jakarta, EGC
    3. Keliat, B.A, ( 1998 ), Penetalaksanaan Stress, Jakarta
    4. Stuart, G.W., dan Sundeen, S.J. ( 1995 ), principle and practice of psychiatric nursing, ( 5 th ed)
    5. Towsend, M.C.( 1998 ). Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan psikiatri : Pedoman untuk pembuatan Rencana keperawatan, Jakarta : EGC ( Terjemahan ).

    Kamis, 08 Juli 2010

    ASKEP KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

    Askep Kapuk Online Update ASKEP KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

    PENDAHULUAN

    Klien dirawat dirumah sakit umum dengan masalah fisik juga mengalami masalah psikososial seperti, berdiam diri, tidak ingin bertemu dengan orang lain, merasa kecewa/putus asa, malu dan tidak berguna disertai keragu-raguan dan percaya diri yang kurang.


    ASKEP KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

    Pemeriksaan penunjang yang dilakukan klien (loboratorium , CT scan) dan tindakan (suntik, infus, observasi rutin) sering membuat klien merasa sebagai obyek. Keluarga juga sering merasakan kekhawatiran dan ketidakpastian keadaan klien ditambah dengan kurangnya waktu petugas kesehatan (perawat dan dokter) untuk membicarakan keadaan klien.Terutama pada ruangan gawat darurat, tim kesehatan focus pada penyelamatan klien dengan segera.


    Klien dan keluarga sering tidak diajak berkomunikasi, kurang diberi informasi yang dapat mengakibatkan perasaan sedih, ansietas, takut, marah, frustasi, tidak berdaya karena informasi yang tidak jelas disertai ketidakpastian. Mereka tidak mengetahui proses yang terjadi, sewaktu-waktu mereka dipanggil untuk membeli obat atau alat. Mereka tidak berani bertanya atau jika bertanya akan mendapat jawaban yang tidak memuaskan.


    KONSEP DIRI

    Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain ( Stuart & Sundeen, 1995 ).


    Termasuk persepsi indvidu akan sifat dan kemampuannya, interaksi dengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman dan objek, tujuan serta keinginannya.


    Lebih menjelaskan bahwa konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh : fisikal, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.


    Konsep diri belum ada saat dilahirkan, tetapi dipelajari dari pengalaman unik melalui eksplorasi diri sendiri hubungan dengan orang dekat dan berarti bagi dirinya. Dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain. Pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh bagaimana individu mengartikan pandangan orang lain tentang dirinya.


    Konsep diri berkembang dengan baik apabila : budaya dan pengalaman di keluarga dapat memberikan perasaan positif, memperoleh kemampuan yang berarti bagi individu / lingkungan dan dapat beraktualissasi, sehingga individu menyadari potensi dirinya.


    Respons individu terhadap konsep dirinya berfluktuasi sepanjang rentang konsep diri yaitu dari adaptif sampai maladaptive ( gambar 1 )

    RENTANG RESPONS KONSEP DIRI

    Gambar I : Rentang respon terhadap konsep diri


    1. Aktualisasi diri adalah : pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dan dapat diterima
    2. Konsep diri positif apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal –hal positif maupun yang negative dari dirinya
    3. Harga diri rendah adalah ; individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain
    4. Identitas kacau adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek – aspek identitas masa kanak – kanak ke dalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa dewasa yang harmonis
    5. Depersonalisasi adalah ; perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

    Konsep diri terdiri dari 5 ( lima ) komponen ( Stuart dan Sundeen, 1991 ) :

    1. Citra diri,
    2. Ideal diri,
    3. Harga diri,
    4. Penampilan peran / Peran diri
    5. Identitas diri.

    CITRA TUBUH (Body image)


    Citra tubuh adalah sikap, persepsi, keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan obyek yang kontak secara terus menerus ( anting, make up, kontak lensa, pakaian, kursi roda) dengan tubuh.


    Pandangan ini terus berubah oleh pengalaman dan persepsi baru. Gambaran tubuh yang diterima secara realistis akan meningkatkan keyakinan diri sehingga dapat mantap dalam menjalani kehidupan.


    Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh.


    Pada klien yang dirawat dirumah sakit umum, perubahan citra tubuh sangat mungkin terjadi. Stressor pada tiap perubahan adalah :

    1. Perubahan ukuran tubuh : berat badan yang turun akibat penyakit
    2. Perubahan bentuk tubuh : tindakan invasif, seperti operasi, suntikan, daerah pemasangan infus
    3. Perubahan struktur : sama dengan perubahan bentuk tubuh disrtai dengan pemasanagn alat di dalam tubuh
    4. Perubahan fungsi : berbagai penyakit yang dapat merubah system tubuh
    5. Keterbatasan : gerak, makan, kegiatan
    6. Makna dan obyek yang sering kontak : penampilan dan dandan berubah, pemasangan alat pada tubuh klien ( infus, fraksi, respitor, suntik, pemeriksaan tanda vital, dll)

    IDEAL DIRI


    Ideal diri adalah persepsi individual tentang bagaimana dia harus berperilaku berdasarkan standart, tujuan, keinginan atau nilai pribadi tertentu. Sering disebut bahwa ideal diri sama dengan cita-cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri. Ideal diri diperlukan oleh individu untuk memacu pada tingkat yang lebih tinggi.


    Gangguan ideal diri adalah ideal diri yang terlalu tinggi, sukar dicapai dan tidak realistis. Ideal diri yang samar dan tidak jelas dan cenderung menuntut.


    Pada klien yang dirawat dirumah sakit karena sakit fisik maka ideal dirinya dapat terganggu. Atau ideal diri klien terhadap hasil pengobatan yang terlalu tinggi dan sukar dicapai.


    Tanda dan gejala yang dapat dikaji :

    1. Mengungkapkan keputusasaan akibat penyakitnya , misalnya : saya tidak bisa ikut ujian karena sakit, saya tidak bisa lagi jadi peragawati karena bekas operasi di muka saya, kaki saya yang dioperasi tidak dapat main bola.
    2. Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi, misalnya : saya pasti bisa sembuh padahal prognosa penyakitnya buruk; setelah sehat saya akan sekolah lagi padahal penyakitnya mengakibatkan tidak mungkin lagi sekolah.

    HARGA DIRI ( Self-Esteem)


    Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri/cita-cita/harapan langsung menghasilkan perasaan berharga.


    Harga diri yang tinggi berakar dari penerimaan diri sendiri tanpa syarat, sebagai individu yang berarti dan penting, walaupun salah, gagal atau kalah. Harga diri diperoleh dari penghargaan diri sendiri dan orang lain. Faktor yang mempengaruhi harga diri tinggi adakah perasaan diterima, dicintai, dihormati serta frekwensi kesuksesan.


    Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.


    Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dan dapat terjadi secara :

    1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba).
      1. Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perneal).
      2. Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.
      3. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan.

      Kondisi ini banyak ditemukan pada klien gangguan fisik
    2. Kronik, yaitu perasan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negarif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptive.
      Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

    Gangguan gejala yang dapat dikaji :

    1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker.
    2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri
    3. Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa.
    4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri, klien tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.
    5. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih alternatif tindakan
    6. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.

    PERAN DIRI


    Peran adalah seperangkat perilaku yang diharapkan secara sosial yang berhubungan dengan fungsi individu pada berbagai kelompok sosial. Tiap individu mempunyai berbagai peran yang terintregrasi dalam pola fungsi individu.


    Menurut Stuart dan Sundeen ada 5 ( lima ) factor yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan peran :

    1. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran
    2. Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran individu
    3. Keseimbangan dan kesesuaian antara peran yang dilakukan
    4. Keselarasan harapan dan kebudayaan dengan peran
    5. Kesesuaian situasi yang dapat mendukung pelaksanaan peran

    Gangguan penampilan peran adalah berubah atau terhenti fungsi peran yang disebabkan oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan kerja


    Pada klien yang sedang dirawat di rumah sakit otomatis peran sosial klien berubah menjadi peran sakit. Peran klien yang berubah adalah :

    1. Peran dalam keluarga
    2. Peran dalam pekerjaan/sekolah
    3. Peran dalam berbagai kelompok

    Klien tidak dapat melakukan peran yang biasa dilakukan selama dirawat dirumah sakit. Atau setelah kembali dari rumah sakit, klien tidak mungkin melakukan perannya yang biasa.


    Tanda dan gejala yang dapat dikaji :

    1. Mengingkari ketidakmampuan menjalankan peran
    2. Ketidakpuasan peran
    3. Kegagalan menjalankan peran yang baru
    4. Ketegangan menjalankan peran yang baru
    5. Kurang tanggung jawab
    6. Apatis/bosan/jenuh dan putus asa

    Masalah keperawatan yang mungkin muncul :

    1. Perubahan penampilan peran
    2. Gangguan harga diri rendah
    3. Keoutusasaan
    4. ketidakberdayaan

    IDENTITAS DIRI


    Identitas diri pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, berkesinambungan, konsistensi dan keunikan individu.


    Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.


    Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas seseorang.


    Gangguan identitas adalah kekaburan / ketidakpastian memandang diri sendiri. Penuh dengan keraguan, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.


    Tanda dan gejala yang dapat dikaji :

    1. Tidak ada percaya diri
    2. Sukar mengambil keputusan
    3. Ketergantungan
    4. Masalah dalam hubungan interpersonal
    5. Ragu / tidak yakin terhadap keinginan
    6. Projeksi ( menyalahkan orang lain )

    Masalah keperawatan yang mungkin timbul :

    1. Gangguan identitas personal
    2. Perubahan penampilan peran
    3. Ketidakberdayaan
    4. Keputusasaan

    Kepribadian Yang Sehat


    Individu dengan kepribadian yang sehat akan mengalami hal – hal berikut ini :

    1. Citra tubuh yang positif dan sesuai
    2. Ideal diri yang realistic
    3. Konsep diri yang positif
    4. Harga diri yang tinggi
    5. Penampilan peran yang memuaskan
    6. Rasa identitas yang jelas

    Posting ini berlanjut tentang PROSES KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI


    Jumat, 02 Juli 2010

    LIPID part 2

    Askep Kapuk Online Update Lipid Part 2 dari sebelumnya LIPID Part 1

    LIPID part 1

    Askep Kapuk Online Update Lipid

    Definisi:

    Merupakan senyawa organik yang termasuk dalam kelompok hidrokarbon. Molekul lipid mengandung unsur: C, H & sedikit O

    Sifat umum:

    1. Larut dalam pelarut non polar (eter, aseton, benzena, kloroform)
    2. Tidak larut dalam air
    3. Lipid ? lemak

    Fungsi

    LIPID

    1. Sebagai penyusun membran sel ? kombinasi lemak & protein (lipoprotein)
    2. Sebagai cadangan energi (tersimpan dalam jaringan adiposa) ? menghasilkan 9 kkal/g
    3. Sebagai penyekat panas dalam jaringan subkutan
    4. Sebagai pelindung organ tubuh
    5. Sebagai hormon (steroid)
    6. Sebagai vitamin ? diperlukan dalam proses metabolisme (koenzim)

    Klasifikasi

    1. Lipid sederhana: ester asam lemak dgn berbagai alkohol
      1. Contoh: lemak (gliserida) & lilin (wax)
    2. Lipid gabungan: ester asam lemak yg mengandung gugus tambahan spt fosfat, protein atau karbohidrat
      1. Contoh: fosfolipid, lipoprotein & glikolipid
    3. Turunan lipid: senyawa yg dihasilkan dr hidrolisis lipid
      1. Contoh: asam lemak, gliserol, terpen & sterol/steroid

    ASAM LEMAK

    O

    II

    R – C – OH

    Asam karboksilat


    1. Asam lemak merupakan asam karboksilat berantai panjang (12 – 24 atom C) dengan struktur umum CH3(CH2)nCOOH ? biasanya jumlah atom C genap
    2. Jika rantai karbon mengandung ikatan rangkap ? asam lemak tidak jenuh
      1. Contoh: asam lemak omega 3 (ALA, DHA & EPA) ? merupakan asam lemak esensial
    3. Jika rantai karbon tidak mengandung ikatan rangkap ? asam lemak jenuh

    Asam Lemak Jenuh


    1. Asam butirat (asam butanoat): CH3(CH2)2COOH atau C4:0 ? terdapat dalam mentega (lemak nabati)
    2. Asam kaproat (asam heksanoat): CH3(CH2)4COOH atau C6:0 ? terdapat dalam mentega
    3. Asam kaprilat (asam oktanoat): CH3(CH2)6COOH atau C8:0 ? terdapat dalam mentega (lemak nabati)
    4. Asam kaprat (asam dekanoat): CH3(CH2)8COOH atau C10:0 ? terdapat dalam mentega (lemak nabati)
    5. Asam laurat (asam dodekanoat): CH3(CH2)10COOH atau C12:0 ? terdapat dalam minyak paus (spermaceti), kayu manis, biji kelapa sawit, minyak kelapa, salam
    6. Asam miristat (asam tetradekanoat): CH3(CH2)12COOH atau C14:0 ? terdapat dalam pala, biji kelapa sawit & minyak kelapa
    7. Asam palmitat (asam heksadekanoat): CH3(CH2)14COOH atau C16:0 ? terdapat dalam semua lemak hewan & tumbuhan
    8. Asam stearat (asam oktadekanoat): CH3(CH2)16COOH atau C18:0 ? terdapat dalam semua lemak hewan & tumbuhan
    9. Asam arachidat (asam eicosanoat): CH3(CH2)18COOH atau C20:0 ? terdapat dalam minyak kacang tanah
    10. Asam behenat (asam dokosanoat): CH3(CH2)20COOH atau C22:0 ? terdapat dalam biji-bijian

    Asam Lemak Tak Jenuh

    1. Asam lemak tak jenuh tunggal (monoenoat) ? mempunyai ikatan rangkap 1
      1. Contoh: asam oleat & asam erusat
    2. Asam lemak tak jenuh banyak (polienoat) ? mempunyai ikatan rangkap > 1
      1. Contoh: asam linoleat, asam arachidonat
    3. Eikosanoid ? berasal dari asam lemak polienoat dengan jumlah atom C 20
      1. Contoh: prostanoid (prostaglandin, prostasiklin, tromboksan) & leukotrien

    Contoh Asam Lemak Tak Jenuh

    1. Asam oleat: CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH atau C18:1
    2. Asam linoleat: CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH (CH2)7COOH atau C18:2 ? terdapat pada minyak jagung, kacang tanah, biji kapas, kedelai
    3. Asam a-linoleat (ALA): CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2CH=CH(CH2)7COOH atau C18:3 ? pada minyak biji rami & biasa ditemukan bersama-sama dengan asam linoleat
    4. Asam arachidonat: CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CHCH2CH=CHCH2CH=CH (CH2)3COOH atau C20:4 ? terdapat pada minyak kacang tanah
    5. Asam eicosapentaenoat (EPA) atau C20:5 ? pada minyak ikan
    6. Asam docoheksanoat (DHA) atau C22:6 ? pada minyak ikan
    7. Asam erusat: CH3(CH2)7CH=CH(CH2)11COOH atau C22:1

     

    AL jenuh

    AL tak jenuh tunggal

    AL tak jenuh banyak

    Kolesterol

    Vitamin E

    g/100g

    g/100g

    g/100g

    mg/100g

    mg/100g

    Lemak hewan

    Mentega

    54.0

    19.8

    2.6

    230

    2.00

    Lemak tumbuhan

    Minyak kelapa

    85.2

    6.6

    1.7

    0

    .66

    Minyak kelapa sawit

    45.3

    41.6

    8.3

    0

    33.12

    Minyak kapas

    25.5

    21.3

    48.1

    0

    42.77

    Minyak gandum

    18.8

    15.9

    60.7

    0

    136.65

    Minyak kedelai

    14.5

    23.2

    56.5

    0

    16.29

    Minyak zaitun

    14.0

    69.7

    11.2

    0

    5.10

    Minyak jagung

    12.7

    24.7

    57.8

    0

    17.24

    Minyak bunga matahari

    11.9

    20.2

    63.0

    0

    49.0


    Posting berlanjut LIPID Part 2


    Blog Archive

     

    Tentang Kami

    kapuk online Askep Kapuk Online | RS PKU Muhammadiyah Solo askep dan asuhan keperawatan gratis.

    Bila anda mempunyai koleksi Askep, Asuhan Keperawatan, Makalah Keperawatan atau Kesehatan yang ingin di publish disini untuk di bagikan kepada teman-teman, silahkan kirim beserta identitas lengkap ke Email Kami

    FRIEND

    Langgan artikel Via Email

    RSS Feed Langganan posting via RSS FEED

    Atau kirim update terbaru dari
    Blog Kapuk Online langsung
    ke Inbox Email anda!: