Kamis, 30 September 2010

PROSES MENUA

Download Askep Kapuk Online Update ASKEP GERONTIK tentang PROSES MENUA

MENYESUAIKAN DIRI DENGAN PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT


I. PENDAHULUAN


Keberhasilan Pembangunan khususnyadi bidang kesehatan menumbulkan jumlah penduduk yang meninggal dalam usia muda menurun drastis dan harapan hidup rata-rata semakin panjang.Ini berarti bahwa dalam kangka panjang jumlah golongan penduduk  dalam usia lanjut semakin besar.Data di biro statistik menunjukkan bahwa sensus penduduk th 1995 terdapat 12,7 juta orang yang berusia 60 tahun keatas.Hal ini dapat menimbulkan masalah  baru apabila tidak kita perhatikan sejak dini.Karena pada kenyataannya sering kita jumpai orang yang merasa takut dalam menghadapi usia lanjut.Mereka takut dengan adanya perubahan fisik,badannya tidak menarik seperti pada saat masih muda,rambutnya mulai banyak uban ,kulitnya mulai banyak keriput.timbulnya menopause,takut menghadapi pensiun,merasa tidak ada peranan penting lagi,merasa tidak dapat berkarier lagi,merasa tersaingi dengan yang mida dan sebagainya.

Proses Menua Ketakutan dalam menghadapi usia lanjut ini dapat menimbulkan mereka mempunyai harga diri yang rendah,sulit tidur,tidak nafsu makan,tidak bergairah dalam bekerja,dan bahkan dapat menimbulkan seseorang mengalami gangguan jiwa.Sebetulnya keadaan ini tidak perlu terjadi apabila ada persiapan dalam menghadapi usia lanjut dan mereka berani dalam menghadapi tantangan atau bahaya pada usia ini ,dengan demikian maka kesempatan manis bagi pertumbuhan dan pengembangan diri tidak hilang,mereka mempunyai kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh,serta dapat menikmati usia lanjut dengan bahagia dan sejahtera.

II. PROSES MENJADI LANJUT USIA


Proses menjadi lanjut usia atau menjadi tua menghadapkan orang pada salah satu tugas yang paling sulit dalam perkembangan hidup manusia.Menurut kodratnya,manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalam proses menjadi tua.

Pada mulanya mereka melawan kenyataan yang tidak terelakkan bahwa mereka menjadi tua dan akhirnya dengan hati sakit mereka hanya bisa menerima.Pada saat ini lepaslah segala ambisinya,mereka menjadi kesal dan kehilangan semangat hidup.Bagi mereka pada usia itu hidup praktis berhenti, meskipun mereka masih mondar-mandir sebagai warga masyarakat yang gelisah tanpa tujuan. Dengan keadaan itu yang bersangkutan tiadak mengerti bahwa proses untuk menjadi tua  memberikan kesempatan yang besar untuk pematangan diri,untuk mencapai tingkat perkembangan diri sebagai manusia secara penuh.

Ada beberapa tingkatan umur yang berbeda-beda, dari kanak-kanak, remaja dan tingkat dewasa. Kita juga tahu bagaimana penting dan sulitnya menghadapi masa peralihan dengan tepat, dari tingkat kanak-kanank ke remaja, dan kemudian ke tingkat dewasa. Namun hal ini tidak selalu kita sadari. Demikianpun kebanyakan orang tidak menyadari bahwa peralihan dari usia tengah baya yang aktif ke tingkat usia lanjut juga membawa krisis yang berat. Pembicaraan mengenai hal ini tidak banyak kita dengar, karena kebanyakan orang tidak mau mengakui, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, bahwa setiap orang merasa perlu tetap muda, atau sekurang-kurangnya berusaha tetap tampil muda. Akan tetapi penipuan diri yang kosong ini tidak dapat mengubah kenyataan, bahwa siapapun secara pelan-pelan menjadi usia lanjut. Orientasi pada budaya muda itu dapat mempersulit orang dalam proses menjadi usia lanjut dengan rasa bahagia, sebab mereka hanya mendapat sedikit pengertian dan bantuan dari masyarakat dalam menghadapi krisis masa transisi.

Kenyataan tidak dapat kita ingkari, siapapun dari kita ini kalau tidak didahlui mati, tentu akan berhadapan dengan krisis usia lanjut. Semua wanita lambat atau cepat akan menyadari bahwa pesonanya akan memudar. Mereka akan sadar bahwa daya tarik tubuhnya semakin berkurang. Orang dapat tetap memuji kecakapannya, sukses dalam profesi, dan nama baiknya, tetapi itu semua baginya tidak lebih dari pensiun di hari tua. Sakit badan tertentu membuat mereka merasakan gangguan kekuatannya dan pemikirannya. Wanita yang telah menjadi usia lanjut akan menjadi cepat marah, mudah tersinggung dan gelisah, tenaganya semakin merosot, semakin lemah. Pagi hari kehilangan daya tariknya, siang hari menjemukan, sore dan malam hari terasa berlangsung panjang dalam sunyi sepi.

Ketika orang mencapai usia lanjut, ia mengalami kesusahan siang dan malam, sekonyong-konyong apa saja menjadi persoalan misalnya kehidupan profesionalnya, hubungan dengan bawahannya dan kehidupan seksualnya. Keluarganya menjadi lebih kecil, karena anak –anak menjadi lebih dewasa dan meninggalkan lingkungan keluarga. Seringkali dirasakan bahwa efisiensi kerjanya merosot dam kreativitasnya menurun. Kebanyakan orang pada umur ini mulai kehilangan kepercayaan diri dan rasa amannya. Apapun yang terjadi membuat dirinya kebingungan.

Sementara itu ia dapat merasa bangga atas keberhasilan generasi baru, sejauh ikut menentukan  keberhasilan itu dan dapat menikmati sukses pertamanya. Namun apabila generasi baru ini lambat laun mengambil oper tugasnya, maka ia mulai merasakan bahwa rasa pedih dan cemburu mulai merayapi dirinya yang semula ber-rela hati. Inilah tanda lahiriah pertama mulai berkembangnya krisis orang menua. Adapun secara batiniah, rasa dingin semakin dalam timbul dalam dirinya dan timbul pertanyaan: ”hidup terus berlangsung, mungkinkah pada sutu hari aku tidak diperlukan lagi”. Dan pada kesempatan ini dapat muncul gagasan, bahwa ia dapat terhempas dari kehidupan ini.

III. PERUBAHAN PSIKOLOGI DAN SOSIAL PADA USIA LANJUT


Menjadi tua tidak berarti mundur secara psikologis. Daya ingat memang berkurang, sebab orang lebih memperhatikan hal-hal penting, sedangkan yang kurang penting tidak diingat. Di luar negeri pernah diadakan percobaan mendirikan universitas yang menerima mahasiswa yang sudah berusia lanjut. Ternyata banyak orang yang berusia lanjut yang berhasil. Semangat belajar mereka lebih besar daripada orang-orang muda. Hal ini disebabkan mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak dibandingkan dengan yang muda.

Beberapa masalah sosial dan psikologi yang dihadapi pada usia lanjut antaralain:
  1. Pensiun
    Idealnya, masa pensiun merupakan waktu untuk menikmati hal lain dalam hidup ini, menjadi santai, melaksanakan cita-cita berkelana, aktif dalam bidang sosial dan filsafat. Tetapi kadang-kadang dalam kenyataannya pensiun sering diartikan sebagai ”kehilangan” pekerjaan, penghasilan, kedudukan, jabatan, peran sosial, dan juga harga diri.
  2. Fungsi Mental
    Pada umumnya terjadi penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi prises belajar, pemahaman, pengertian, tindakan dan lain-lain menurun, sehingga perilaku cenderung lebih lambat. Usia senja yang menderita demensia, perubahan dan penurunan fungsi kognitif akan lebih jelas dan progresif.
    Fungsi psikomotor yang meliputi dorongan kehendak/bertindak pada umumnya mulai melambat sehingga reaksi dan koordinasinya juga menjadi lambat. Sedangkan hal yang positif yaitu dihormati, dituakan, disegani, lebih bijaksana, lebih hati-hati dalam tindakan, tempat meminta nasehat. Secara garis besar ada 5 tipe kepribadian pada usia senja:
    1. Tipe Konstruktif: Orang yang sejak muda dapat menerima fakta dan kehidupan, menjadi tua diterima dengan santai. Mereka memiliki sifat yang toleran dan fleksibel, sehingga lentur dalam menerima kenyataan misalnya pensiun, kehilangan pasangan dan sebagainya, mereka nrimo tetapi bukan pasrah.
    2. Tipe Dependen: Sifat pasif tak berambisi, optimistik tak dilaksanakan perkawinan terlambat, didominasi oleh istri. Pada usia senja senang karena pensiun dan santai, banyak makan dan menikmati hari libur. Tetepi bila mereka kehilangan pasangan hidupnya merasa kehilangan tempat bergantung yang merupakan masalah besar, sehingga tidak jarang mereka terus menerus sakit-sakitan dan akhirnya menyusul pasangannya lebih cepat.
    3. Tipe Independen (mandiri): Pada masa mudanya merupakan orang yang aktif dalam pergaulan sosial, reaksi penyesuaian diri cukup baik dan cenderung menolak tawaran / bantuan orang lain. Keadaan tersebut cenderung dipertahankan sampai usia senja sehingga cemas menghadapi masa tua, misalnya cenderung menunda masa pensiun atau tetap bertahan aktif dalam profesi atau pekerjaannya dan tidak tampak menikmati masa tuanya.
    4. Tipe Bermusuhan: Orang yang cenderung menyalahkan orang lain untuk kesalahannya, sering mengeluh, agresif, curiga, riwayat pekerjaan tidak tetap, tidak dapat melihat segi positif pada usia lanjut, takut akan kematian, iri terhadap orang muda. Sering menunjukkan perilaku yang seoalah-olah mencari ketenangan sebagai gambaran yang menggambarkan dirinya tidak tenang.
    5. Tipe Benci diri: Orang yang kritis terhadao dirinya, tidak berambisi dalam pekerjaan. Perkawinan kurang bahagia karena banyak menyesali diri, anak serta pasangan hidupnya, seolah-olah masa lalu yang seharusnya diisi dengan segala keinginan sudah lewat, akhirnya pasrah tetapi tidak ”nrimo”. sehingga banyak mengalami krisis. Takut akan kematian.
  3. Kehilangan pasangan
    Kematian pasangannya merupakan stress psikososial yang sangat berat.
  4. Fungsi Seksual
    Sering menurun karena penyakit fisik seperti jantung koroner, diabetes melitus, artritis. Akibatnya harus makan obat anti hipertensi, anti diabetika, steroida, obat penenang. Sebagian usia senja harus menjalani pembedahan seperti prostatektomi. Menderita vagintis dan malnutrisi.
  5. Menemukan Kebahagiaan
    Bentuk-bentuk pernyataan kebahagiaan dan kegembiraan yang khas pada masa muda, tidak lagi mempunyai daya tarik pada masa usia senja. Ada beberapa kegiatan menarik yang tidak bisa dilaksanakan, misalnya kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik misalnya olah raga atau perjalanan jauh
    Kebahagiaan di masa lampau sewaktu masih muda, kini bagi kebanyakan usia senja hal-hal tersebut hanya menjadi kenangan. Bagi usia senja, tidaklah menguntungkan untuk bermimpi diluar jangkauannya. Dalam hidup ini tahap demi tahap orang harus mengembangkan minat pada hal-hal yang memberikan kegembiraan apabila mau menjadi orang sepenuhnya.
    Setiap orang harus menemukan caranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan di masa tuanya. Bagi sementara orang bisa terjadi, cuculah yang menjadi sumber kesenangan dan kepuasan. Orang lain mengembangkan perhatiannya di bidang seni, musik dan buku-buku
  6. Kematangan Iman
    Setelah seseorang memasuki usia tua, banyak terjadi persoalan-persoalan mengenai kesehatan, dorongan seksual, jaminan ekonomi. Hal-hal seperti ini nampak tidak stabil lagi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Maka tidaklah mengherankan apabila timbul kebimbangan iman. Orang akan mempunyai problema yang berat, apabila imannya tidak berkembang matang.
    Pada usia senja, iman kepada Tuhan Yang Maha Esa perlu diperdalam dan dimatangkan, agar persoalan-persoalan yang dihadapi tidak menjadi terlalu berat.
  7. Menemukan Makna Hidup.
    Salah satu persoalan pokok orang usia senja ialah pemikiran yang menakutkan bahwa mungkin dirinya sudah tidak berarti lagi. Dia merasa dirinya sudah tidak diperlukan lagi ditempat kerjanya, dalam keluarga dan masyarakat. Banyak orang usia senja yang menderita neurosis dan bermacam-macam ketidakseimbangan mental karena kekosongan dan tidak adanya tujuan hidup di masa senja.
    Pada usia senja, seseorang harus dapat menemukan kembali makna hidupnya. Menemukan kembali makna hidup pada masa senja tergantung pada kesehatan, kemampuan dan situasi konkrit kehodupan pribadi yang bersangkutan.
    Bagi beberapa orang, merawat cucu-cucunya dapat menghilangkan rasa takut dan dapat mengembalikan kesadaran baru akan tujuan hidup dan kegembiraan di usia senja. Banyak orang usia senja merasa lebih muda lagi ketika diminta memberi nasihat. Perasaan berguna dan diperlukan, dapat mengembalikan kepercayaan kepada diri sendiri yang sudah menipis dan memberikan makna hidup baru dan tujuan hidupnya.
  8. Membina Perkawinan Menjadi Satu Kesatuan Yang Baru
    Bagi pasngan suami istri, saat suami pensiun dapat merusak hubungan mereka, tetapi juga dapat menjadi awal hidup bersama yang sempurna. Pada waktu pensiun, istri takut apabila suami mencampuri urusan tumah tangga. Dengan ikut campurnya suami dalam urusan rumah tangga, sering menimbulkan pertengkaran.
    Akan tetapi perkawinan dapat juga mengalami perubahan yang sebaliknya. Pada masa suami pensiun hubungan suami istri dapat menjadi intim. Untuk membina perkawinan menjadi satu kesatuan diperlukan komunikasi, hubungan yang mendalam antara suami dan istri.

V.KESIMPULAN


Masa  usia lanjut merupakan masayang sulit dalam perkembangan hidup seseorang. Menurut kodratnya, manusia menolak pelepasan mahkota hidupnya di dalm proses menjadi tua.

Pada masa ini terjadi perubahan fisik, juga banyak terjadi perubahan psikologi dan sosial. Pada masa usia lanjut seseorang harus bisa menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, mampu mengahdapai problema kesepian, mulai mendekatkan diri kepada yang kuasa, menerima masatua dengan wajar, berlatih bijaksana, mencapai keutuhan dan menemukan makna hidup.

Penyesuaian diri dengan terjadinya perubahan psikologi dan sosial pada usia lanjut, maka seseoarang akan mampu hidup sehat dan bahagia, bagi para usia lanjut yang sulit menemukan diri dengan berbagai perubahan psikologi maupun sosial, maka mereka tidak bisa menikmati usia senja dengan bahagia.

Rabu, 29 September 2010

Cara mempunyai Sikap dan Motivasi yang Positif

Download Askep Kapuk Online Update MOTIVASI DIRI PERAWAT tentang Cara mempunyai Sikap dan Motivasi yang Positif

Aturan dasar…
Sikap positif tumbuh dari Pola pikir yang positif

Mengapa sikap positif penting?


  • Dapat mempengaruhi kondisi pribadi seseorang --> self confidence
  • Dapat mempengaruhi kondisi lawan bicara
  • Dapat mempengaruhi lingkungan
  • “Law of attraction”
  • Sebagai media pelayanan --> pencitraan diri dan perusahaan

Apa itu sikap positif?


  • definisi versi American Heritage Dictionary, yakni: "Cara berpikir atau merasakan dalam kaitannya dengan sejumlah persoalan"
    Dengan kata lain sikap adalah apa yang terjadi dalam diri seseorang, pikiran - pikiran dan perasaan - perasaan; tentang diri sendiri, orang lain, keadaan dan kehidupan secara umum.
  • Pikiran positif dan perasaan positif itu biasanya bermanifestasi dalam bentuk optimisme yang tinggi, pantang menyerah, percaya diri, mudah bersyukur, sabar, menghargai orang lain, menghargai perbedaan, mudah berteman, mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri atau pantang menyalahkan orang lain dan keadaan.

  • Cerita inspiratif Motivasi Diri Perawat
    • Salah satu contoh dari sikap positif diceritakan ulang oleh Zig Ziglar dalam bukunya berjudul "Better than Good"; Majalah Rotarian yang terbit pada bulan Maret 1988 mengisahkan tentang suatu organisasi alam liar yang menawarkan imbalan sebesar lima ribu dollar untuk setiap serigala yang tertangkap hidup-hidup untuk tujuan relokasi. Sam dan Jed menerima tantangan itu dan menjadi pemburu hadiah. Yang terutama merasa yakin adalah Sam; ia yakin dengan pengetahuannya dan Jed yakin tentang habitat serigala, mereka bisa meraih keberuntungan.

      Mereka menghabiskan waktu siang-malam menjelajahi wilayahnya, mencari-cari gerombolan serigala untuk dijadikan sasaran, tetapi tidak sedikit pun melihat sesuatu. Setelah lelah berhari-hari melakukan pencarian, mereka jatuh tertidur jauh di tengah malam, di sekitar api unggun mereka. Sesuatu menyebabkan Sam terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Sambil bersandar pada satu siku, ia mendapati dirinya dan Jed dikelilingi oleh kira-kira lima puluh serigala yang menggeram-geram dengan mata yang berkilat-kilat dan gigi-gigi yang diperlihatkan. Ia menyodok Jed dengan tongkat dan berbisik, "Jed! Bangun! Kita kaya!"
    Renungan…..
    • Bagaimana dengan Anda, apakah saat ini Anda sedang menghadapi serigala buas dalam pekerjaan, usaha atau keluarga? Semua kita memiliki pengalaman seperti Sam dan Jed. Serigala kita bisa saja datang dalam wujud tuntutan kerja yang semakin meningkat, atasan yang susah dipuaskan, pelanggan yang menyebalkan, atau kompetisi yang semakin menggila.

Bagaimana caranya Membangun pikiran positif?


  1. Langkah 1. Kuasai Pikiran Anda dengan penuh keyakinan
    • Kita memiliki kekuasaan untuk mengarahkan semangat, emosi, naluri, kecendrungan, perasaan, suasana hati, sikap dan perilaku anda menuju sebuah hasil akhir.
    • Untuk menangkis segala hal negatif, afirmasikan selalu seperti ini :
      ”Pikiran saya adalah milik saya, saya akan mengendalikannya!”
  2. Langkah 2. Tetapkan yang diinginkan dan yang tidak!
    • Kita harus belajar mendisiplinkan pikiran kita dan memvisualisasikan hal-hal yang anda inginkan. Jangan biarkan lingkungan atau orang lain mendiktekan bayangan negatif pada kita.
  3. Langkah 3. Terapkan Hukum Utama
    • Perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan. Sebaliknya jangan memperlakukan orang lain dengan buruk jika kita tidak ingin diperlakukan demikian.
  4. Langkah 4. Singkirkan semua pikiran negative
    • Cukup tanyakan pada diri kita,”apakah ini positif atau negatif?”. Ketika kita gagal menguasai pikiran kita, maka reaksi kita cenderung akan negatif.
      Semakin sering kita berlatih menggunakan sikap mental positif, semakin cepat kita menyadari munculnya pikiran negatif.
  5. Langkah 5. Berbahagialah!!
    • Supaya kita merasa bahagia, bertingkahlah seperti orang bahagia! Agar bersemangat, kita harus bertindak dengan penuh semangat
  6. Langkah 6. Bentuklah kebiasaan bertoleransi
    • Berpikirlah terbuka terhadap orang lain. Cobalah untuk menyukai dan menerima orang lain apa adanya dan bukan menuntut atau berharap mereka bisa seperti yang kita harapkan.
  7. Langkah 7. Berikan sugesti positif pada diri sendiri
    • upayakan agar apa yang masuk dalam kelima indera anda adalah sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kebahagiaan. Ambillah hal-hal yang indah saja.
  8. Langkah 8. Gunakan Kekuatan Doa
    • Ketika anda berdoa, percayalah pada apa yang anda minta. Dalam setiap badai, jiwa anda akan mendapat perlindungan dari sebuah doa.
  9. Langkah 9. Tetapkan tujuan
    • Menetapkan tujuan adalah satu cara untuk menjaga pikiran kita tetap berada pada hal yang kita inginkan, dan menjauhi hal-hal yang tidak kita inginkan.
      Tuliskan tujuan anda dalam selembar kertas. Visualisasikan diri anda sendiri sedang meraih tujuan ini. Buatlah perencanaan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, kemudian ubahlah rencana tersebut menjadi sebuah tindakan.

Tetap produktif dan termotivasi?


  1. Pecahlah tugas menjadi bagian kecil
    • Skala prioritas
    • Konsentrasi pada tugas yang dilaksanakan
    • Berikan penghargaan pada diri untuk sebuah keberhasilan
    • Segera beralih ke tugas berikutnya
  2. Efek bola salju
    • Mengerjakan pekerjaan yang menyenangkan
    • Meningkatkan kepercayaan diri
  3. Hindari mengerjakan tugas banyak sekaligus!!
    • Fokuslah pada apa yang sudah ada di depan mata anda. Selesaikan tugas anda satu per satu. Saya jamin anda akan lebih produktif, tingkat motivasi anda akan terus meningkat (seperti telah saya sampaikan pada point 1 dan 2), serta anda akan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.
  4. Beristirahat dan bersenang-senang
    • Lakukanlah hal-hal yang menyenangkan, seperti menonton bioskop, pergi ke restoran favorit, chatting, atau berkumpul bersama dengan sahabat-sahabat anda.
  5. Istirahat sejenak
    • Beristirahat lagi? Ya, namun kali ini adalah istirahat sejenak. Setelah anda bekerja selama 40-45 menit, ambillah break ringan selama 3-5 menit. Disarankan anda sedikit menjauh dari area kerja anda.

Senin, 27 September 2010

Askep Morbus Basedow

Download Askep Kapuk Online Update tentang ASKEP MORBUS BASEDOW

KONSEP PENYAKIT MORBUS BASEDOW


1. Pengertian


Penyakit basedow atau lazim juga disebut sebagai penyakit graves merupakan penyakit yang sering dijumpai pada orang muda akibat daya peningkatan produksi tiroid yang ditandai dengan peningkatan penyerapan yodium radioaktif oleh kelenjar tiroid.

2. Etiologi


Diduga akibat peran antibodi terhadap peningkatan produksi tiroid serta adanya adenoma tiroid setempat (suatu tumor) yang tumbuh di dalam jaringan tiroid dan ensekresikan banyak sekali hormon tiroid.


MORBUS BASEDOW

3. Patofisiologi


Download Patofisiologi Morbus Basedow

Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyaknya hiperplasia dan lipatan – lipatan sel – sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel – sel ini lebih meningkat berapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat.

Perubahan pada kelenjar tiroid ini mirip dengan perubahan akibat kelebihan TSH. Pada beberapa penderita ditemukan adaya beberapa bahan yang mempunyai kerja mirip dengan TSH yang ada di dalam darah. Biasanya bahan – bahan ini adalah antibodi imunoglobulin yang berikatan dengan reseptor membran yang sama degan reseptor membran yang mengikat TSH. Bahan – bahan tersebut merangsang aktivasi terus – menerus dari sistem cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme.

4. Gambaran Klinik

  • Berat badan menurun
  • Dispnea
  • Eksoftalmus
  • Berkeringat
  • Palpitasi, takikardia
  • Diare
  • Nafsu makan meningkat
  • Kelelahan otot
  • Tremor (jari tangan dan kaki)
  • Oligomenore/amenore
  • Telapak tangan panas dan lembab
  • Takikardia, denyut nadi kadang tidak teratur karena fibrilasi atrium, pulses seler
  • Gugup, mudah terangsang, gelisah, emosi tidak stabil, insomnia.
  • Gondok (mungkin disertai bunyi denyut dan getaran).

5. Penanggulangan


Terapi penyakit graves dtujukan kepada pengendalian stadium tirotoksikosis dengan pemberian antitiroid seperti propiltiourasil (PTU) atau karbimasol. Terapi definitif dapat dipilih antara pengobatan antitiroid jangka panjang, ablasio dengan yodium radioaktif atau tiroidektomi subtotal bilateral.

Indikasi tindakan bedah adalah:
  • Perlu mencapai hasil definitif cepat
  • Keberatan terhadap antitiroid
  • Penanggulangan dengan antitiroid tidak memuaskan
  • Struma multinoduler dengan hipertiroidi
  • Nodul toksik soliter.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MORBUS BASEDOW


Pengkajian


Data dasar pada pengkajian pasien dengan morbus basedow adalah:
  • Aktivitas/istirahat
    • Gejala: insomnia, sensitivitas meningkat, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat.
    • Tanda: Atrofi otot.
  • Sirkulasi
    • Gejala: palpitasi, nyeri dada (angina).
    • Tanda: disritmia (Fibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat, takikardia saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis).
  • Eliminasi
    • Gejala: urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feses (diare).
  • Integritas ego
    • Gejala: Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik.
    • Tanda: Emosi labil (euforia sedang sampai delirium), depresi.
  • Makanan / cairan
    • Gejala: Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah.
    • Tanda: Pembesaran tiroid, goiter, edema non pitting terutama daerah pretibial.
  • Neurosensori
    • Tanda: Bicaranya cepat dan parau, gangguan status mental dan perilaku, seperti: bingung, disorientasi, gelisah, peka rangsang, delirium, psikosis, stupor, koma, tremor halus pada tangan, tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak – sentak, hiperaktif refleks tendon dalam (RTD).
  • Nyeri / kenyamanan
    • Gejala: nyeri orbital, fotofobia.
  • Pernafasan
    • Tanda: frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea, edema paru (pada krisis tirotoksikosis).
  • Keamanan
    • Gejala: tidak toleransi teradap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan).
    • Tanda: suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan emerahan, rambut tipis, mengkilat, lurus, eksoftalmus: retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
  • Seksualitas
    • Tanda: penurunan libido, hipomenore, amenore dan impoten.
  • Penyuluhan / pembelajaran
    • Gejala: adanya riwayat keluarga yang mengalami masalah tiroid, riwayat hipotiroidisme, terapi hormon toroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadap pengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian, riwayat pemberian insulin yang menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung atau pembedahan jantung, penyakit yang baru terjadi (pneumonia), trauma, pemeriksaan rontgen foto dengan kontras.

Pemeriksaan diagnostik


  • Tes ambilan RAI: meningkat.
  • T4 dan T3 serum: meningkat
  • T4 dan T3 bebas serum: meningkat
  • TSH: tertekan dan tidak berespon pada TRH (tiroid releasing hormon)
  • Tiroglobulin: meningkat
  • Stimulasi TRH: dikatakan hipertiroid jika TRH dari tidak ada sampai meningkat setelah pemberian TRH
  • Ambilan tiroid131: meningkat
  • Ikatan proein iodium: meningkat
  • Gula darah: meningkat (sehubungan dengan kerusakan pada adrenal)
  • Kortisol plasma: turun (menurunnya pengeluaran oleh adrenal).
  • Fosfat alkali dan kalsium serum: meningkat.
  • Pemeriksaan fungsi hepar: abnormal
  • Elektrolit: hiponatremi mungkin sebagai akibat dari respon adrenal atau efek dilusi dalam terapi cairan pengganti, hipokalsemia terjadi dengan sendirinya pada kehilangan melalui gastrointestinal dan diuresis.
  • Katekolamin serum: menurun.
  • Kreatinin urine: meningkat
  • EKG: fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek, kardiomegali.

Diagnosa Keperawatan


  • Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; , perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung.
  • Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh.
    Data penunjang: mengungkapkan sangat kekurangan energi untuk mempertahankan rutinitas umum, penurunan penampilan, labilitas/peka rangsang emosional, gugup, tegang, perilaku gelisah, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi.
  • Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan / pemasukan dengan penurunan berat badan); mual muntah, diare; kekurangan insulin yang relatif, hiperglikemia.
  • Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata / eksoftalmus.

Perencanaan Keperawatan


  1. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme; peningkatan beban kerja jantung; , perubahan dalam arus balik vena dan tahan vaskuler sistemik; perubahan frekuensi, irama dan konduksi jantung.
    • Tujuan asuhan keperawatan: mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisisan kapiler normal, stauts mental baik, tidak ada disritmia.
    • Rencana tindakan dan rasional:

    • Mandiri
      • Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan. Perhatikan besarnya tekanan nadi.
        Rasional: Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi. Besarnya tekanan nadi merupakan refleksi kompensasi dari peningkatan isi sekuncup dan penurunan tahanan sistem pembuluh darah.
      • Pantau CVP jika pasien menggunakannya.
        Rasional: Memberikan ukuran volume sirkuasi yang langsung dan lebih akurat dan mengukur fungsi jantung secara langsung.
      • Periksa/teliti kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.
        Rasional: Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau iskemia.
      • Kaji nadi atau denyut jantung saat pasien tidur.
        Rasional: Memberikan hasil pengkajian yang lebih akurat terhadap adanya takikardia.
      • Auskultasi suara antung, perhatikan adanya bunyi jantung tambahan, adanya irama gallop dan murmur sistolik.
        Rasional: S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik, adanya S3 sebagai tanda adanya kemungkinan gagal jantung.
      • Pantau EKG, catat dan perhatikan kecepatan atau irama jnatung dan adanya disritmia.
        Rasional: Takikardia merupakan cerminan langsung stimulasi otot jantung oleh hormon tiroid, dsiritmia seringkali terjadi dan dapt membahayakan fungsi antung atau curah jantung.
      • Auskultasi suara nafas, perhatikan adanya suara yang tidak normal.
        Rasional: Tanda awal terjadinya kongesti paru yang berhubungan dengan timbulnya gagal jantung.
      • Pantau suhu, berikan lingkungan yang sejuk, batasi penggunaan linen/pakaian, kompres dengan air hangat.
        Rasional: Demam terjadi sebagai akibat kadar hormon yang berlebihan dan dapat meningkatkan diuresis/dehidrasi dan menyebabkan peningkatan vasodilatasi perifer, penumpukan vena dan hipotensi.
      • Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, pengisisan kapiler lambat, penurunan produksi urine dan hipotensi.
        Rasional: Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung.
      • Catat masukan dan keluaran, catat berat jenis urine.
        Rasional: Kehilangan cairan yang banyak (melalui muntah, dare, diuresis, diaforesis) dapat menimbulkan dehidrasi berat, urine pekat dan berat badan menurun.
      • Timbang berat badan setiap hari, sarankan untuk tirah baring, batasi aktivitas yang tidak perlu.
        Rasional: Aktivitas akan meningkatkan kebutuhan metabolik/sirkulasi yang berpotensi menimbulkan gagal jantung.
      • Catat adanya riwayat asma/bronkokontriksi, kehamilan, sinus bradikardia/blok jantung yang berlanjut menjadi gagal jantung.
        Rasional: Kondisi ini mempengaruhi pilihan terapi (misal penggunaan penyekat beta-adrenergik merupakan kontraindikasi).
      • Observasi efek samping dari antagois adrenergik, misalnya penurunan nadi dan tekanan darah yang drastis, tanda – tanda adanya kongesti vaskular/CHF, atau henti jantung.
        Rasional: Satu indikasi untuk menurunkan atau menghentikan terapi.

      Kolaborasi
      • Berikan cairan iv sesuai indikasi.
        Rasional: Pemberian cairan melalui iv dengan cepat perlu untuk memperbaiki volume sirkulasi tetapi harus diimbangi dengan perhatian terhadap tanda gagal jantung/kebutuhan terhadap pemberian zat inotropik.
      • Berikan O2 sesuai indikasi
        Rasional: Mungkin juga diperlukan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan metabolisme/kebutuhan terhadap oksigen tersebut.

  2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi; peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh.

    • Data penunjang: mengungkapkan sangat kekurangan energi untuk mempertahankan rutinitas umum, penurunan penampilan, labilitas/peka rangsang emosional, gugup, tegang, perilaku gelisah, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi.
    • Tujuan asuhan keperawatan: Megungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi, menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktifitas.
    • Rencana tindakan/rasional:

    • Mandiri:
      • Pantau tanda vital dan catat nadi baik saat istirahat maupun saat melakukan aktifitas.
        Rasional: Nadi secara luas meningkat dan bahkan saat istirahat, takikardia (di atas 160x/mnt) mungkin akan ditemukan.
      • Catat berkembangnya takipnea, dispnea, pucat dan sianosis.
        Rasional: Kebutuhan dan konsumsi oksigen akan ditingkatkan pada keadaan hipermetabolik, yang merupakan potensial akan terjadi hipoksia saat melakukan aktivitas.
      • Berikan/ciptakan lingkungan yang tenang, ruangan yang dingin, turunkan stimulasi sesori, warna – warna yang sejuk dan musik santai (tenang).
        Rasional: Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif dan insomnia.
      • Sarankan pasien untuk mengurangi aktifitas dan meningkatkan istirahat di tempat tidur sebanyak – banyaknya jika memungkinkan.
        Rasional: Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme.
      • Berikan tindakan yang membuat pasien nyaman, seperti: sentuhan/masase, bedak yang sejuk.
        Rasional: Dapat menurunkan energi dalam saraf yang selanjutnya meningkatkan relaksasi.
      • Memberikan aktifitas pengganti yang menyenangkan dan tenang, seperti membaca, mendengarkan radio dan menonton televisi.
        Rasional: Memungkinkan untuk menggunakan energi dengan cara konstruktif dan mungkin juga akan menurunkan ansietas.
      • Hindari membicarakan topik yang menjengkelkan atau yang mengancam pasien, diskusikan cara untuk berespons terhadap perasaan tersebut.
        Rasional: Peningkatan kepekaan dari susunan saraf pusat dapat menyebabkan pasien mudah untuk terangsang, agitasi dan emosi yang berlebihan.
      • Diskusikan dengan orang terdekat keadaan lelah dan emosi yang tidak stabil ini.
        Rasional: Mengerti bahwa tingkah laku tersebut secara fisik meningkatkan koping terhadap situasi sat itu dorongan dan saran orang terdekat untuk berespons secara positif dan berikan dukungan pada pasien.

      Kolaborasi:
      • Berikan obat sesuai indikasi (sedatif, mis: fenobarbital / luminal, transquilizer / klordiazepoksida / librium.
        Rasional: Untuk mengatasi keadaan (gugup), hiperaktif dan insomnia.

  3. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/peasukan dengan penurunan berat badan); mual muntah, diare; kekurangan insulin yang relatif, hiperglikemia.
    • Tujuan asuhan keperawatan: Menunjukkan berat badan yang stabil disertai dengan nilai laboratorium yang normal dan terbebas dari tanda – tanda malnutrisi.
    • Rencana tindakan/rasional:

    • Mandiri:
      • Auskultasi bising usus.
        Rasional: Bising usus hiperaktif menerminkan peningkatan motilitas lambung yang menurunkan atau mengubah fungsi absorpsi.
      • Catat dan laporkan adanya anoreksia, kelelahan umum/nyeri, nyeri abdomen, munculnya mual dan muntah.
        Rasional: Peningkatan aktivitas adrenergik dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi resisten yang mengakibatkan hiperglikemia, polidipsia, poliuria, perubahan kecepatan dan kedalaman pernafasan (tanda asidosis metabolik).
      • Pantau masukan makanan setiap hari dan timbang berat badan setiap hari serta laporkan adanya penurunan berat badan.
        Rasional: Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid.
      • Dorong pasien untuk makan dan meningkatkan jumlah makan dan juga makanan kecil, dengan menggunakan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna.
        Rasional: Membantu menjaga pemasukan kalori cukup tinggi untuk menambahkan kalori tetap tinggi pada penggunaan kalori yang disebabkan oleh adanya hipermetabolik.
      • Hindari pemberian makanan yang dapat meningkatkan peristaltik usus (mis. Teh, kopi dan makanan berserat lainnya) dan cairan yang menyebabkan diare (mis. Apel, jambu dll).
        Rasional: Peningkatan motilitas saluran cerna dapat mengakibatkan diare dan gangguan absorpsi nutrisi yang diperlukan.

      Kolaborasi:
      • Konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin.
        Rasional: Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat – zat makanan yang adekuat dan mengidentifikasikan makanan pengganti yang paling sesuai.
      • Berikan obat sesuai indikasi: Berikan glukose sesuai dengan berat badan / kebutuhan klien
        Rasional: Diberikan untuk memenuhi kalori yang diperlukan dan mencegah atau mnegobati hipoglikemia.
      • Insulin (dengan dosis kecil)
        Rasional: Dilakukan dalam mengendalikan glukosa darah jika kemungkinan ada peningkatan.

  4. Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus.
    • Tujuan asuhan keperawatan: Mampu mengidentifikasikan tindakan untuk memberikan perlindungan pada mata dan pencegahan komplikasi.
    • Rencana tindakan/rasional:

    • Mandiri:
      • Observasi edema periorbital, gangguan penutupan kelopak mata, lapang pandang sempit, air mata berlebihan. Catat adanya fotofobia, rasa adanya benda di luar mata dan nyeri pada mata.
        Rasional: Manifestasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan berhubungan dengan tirotoksikosis yang memerlukan intervensi pendukung sampai resolusi krisis dapat menghilangkan simtomatologis.
      • Evaluasi ketajaman mata, laporkan adanya pandangan yang kabur atau pandangan ganda (diplopia).
        Rasional: Oftalmopati infiltratif (penyakit graves) adalah akibat dari peningkatan jaringan retro-orbita, yang menciptakan eksoftalmus dan infiltrasi limfosit dari otot ekstraokuler yang menyebabkan kelelahan. Munculnya gangguan penglihatan dapat memperburuk atau memperbaiki kemandirian terapi dan perjalanan klinis penyakit.
      • Anjurkan pasien menggunakan kacamata gelap ketika terbangun dan tutup dengan penutup mata selama tidur sesuai kebutuhan.
        Rasional: Melindungi kerusakan kornea jika pasien tidak dapat menutup mata dengan sempurna karena edema atau karena fibrosis bantalan lemak.
      • Bagian kepala tempat tidur ditinggikan dan batasi pemakaian  garam jika ada indikasi.
        Rasional: Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi seperti GJK yang mana dapat memperberat eksoftalmus.
      • Instruksikan agar pasien melatih otot mata ekstraokular jika memungkinkan.
        Rasional: Memperbaiki sirkulasi dan mempertahankan gerakan mata.
      • Berikan kesempatan pasien untuk mendiskusikan perasaannya tentang  perubahan gambaran atau bentuk ukuran tubuh untuk meningkatkan gambaran diri.
        Rasional: Bola mata yang agak menonjol menyebabkan seseorang tidak menarik, hal ini dapat dikurangi dengan menggunakan tata rias, menggunakan kaca mata.

      Kolaborasi:
      • Berikan obat sesuai dengan indikasi:
        • Obat tetes mata metilselulosa.
          Rasional: Sebagai lubrikasi mata.
        • ACTH, prednison.
          Rasional: Diberikan untuk menurunkan radang yang berkembang dengan cepat.
        • Obat antitiroid
          Rasional: Dapat menurunkan tanda / gejala atau mencegah keadaan yang semakin memburuk.
        • Diuretik
          Rasional: Dapat menurunkan edema pada keadaan ringan.


DAFTAR PUSTAKA:

  1. Arthur C. Guyton and John E. Hall ( 1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  2. Carolyn M. Hudak, Barbara M. Gallo (1996), Keperawatan Kritis; Pedekatan Holistik Volume II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  3. Donna D. Igatavicius, Kathy A. Hausman ( 1995), Medical Surgical Nursing: Pocket Companoin For 2 nd Edition, W. B. Saunders Company, Philadelphia.
  4. Lynda Juall Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  5. Marylin E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3, Peneribit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
  6. R. Sjamsuhidajat, Wim de Jong (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Minggu, 26 September 2010

Askep Artritis Reumatoid

Download Askep Kapuk Online Update tentang ASKEP ARTRITIS  REUMATOID

I.  KONSEP MEDIS


A. PENGERTIAN


Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165)

B. PENYEBAB / ETIOLOGI


Penyebab utama penyakit Reumatik masih belum diketahui secara pasti.  Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab Artritis Reumatoid, yaitu:
  • Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
  • Endokrin
  • Autoimmun
  • Metabolik
  • Faktor  genetik serta pemicu lingkungan
Pada saat ini Artritis rheumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh  karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita.

C. EPIDEMIOLOGI


Penyakit Artritis Rematoid merupakan suatu penyakit yang telah lama dikenal dan tersebar diseluruh dunia serta melibatkan semua ras dan kelompok etnik. Artritis rheumatoid sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan wanita denga pria sebesar 3: 1.  kecenderungan wanita untuk menderita Artritis rheumatoid dan sering dijumpai remisi pada wanita yang sedang hamil, hal ini menimbulkan dugaan terdapatnya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini.
rheumatoid arthritis

D. MANIFESTASI KLINIK


Ada beberapa gambaran / manifestasi klinik yang lazim ditemukan pada penderita Reumatik. Gambaran klinik ini tidak harus muncul sekaligus pada saat yang bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinik yang sangat bervariasi.
  1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, kurang nafsu makan, berat badan menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
  2. Poliartritis simetris (peradangan sendi pada sisi kiri dan kanan) terutama pada sendi perifer, termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi  antara jari-jari tangan dan kaki. Hampir semua sendi diartrodial (sendi yang dapat digerakan dengan bebas) dapat terserang.
  3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam, dapat bersifat umum tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis (peradangan tulang dan sendi), yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selama kurang dari 1 jam.
  4. Artritis erosif merupakan  merupakan ciri khas penyakit ini  pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan pengikisan ditepi tulang .
  5. Deformitas : kerusakan dari struktur  penunjang  sendi  dengan perjalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi  jari, pergeseran  sendi pada tulang telapak  tangan dan jari, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yang sering dijumpai pada penderita. Pada kaki terdapat tonjolan  kaput metatarsal yang timbul sekunder dari subluksasi metatarsal. Sendi-sendi yang besar juga dapat terserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi.
  6. Nodula-nodula reumatoid adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa penderita  rematik. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan, walaupun demikian tonjolan) ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan  petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.
  7. Manifestasi ekstra-artikular  (diluar sendi): reumatik juga dapat menyerang organ-organ lain diluar sendi. Seperti mata: Kerato konjungtivitis siccs yang merupakan sindrom SjÖgren,  sistem cardiovaskuler dapat menyerupai perikarditis konstriktif yang berat, lesi inflamatif yang menyerupai nodul rheumatoid dapat dijumpai pada myocardium dan katup jantung, lesi ini dapat menyebabkan disfungsi katup, fenomena embolissasi, gangguan konduksi dan kardiomiopati.

 E. DIAGNOSTIK


Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.
Kriteria Artritis rematoid menurut American reumatism Association (ARA) adalah:
  • Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari (Morning Stiffness).
  • Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi.
  • Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
  • Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.
  • Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris.
  • Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
  • Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid
  • Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
  • Pengendapan cairan musin yang jelek
  • Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
  • gambaran histologik yang khas pada nodul.
Berdasarkan kriteria ini maka disebut :
    • Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu
    • Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
    • Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu.

F. PENATALAKSANAAN / PERAWATAN


Oleh karena kausa pasti arthritis Reumatoid tidak diketahui maka tidak ada pengobatan kausatif yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Hal ini harus benar-benar dijelaskan kepada penderita sehingga tahu bahwa pengobatan yang diberikan bertujuan mengurangi keluhan/ gejala memperlambat progresifvtas penyakit.
Tujuan utama dari program penatalaksanaan / perawatan adalah sebagai berikut :
  • Untuk menghilangkan nyeri dan peradangan
  • Untuk mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari penderita
  • Untuk mencegah dan atau memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi
  • Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada orang lain.
Ada sejumlah cara penatalaksanaan yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, yaitu :
  1. Pendidikan
    Langkah pertama dari program penatalaksanaan ini adalah memberikan pendidikan yang cukup tentang penyakit kepada penderita, keluarganya dan siapa saja yang berhubungan dengan penderita. Pendidikan yang diberikan meliputi pengertian, patofisiologi (perjalanan penyakit), penyebab dan perkiraan perjalanan (prognosis) penyakit ini, semua komponen program penatalaksanaan termasuk regimen obat yang kompleks, sumber-sumber bantuan untuk mengatasi penyakit ini dan metode efektif tentang penatalaksanaan yang diberikan oleh tim kesehatan. Proses pendidikan ini harus dilakukan secara terus-menerus.
  2. Istirahat
    Merupakan hal penting karena reumatik biasanya disertai rasa lelah yang hebat. Walaupun rasa lelah tersebut dapat saja timbul setiap hari, tetapi ada masa dimana penderita merasa lebih baik atau lebih berat. Penderita harus membagi waktu seharinya menjadi beberapa kali waktu beraktivitas yang diikuti oleh masa istirahat.
  3. Latihan Fisik dan Termoterapi
    Latihan spesifik dapat bermanfaat dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencakup gerakan aktif dan pasif pada semua sendi yang sakit, sedikitnya dua kali sehari. Obat untuk menghilangkan nyeri perlu diberikan sebelum memulai latihan. Kompres panas pada sendi yang sakit dan bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri. Mandi parafin dengan suhu yang bisa diatur serta mandi dengan suhu panas dan dingin dapat dilakukan di rumah. Latihan dan termoterapi ini paling baik diatur oleh pekerja kesehatan yang sudah mendapatkan latihan khusus, seperti ahli terapi fisik atau terapi kerja. Latihan yang berlebihan dapat merusak struktur penunjang sendi yang memang sudah lemah oleh adanya penyakit.
  4. Diet/Gizi
    Penderita Reumatik tidak memerlukan diet khusus. Ada sejumlah cara pemberian diet dengan variasi yang bermacam-macam, tetapi kesemuanya belum terbukti kebenarannya. Prinsip umum untuk memperoleh diet seimbang adalah penting.
  5. Obat-obatan
    Pemberian  obat adalah bagian yang penting dari seluruh program penatalaksanaan penyakit reumatik. Obat-obatan yang dipakai untuk mengurangi nyeri, meredakan peradangan dan untuk mencoba mengubah perjalanan penyakit.


II. KONSEP KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN


Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
  • Aktivitas / istirahat
    Gejala :  Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan.
    Tanda :  Malaise, Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
  • Kardiovaskuler
    Gejala: Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki (mis: pucat intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
  • Integritas ego
    Gejala: Faktor-faktor stres akut / kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan), Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi (misalnya ketergantungan pada orang lain).
  • Makanan / cairan
    Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan / mengkonsumsi makanan / cairan adekuat: mual, anoreksia, Kesulitan untuk mengunyah (keterlibatan TMJ)
    Tanda: Penurunan berat badan, Kekeringan pada membran mukosa.
  • Hygiene
    Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan
  • Neurosensori
    Gejala: Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
    Gejala: Pembengkakan sendi simetris
  • Nyeri / kenyamanan
    Gejala: Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi).
  • Keamanan
    Gejala: Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutaneus. Lesi kulit, ulkus kaki. Kesulitan ringan dalam menangani tugas / pemeliharaan rumah tangga. Demam  ringan menetap. Kekeringan pada meta dan membran mukosa.
  • Interaksi sosial
    Gejala: Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain; perubahan peran; isolasi.
  • Penyuluhan / pembelajaran
    Gajala :  Riwayat AR pada keluarga (pada awitan remaja). Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, “ penyembuhan “ arthritis tanpa pengujian. Riwayat perikarditis, lesi katup, fibrosis pulmonal, pleuritis.

    Pertimbangan: DRG Menunjukkan rerata lama dirawat : 4,8 hari.
    Rencana Pemulangan: Mungkin membutuhkan bantuan pada transportasi, aktivitas perawatan diri, dan tugas/ pemeliharaan rumah tangga.

B. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


  • Faktor Reumatoid : positif pada 80-95% kasus.
  • Fiksasi lateks: Positif pada 75 % dari kasus-kasus khas.
  • Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
  • Laju Endap Darah: Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala-gejala meningkat
  • Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi.
  • Sel Darah Putih: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi.
  • Haemoglobin: umumnya menunjukkan anemia sedang.
  • Ig (Ig M dan Ig G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun sebagai penyebab AR.
  • Sinar x dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan (perubahan awal) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
  • Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium
  • Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
  • Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning (respon inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan komplemen (C3 dan C4).
  • Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas.

C. PRIORITAS KEPERAWATAN


  • Menghilangkan nyeri
  • Meningkatkan mobilitas.
  • Meningkatkan monsep diri yang positif
  • mendukung kemandirian
  • Memberikan informasi mengenai proses penyakit/ prognosis dan keperluan pengobatan.

D. TUJUAN PEMULANGAN


  • Nyeri hilang/ terkontrol
  • Pasien menghadapi saat ini dengan realistis
  • Pasien dapat menangani AKS sendiri/ dengan bantuan sesuai kebutuhan.
  • Proses/ prognosis penyakit dan aturan terapeutik dipahami.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN


  1. NYERI AKUT/ KRONIS

  2. Dapat dihubungkan dengan:
    • Agen pencedera
    • Distensi jaringan oleh akumulasi cairan / proses inflamasi
    • Destruksi sendi.

    Dapat dibuktikan oleh: 
    • Keluhan nyeri, ketidaknyamanan, kelelahan.
    • Berfokus pada diri sendiri/ penyempitan fokus
    • Perilaku distraksi/ respons autonomic
    • Perilaku yang bersifart ahti-hati/ melindungi

    Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi pasien akan:
    • Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol
    • Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
    • Mengikuti program farmakologis yang diresepkan
    • Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke dalam program kontrol nyeri.

    Intervensi dan Rasional:
    • Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
      Rasional: Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program
    • Berikan matras / kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan
      Rasional: Matras yang lembut / empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri
    • Tempatkan/ pantau penggunaan bantl, karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, brace.
      Rasional: Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri dan dapat mengurangi kerusakan pada sendi
    • Dorong untuk sering mengubah posisi,. Bantu untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan yang menyentak.
      Rasional: Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/ rasa sakit pada sendi
    • Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap hangat untuk mengompres sendi-sendi yang sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air kompres, air mandi, dan sebagainya.
      Rasional: Panas meningkatkan relaksasi otot, dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan
    • Berikan masase yang lembut
      Rasional: Meningkatkan relaksasi / mengurangi nyeri
    • Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi progresif, sentuhan terapeutik, biofeed back, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas.
      Rasional: Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol dan mungkin meningkatkan kemampuan koping
    • Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
      Rasional: Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat
    • Beri obat sebelum aktivitas / latihan yang direncanakan sesuai petunjuk.
      Rasional: Meningkatkan realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi
    • Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk (mis:asetil salisilat)
      Rasional: Sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.
    • Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan
      Rasional: Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak selama periode akut

  3. MOBILITAS FISIK, KERUSAKAN

  4. Dapat dihubungkan dengan :
    • Deformitas skeletal
    • Nyeri
    • Ketidaknyamanan
    • Intoleransi aktivitas
    • Kenurunan kekuatan otot.

    Dapat dibuktikan oleh:
    • Keengganan untuk mencoba bergerak / ketidakmampuan untuk dengan sendiri bergerak dalam lingkungan fisik
    • Membatasi rentang gerak, ketidakseimbangan koordinasi, penurunan kekuatan otot / kontrol dan massa (tahap lanjut).

    Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi, Pasien akan:
    • Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya / pembatasan kontraktur.
    • Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau konpensasi bagian tubuh.
    • Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas

    Intervensi dan Rasional:
    • Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi
      Rasional: Tingkat aktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi
    • Pertahankan istirahat tirah baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tidur malam hari yang tidak terganmggu.
      Rasional: Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan mempertahankan kekuatan
    • Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif, demikiqan juga latihan resistif dan isometris jika memungkinkan
      Rasional: Mempertahankan / meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.
      Catatan : latihan tidak adekuat menimbulkan kekakuan sendi, karenanya aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi
    • Ubah posisi dengan sering dengan jumlah personel cukup. Demonstrasikan / bantu tehnik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze
      Rasional: Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan diri dan kemandirian pasien. Tehnik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan abrasi kulit
    • Posisikan dengan bantal, kantung pasir, gulungan trokanter, bebat, brace
      Rasional: Meningkatkan stabilitas (mengurangi resiko cidera) dan memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor
    • Gunakan bantal kecil/tipis di bawah leher.
      Rasional: Mencegah fleksi leher
    • Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi, berdiri, dan berjalan
      Rasional: Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas
    • Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi, menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.
      Rasional: Menghindari cidera akibat kecelakaan / jatuh
    • Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.
      Rasional: Berguna dalam memformulasikan program latihan / aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengidentifikasikan alat
    • Kolaborasi: Berikan matras busa / pengubah tekanan.
      Rasional: Menurunkan tekanan pada jaringan yang mudah pecah untuk mengurangi risiko imobilitas
    • Kolaborasi: berikan obat-obatan sesuai indikasi (steroid).
      Mungkin dibutuhkan untuk menekan sistem inflamasi akut

  5. GANGGUAN CITRA TUBUH/ PERUBAHAN PENAMPILAN PERAN

  6. Dapat dihubungkan dengan :
    • Perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum
    • Peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas

    Dapat dibuktikan oleh:
    • Perubahan fungsi dari bagian-bagian yang sakit.
    • Bicara negatif tentang diri sendiri, fokus pada kekuatan masa lalu, dan penampilan.
    • Perubahan pada gaya hidup / kemapuan fisik untuk melanjutkan peran, kehilangan pekerjaan, ketergantungan pada orang terdekat
    • Perubahan pada keterlibatan sosial; rasa terisolasi.
    • Perasaan tidak berdaya, putus asa.

    Hasil yang dihapkan / kriteria Evaluasi-Pasien akan :
    • Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan.
    • Menyusun rencana realistis untuk masa depan.

    Intervensi dan Rasional:
    • Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan.
      Rasional: Berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/ kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung
    • Diskeusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari, termasuk aspek-aspek seksual.
      Rasional: Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi/ konseling lebih lanjut
    • Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana orang terdekat menerima keterbatasan.
      Rasional: Isyarat verbal / non verbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri
    • Akui dan terima perasaan berduka, bermusuhan, ketergantungan.
      Rasional: Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah dan bermusuhan umum terjadi
    • Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu memperhatikan perubahan.
      Rasional: Dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut
    • Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping.
      Rasional: Membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri
    • Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas.
      Rasional: Meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong berpartisipasi dalam terapi
    • Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.
      Rasional: Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri
    • Berikan bantuan positif bila perlu.
      Memungkinkan pasien untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan perilaku positif. Meningkatkan rasa percaya diri
    • Kolaborasi: Rujuk pada konseling psikiatri, mis: perawat spesialis psikiatri, psikolog.
      Rasional: Pasien / orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang / ketidakmampuan
    • Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan peningkat alam perasaan.
      Rasional: Mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemampuan koping yang lebih efektif

  7. KURANG PERAWATAN DIRI

  8. Dapat dihubungkan dengan :
    • Kerusakan muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.

    Dapat dibuktikan oleh:
    • Ketidakmampuan untuk mengatur kegiatan sehari-hari.

    Hasil yang dihapkan / kriteria Evaluasi, Pasien akan :
    • Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuan individual.
    • Mendemonstrasikan perubahan teknik / gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri.
    • Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi / komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri.

    Intervensi dan Rasional:
    • Diskusikan tingkat fungsi umum (0-4) sebelum timbul awitan/ eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang diantisipasi.
      Rasional: Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini.
    • Pertakhankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan.
      Rasional: Mendukung kemandirian fisik/emosional
    • Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri. Identifikasi / rencana untuk modifikasi lingkungan.
      Rasional: Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri
    • Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi.
      Rasional: Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran
    • Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan di rumah sebelum pemulangan dengan evaluasi setelahnya.
      Rasional: Mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dihadapi karena tingkat kemampuan aktual
    • Kolaborasi: atur konsul dengan lembaga lainnya, mis: pelayanan perawatan rumah, ahli nutrisi.
      Rasional: Mungkin membutuhkan berbagai bantuan tambahan untuk persiapan situasi di rumah

  9. PENATALAKSANAAN PEMELIHARAAN RUMAH, KERUASAKAN, RESIKO TINGGI TERHADAP

  10. Faktor risiko meliputi:
    • Proses penyakit degeneratif jangka panjang, sistem pendukung tidak adekuat.

    Dapat dibuktikan oleh:
    • (Tidak dapat diterapkan; adanya tanda dan gejala membuat diagnosa menjadi aktual)

    Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi, Pasien akan :
    • Mempertahankan keamanan, lingkungan yang meningkatkan pertumbuhan.
    • Mendemonstrasikan penggunaan sumber-sumber yang efektif dan tepat.

    Intervensi dan Rasional:
    • Kaji tingkat fungsi fisik
      Rasional: Mengidentifikasi bantuan/ dukungan yang diperlukan
    • Evaluasi lingkungan untuk mengkaji kemampuan dalam perawatan untuk diri sendiri.
      Rasional: Menentukan kemungkinan susunan yang ada/ perubahan susunan rumah untuk memenuhi kebutuhan individu
    • Tentukan sumber-sumber finansial untuk memenuhi kebutuhan situasi individual. Identifikasi sistem pendukung yang tersedia untuk pasien, mis: membagi tugas-tugas rumah tangga antara anggota keluarga.
      Rasional: Menjamin bahwa kebutuhan akan dipenuhi secara terus-menerus
    • Identifikasi untuk peralatan yang diperlukan, mis: lift, peninggian dudukan toilet.
      Rasional: Memberikan kesempatan untuk mendapatkan peralatan sebelum pulang
    • Kolaborasi: Koordinasikan evaluasi di rumah dengan ahli terapi okupasi.
      Rasional: Bermanfaat untuk mengidentifikasi peralatan, cara-cara untuk mengubah tugas-tugas untuk mengubah tugas-tugas untuk mempertahankan kemandirian
    • Kolaborasi: Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: pelayanan pembantu rumah tangga bila ada.
      Rasional: Memberikan kemudahan berpindah pada / mendukung kontinuitas dalam situasi rumah

  11. KURANG PENGETAHUAN (KEBUTUHAN BELAJAR), MENGENAI PENYAKIT, PROGNOSIS, DAN KEBUTUHAN PENGOBATAN.

  12. Dapat dihubungkan dengan :
    • Kurangnya pemajanan / mengingat.
    • Kesalahan interpretasi informasi.

    Dapat dibuktikan oleh:
    • Pertanyaan / permintaan informasi, pernyataan kesalahan konsep.
    • Tidak tepat mengikuti instruksi / terjadinya komplikasi yang dapat dicegah.

    Hasil yang diharapkan / kriteria Evaluasi, pasien akan :
    • Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.
    • Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas.

    Intervensi dan Rasional:
    • Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan.
      Rasional: Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
    • Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui diet,obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat.
      Rasional: Tujuan kontrol penyakit adalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas
    • Bantu dalam merencanakan jadwal aktivitas terintegrasi yang realistis,istirahat, perawatan pribadi, pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres.
      Rasional: Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakit kronis kompleks
    • Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik.
      Rasional: Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung pada ketepatan dosis
    • Anjurkan mencerna obat-obatan dengan makanan, susu, atau antasida pada waktu tidur.
      Rasional: Membatasi irigasi gaster, pengurangan nyeri pada HS akan meningkatkan tidur dan mengurangi kekakuan di pagi hari
    • Identifikasi efek samping obat-obatan yang merugikan, mis: tinitus, perdarahan gastrointestinal, dan ruam purpuruik.
      Rasional: Memperpanjang dan memaksimalkan dosis aspirin dapat mengakibatkan takar lajak. Tinitus umumnya mengindikasikan kadar terapeutik  darah yang tinggi
    • Tekankan pentingnya membaca label produk dan mengurangi penggunaan obat-obat yang dijual bebas tanpa persetujuan dokter.
      Rasional: Banyak produk mengandung salisilat tersembunyi yang dapat meningkatkan risiko takar layak obat/ efek samping yang berbahaya
    • Tinjau pentingnya diet yang seimbang dengan makanan yang banyak mengandung vitamin, protein dan zat besi.
      Rasional: Meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan jaringan
    • Dorong pasien obesitas untuk menurunkan berat badan dan berikan informasi penurunan berat badan sesuai kebutuhan.
      Rasional: Pengurangan berat badan akan mengurangi tekanan pada sendi, terutama pinggul, lutut, pergelangan kaki, telapak kaki
    •  Berikan informasi mengenai alat bantu
      Rasional: Mengurangi paksaan untuk menggunakan sendi dan memungkinkan individu untuk ikut serta secara lebih nyaman dalam aktivitas yang dibutuhkan
    • Diskusikan tekinik menghemat energi, mis: duduk dari pada berdiri untuk mempersiapkan makanan dan mandi
      Rasional: Mencegah kepenatan, memberikan kemudahan perawatan diri, dan kemandirian
    • Dorong mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada saat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas, misalnya menjaga agar sendi tetap meregang, tidak fleksi, menggunakan bebat untuk periode yang ditentukan, menempatkan tangan dekat pada pusat tubuh selama menggunakan, dan bergeser daripada mengangkat benda jika memungkinkan.
      Rasional: Mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri
    • Tinjau perlunya inspeksi sering pada kulit dan perawatan kulit lainnya dibawah bebat, gips, alat penyokong. Tunjukkan pemberian bantalan yang tepat.
      Rasional: Mengurangi resiko iritasi / kerusakan kulit
    • Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan / pemeriksaan laboratorium, mis: LED, Kadar salisilat, PT.
      Rasional: Terapi obat-obatan membutuhkan pengkajian / perbaikan yang terus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya.
    • Berikan konseling seksual sesuai kebutuhan
      Rasional: Informasi mengenai posisi-posisi yang berbeda dan tehnik atau pilihan lain untuk pemenuhan seksual mungkin dapat meningkatkan hubungan pribadi dan perasaan harga diri / percaya diri
    • Identifikasi sumber-sumber komunitas, mis: yayasan arthritis (bila ada).
      Bantuan / dukungan dari oranmg lain untuk meningkatkan pemulihan maksimal

Kamis, 23 September 2010

Mammografi: Deteksi dini Kanker Payudara

Download Askep Kapuk Online Update Pemeriksaan Keperawatan tentang Mammografi: Deteksi dini Kanker Payudara

Apakah Mammografi itu?


Mammografi adalah pemeriksaan foto dengan menggunakan dosis rendah sinar-X pada payudara yang dapat mendeteksi Kanker Payudara walaupun belum teraba benjolan pada payudara. Gambaran yang dihasilkan Mammografi (Mammogram) dapat melihat struktur bagian dalam jaringan payudara dengan jelas
Mammografi

Kapan diperlukan Mammografi?


Mammografi biasanya dianjurkan oleh dokter untuk:
  • Evaluasi
    Bila terdapat kelainan pada payudara, misalnya rasa nyeri pada payudara, terasa benjolan pada payudara atau pada kelenjar getah bening ketiak, terjadi perubahan warna / bentuk / konsistensi pada payudara dan keluar cairan yang tidak normal dari puting payudara, kulit atau puting.
  • Deteksi Dini
    Untuk mendeteksi kanker payudara walaupun tidak ada gejala sebagai bagian dari chek-up rutin

Bila terasa benjolan pada payudara atau kelainan payudara yang lain, Mammografi membantu Dokter apakah benjolan tersebut jinak atau ganas dan membantu menentukan lokasi pertumbuhan tumor. Yang lebih penting, mammografi dapat membantu menentukan terapi yang diperlukan selanjutnya

Apakah Pentingnya Deteksi Dini Kanker Payudara?


Jika Kanker Payudara ditemukan lebih dini, kesempatan untuk sembuh dari kanker ini adalah sangat tinggi dan pengangkatan atau pembuangan terhadap payudara dapat jarang terjadi. Pada umumnya, tumor yang lebih kecil, lebih mudah diangkat seluruhnya tanpa harus mengangkat payudara seluruhnya (hanya tumornya saja

Mengapa dipilih Mammografi?


Penelitian di Amerika, Swedia dan Inggris telah didapatkan bahwa Mammografi sangat berguna untuk deteksi kanker payudara terutama bila dikerjakan bersama-sama dengan pemeriksaan fisik penderita. Dengan Mammografi, kematian penderita akibat kanker payudara dapat diturunkan sebanyak 30%

Apakah Mammografi tersebut aman?


Radiasi yang didapat penderita pada foto Mammografi adalah sangat kecil, sehingga aman bagi penderita. Sampai saat ini, tidak ada metode lainnya yang lebih baik dari foto Mammografi untuk mendeteksi tumor payudara sebelum benjolan dapat dirasakan.

Bagaimana Cara Pemeriksaan Mammografi?


Bagaimana persiapan pemeriksaan Mammografi?
  1. Tidak perlu berpuasa sebelum Mammografi
  2. Tidak memmakai deodorant atau bedak pada ketiak sebelum pemeriksaan, karena akan mengganggu gambaran Mammografi dan menyerupai proses keganasan

Bagaimana prosedur pemeriksaan Mammografi?
  1. Radiografer yang terlatih akan memandu anda. Anda akan diminta untuk melepas baju dan kemudian ditentukan posisi untuk foto payudara
  2. Foto dilakukan dua kali untuk setiap payudara, yaitu dari arah tengah ke tepi dan dari arah atas ke bawah.
  3. Hasil Mammografi di interprestasikan oleh Dokter spesialis radiologi


Kapankah sebaiknya anda melakukan Mammografi?


Untuk memerangi kanker payudara, American Cancer Society memberikan rekomendasi sebagai berikut:

Pada wanita yang masih mendapat menstruasi, sebaiknya Mammografi dilakukan hari ke-3 menstruasi sampai dengan pertengahan siklus menstruasi

Wanita usia 35 sampai 39 tahun
  • Periksa payudara anda sendiri setiap bulan 2 - 3 hari setelah selesai menstruasi
  • Periksakan payudara anda ke dokter anda setiap 3 tahun sekali
  • Periksa Mammografi antara usia 35 - 39 tahun

Wanita usia 40 sampai 49 tahun
  • Periksa payudara anda sendiri setiap bulan setelah selesai menstruasi
  • Periksakan payudara anda ke dokter anda setiap 1 tahun sekali
  • Periksa Mammografi setiap satu atau dua tahun sekali

Wanita usia 50 tahun keatas
  • Periksa payudara anda sendiri setiap bulan setelah selesai menstruasi
  • Periksakan payudara anda ke dokter anda setiap 1 tahun sekali
  • Periksa Mammografi setiap tahun, bahkan meski tidak terasa gejala apapun pada payudara Anda

Mammografi direkomendasikan terutama untuk wanita dengan faktor resiko kanker payudara atau kanker yang lain (indung telur, leher rahim, rahim, usus besar), yaitu:

  • Riwayat kanker payudara dalam keluarga
  • Menstruasi pertama pada umur kurang dari 12 tahun
  • Menopause setelah umur 55 tahun
  • Melahirkan pertama kali setelah umur 30 tahun
  • Pemakaian kontrasepsi pil
  • Tidak pernah melahirkan atau menyusui
  • Terapi pengganti hormon setelah menopause
  • Mengkonsumsi alkohol dan merokok
  • Kegemukan
  • Kurang olah raga

Rabu, 22 September 2010

LEAFLET KANKER SERVIKS

Setelah kemarin Download Askep Kapuk Online Update Pemeriksaan Keperawatan tentang penyakit pada laki-laki KANKER PROSTAT , kini giliran penyakit pada wanita tentang KANKER SERVIKS

Apa yang dimaksud Kanker Serviks?


Kanker Serviks adalah kanker yang terjadi pada area leher rahim (Serviks). Serviks terletak diantara rahim dan vagina
Kanker Seviks

Seberapa seringkah Kanker Serviks terjadi?


Kanker Serviks adalah kanker nomor dua yang paling sering menyebabkan kematian pada perempuan di seluruh dunia setelah kanker payudara.
Setiap tahun sekitar 500.000 perempuan di diagnosis menderita kanker serviks dan hampir 300.000 meninggal dunia. Secara keseluruhan 2,2 juta perempuan di dunia menderita kanker serviks
Kanker serviks cenderung muncul pada perempuan berusia 35 - 55 tahun, namun dapat pula muncul pada perempuandengan usia yang lebih muda.
95% kanker serviks disebabkan virus yang disebut Human Papilloma Virus (HPV>

Apa penyebab Kanker Serviks?


Setelah terjadi infeksi HPV, perkembangan ke arahkanker serviks tergantung dari jenis HPV-nya. HPV resiko rendah (Type 6 dan 11) hampir tidak beresiko menjadi kanker serviks, tapi dapat menimbulkan genital warts (kutil).Meskipun sebagian besarinfeksi HBV akan sembuh sendiri dalam 1 - 2 tahun karena adanya sistem kekebalan tubuh alami.
Infeksi yang menetap karena HPV resiko tinggi (Type 16 dan 18) akan mengarah pada kanker serviks. Kanker serviks mulai dari pra-kanker (Displasia) sampai berkembangnya sel-sel abnormal pada dinding serviks tanpa terkontrol dan membentuk sebuah benjolan yang disebut tumor

Apa Faktor Resiko terjadinya Kanker Serviks?


  • Kegiatan seksual sebelum usia 20 tahun
  • Berganti-ganti pasangan seksual
  • Papaparan terhadap infeksi menualar seksual
  • Higiene seksual buruk
  • Pengidap Kanker Serviks di keluarga
  • Merokok
  • Penurunan kekebalan tubuh (HIV / AIDS)
  • PAP Smear yang abnormal sebelumnya


Apa saja Gejala Kanker Serviks


Kondisi pra-kanker umumnya ditemukan melalui tes Pap Smear dimana ditemukan sel-sel abnormal. Bila sel-sel abnormal ini berkembang menjadi kanker serviks, barulah muncul gejala-gejala sebagai berikut
  1. Kanker stadium dini sering ditandai keputihan berlebihan, berbau busuk dan tidak sembuh-sembuh
  2. Perdarahan vagina yang tidak normal
    • Perdarahan diantara periode menstruasi yang reguler
    • Periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari biasanya
    • Perdarahan setelah hubungan seksual atau pemeriksaan panggul
    • Perdarahan pada wanita usia menopause
  3. Rasa sakit saat hubungan seksual
  4. Pucat, kesulitan atau nyeri dalam berkemih, nyeri di daerah sekitar panggul
  5. Bila kanker sudah mencapai Stadium Tiga keatas, maka akan terjadi pembengkakan di berbagai anggota tubuh seperti betis, paha dan sebagainya


Bila mengalami salah satu gejala di atas, segera hubungi dokter. Kondisi di atas tidak selalu disebabkan oleh kanker serviks


Bagaimana Kanker Serviks di Deteksi?


Tes Pap Smear dapat mendeteksi adanya sel yang tidak normal pada serviks secara dini
Pap Smear

“Gambar diambil dari :http://medicalimages.allrefer.com"


Tips Pencegahan Kanker Serviks


  1. Menjaga kebersihan bagian kewanitaan
  2. Bila terjadi tanda abnormal pada leher rahim, segera lakukan pemeriksaan Pap Smear
  3. Lakukan hubungan seksual yang sehat
  4. Laki-laki yang tidak di khitan harus menjaga higiene seksual, karena rentan sebagai penyebar Virus HPV
  5. Jangan berganti-ganti pasangan dalam hubungan seksual (sex-partner) karena merupakan penyebab utama masuknya Virus HPV

Selasa, 21 September 2010

KANKER PROSTAT

Download Askep Kapuk Online Update Pemeriksaan Keperawatan tentang KANKER PROSTAT

Apakah Prostat itu?


Prostat adalah kelenjar yang merupakan bagian dari sistem urogenetal pria. Berukuran dan berbentuk seperti kenari terletak dibawah kandung kencing, dimuka rektum, mengelilingi uretra (pipa yang menyalurkan urine dari kandung kemih keluar tubuh). Prostat menghasilkan cairan semen yang berfungsi sebagai pembawa sperma

Apa saja penyakit yang bisa menyerang Prostat?

Kanker Prostat
Seiring dengan bertambahnya usia, makin banyak penyakit yang bisa mengenai prostat, diantaranya: pembesaran prostat jinak (Benign Prostate Hypertropy - BPH), Prostatitis dan Kanker Prostat

Apakah Kanker Prostat itu?


Jika sel membelah secara berlebihan, terjadilah tumor. Pada kanker prostat, terjadi pembelahan dan pertumbuhan sel kelenjar prostat secara berlebihan. Kanker prostat merupakan jenis kanker yang paling sering pada pria dan merupakan penyebab kematian utama karena kanker

Siapa saja yang beresiko untuk terkena Kanker Prostat?


Kanker prostat bisa menyerang siapa saja, terutama yang mempunyai faktor resiko sebagai berikut:
  • Pria usia diatas 55 tahun
  • Riwayat kanker prostat pada keluarga
  • Diet tinggi lemak
  • Riwayat pembesaran prostat jinak (BPH)
  • Obesitas / kegemukan
  • Kurang olah raga
  • Merokok
  • Riwayat paparan radiasi pelvis

Apakah Gejala dan Tanda Kanker Prostat


Kanker prostat pada stadium dini sering tidak memberikan gejala apapun. Penyakit awalnya berkembang lambat, akan tetapi pada tahap yang lebih lanjut akan muncul gejala:
  • Sering kencing terutama malam hari
  • Sulit memulai kencing
  • Tidak bisa kencing
  • Aliran kencing lemah atau tersendat-sendat
  • Nyeri atau panas saat kencing
  • Gangguan ereksi
  • Nyeri saat ejakulasi
  • Terdapat darah dalam urine atau semen
  • Nyeri atau kaku di punggung bawah, panggul atau paha atas

Apa yang dimaksud dengan Screening untuk Kanker Prostat?


Screening adalah pemeriksaan terhadap pria tanpa gejala kanker prostat. Bertujuan untuk mendeteksi kanker prostat sedini mungkin. Terdapat 2 cara screening yaitu DRE (Digital Rectal Examination) atau pemeriksaan colok dubur, serta pemeriksaan kadar PSA darah. Pemeriksaan colok dubur murah dan mudah dilakukan tapi kurang efektif karena 50% kanker prostat tidak terdeteksi.

Apakah PSA itu?


PSA (Prostate Spesific Antigen) merupakan protein yang hanya dihasilkan oleh kelenjar prostat. Tinggi rendahnya kadar PSA dapat membedakan berbagai kelainan prostat. Akan tetapi, pemeriksaan PSA saja belum mampu menyingkirkan atau menegakkan diagnosa Kanker Prostat. Kombinasi pemeriksaan colok dubur dan PSA memberikan efektifitas yang optimal untuk screening kanker prostat

Apa yang harus dilakukan jika pemeriksaan positif?


Jika pemeriksaan colok dubur dan PSA menunjukkan kecurigaan ke arah kanker prostat, biasany dokter akan meminta periksa biopsi, yaitu dengan mengambil sedikit sampel jaringan prostat dan diperiksa menggunakan mikroskop. Pemeriksaan ini untuk memastikan diagnosis kanker prostat secara akurat

Apa yang harus dilakukan jika hasil positif menderita Kanker Prostat


Kanker prostat bukan penyakit yang tak dapat diobati. Tergantung pada stadium kanker dan penyebarannya. Pilihan terapi meliputi: pembedahan, terapi radiasi, terapi hormon dan kemoterapi. Semakin dini kanker terdeteksi, semakin besar kemungkinan keberhasilan terapi

Apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghindarkan diri dari Kanker Prostat?


  • Lakukan pemeriksaan PSA setiap tahun mulai usia 45 tahun, bila terdapat riwayat kanker prostat pada keluarga
  • Waspada bila terjadi peningkatan kadar diatas 25%, segera konsultasikan hasil test pada Dokter
  • Deteksi dini memberikan keberhasilan terapi yang lebih besar

ASKEP POST VAKUM EKSTRAKSI INDIKASI KALA II TAK MAJU

KONSEP DASAR


A. Pengertian


Post partum atau masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifas 6-8 minggu (Mochtar, 1998 : 115). Sedangkan menurut Prawirohardjo (2001 : 187) post partumadalah masa dimana alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang dimulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.

Askep Post Vakum Ekstraksi Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18-24 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2000 : 100). Sedangkan Farrer (2001 : 118) berpendapat bahwa persalinan normal adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm (bukan prematur atau post matur) mempunyai janin (tunggal) dengan presentasi verteks (puncak kepala) terlaksana tanpa bantuan, tidak mencakup komplikasi (seperti perdarahan hebat) mencakup kelahiran plasenta yang normal.

Fase laten kala II kontraksi rahim yang lemah disekitar waktu pembukaan lengkap sering kali dijumpai fase laten kala II sering dipandang abnormal dan dapat ditangani sebagai inersia uteri. Pada fase aktif kala II ditandai dengan penurunan janin dan usaha untuk mengejan tanpa sadar, fase ini kadang-kadang disebut sebagai bagian panggul dari persalinan, periode mengejan, kontraksi usaha mengejan dan posisi tubuh wanita merupakan kekuatan yang tergabung untuk melahirkan bayi (Simkin, 2005 : 89).

Persalinan dengan vakum esktraksi adalah suatu persalinan buatan di mana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) pada kepalanya (Prawirohardjo, 2000 : 10). Menurut Saifuddin (2000 : 495) vakum ekstraksi merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. Sedangkan Mochtar (1998 : 120) berpendapat bahwa vakum ekstraksi merupakan suatu alat yang dipakai untuk memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir.

B. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


Anatomi dan fisiologi sistem reproduksi wanita  terdiri dari organ interna, yang terletak di dalam rongga pelvis dan genital eksterna yang terletak di  perineum. (Menurut Bobak 2004;29 ).

  1. Struktur eksterna
    1. Mons pubis atau mons veneris
      Adalah jaringan lemak subkutan berbentuk lunak dan padat. Mons pubis mengandung banyak kelenjar sebasea (minyak) dan ditumbuhi rambut berwarna hitam, kasar dan ikal pada masa pubertas, yakni sekitar satu sampai dua tahun sebelum awitan haid
    2. Labia mayora
      Adalah dua lipatan kulit panjang melengkung yang menutupi lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons pubis. Sensitivitas labia mayora terhadap sentuhan, nyeri dan suhu tinggi, hal ini diakibatkan adanya jaringan saraf yang menyebar luas yang juga berfungsi selama rangsangan seksual.
    3. Labia minora
      Adalah lipatan kulit panjang, sempit dan tidak berambut yang memanjang ke arah bawah klitoris dan menyatu dengan fourchette, terdapat banyak pembuluh darah sehingga tampak kemerahan.
    4. Klitoris
      Adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil, mengandung banyak pembuluh darah dan saraf sensoris sehingga sangat sensitif. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan seksual.
    5. Vestibulum
      Merupakan rongga yang berada diantara bibir kecil (labia minora) dibatasi oleh klitoris dan perinium, dalam vestibulum terdapat muara-muara dari introiuts vagina uretra, kelenjar bartolini dan kelenjar skine.
    6. Fourchette
      Adalah lipatan jaringan tranversal yang pipih dan tipis, terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan minora di garis tengah di bawah orifisium vagina.
    7. Perineum
      Adalah daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus vagina dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm.

  2. Struktur interna
    1. Ovarium
      Merupakan kelenjar terletak di kanan kiri uterus, di bawah dan di belakang tuba fallopi terikat oleh ligamentum latum uterus (mesovarium dan ovari proprium). Saat ovulasi (pematangan folikel degraf dan mengeluarkan ovum), ukuran ovarium dapat menjadi 2 kali lipat untuk sementara. Sebelum menarche permukaan ovarium licin, setelah maturitas sexual timbul luka parut akibat ovulasi dan ruptur folikel yang berulang membuat permukaan nodular menjadi kasar.
      Fungsi ovarium adalah
      • Memproduksi ovum
      • Memproduksi hormon (estrogen dan progesteron)
    2. Tuba falopi atau  tuba uterin
      Sepasang tuba falopi melekat pada fundus uterus memanjang ke arah lateral, panjang ± 10 cm dengan diameter 0,6 cm. Setiap tuba terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan peritonium (luar), lapisan otot tipis (tengah), lapisan mukosa (dalam). Tuba falopi terdiri 4 segmen meliputi :
      • Interstitialis: Bagian yang terdapat di dinding uterus
      • Ismus: Merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya
      • Ampularis: Bagian yang berbentuk saluran leher tempat konsepsi agak lebar
      • Infundibulum: Bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan mempunyai fimbria untuk menangkap ovum kemudian menyalurkan ke tuba

      Fungsi tuba falopi adalah menghantarkan ovum dari ovarium ke uterus. Perjalanan ovum dalam tuba fallopi didorong oleh gerakan peristaltik lapisan otot yang dipengaruhi oleh estrogen dan prostaglandin. Aktifitas ini terjadi saat ovulasi.
    3. Uterus
      Adalah organ berotot, terletak di dalam pelvis antara rektum dan vesika urinaria, panjang ± 7,5 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm, berat 50 gram.
      • Uterus terdiri dari :
        • Fundus uteri: Merupakan benjolan bulat dibagian atas dan terletak di atas insersi tuba falopi.
        • Korpus uteri: Bagian yang mengelilingi cavum uteri (rongga rahim) berfungsi sebagai tempat janin berkembang.
        • Ismus/servik uteri    :   Ujung servik menuju puncak vagina disebut porsio, hubungan antara kavum uteri, dan kanalis servikalis disebut ostium uteri internium
      • Fungsi uterus :
        Untuk menahan ovum yang telah dibuahi selama perkembangan, pembuahan ovum secara normal terjadi di dalam tuba uterin, endometrium disiapkan untuk menerima ovum yang telah dibuahi, dan ovum tertanam dalam endometrium. Pada waktu hamil uterus bertambah besar dindingnya menjadi tipis tetapi kuat dan besar sampai ke luar pelvis masuk ke dalam rongga abdomen pada masa pertumbuhan janin. Pada saat melahirkan uterus berkontraksi mendorong bayi dan plasenta keluar.
    4. Vagina
      Tabung yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris khusus dialiri banyak pembuluh darah dan serabut saraf. Panjangnya dari vestibulum sampai uterus 7,5 cm. Merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Dinding depan vagina 9 cm, lebih pendek dari dinding belakang, pada puncak vagina menonjol leher rahim (servik uteri) yang disebut porsio. Bentuk vagina lapisan bagian dalam berlipat-lipat disebut rugae.
    5. Servik (bagian paling bawah uterus)
      Disusun oleh jaringan ikat fibrosa, serabut otot, jaringan elastis, karakteristik servik atau kemampuannya meregang pada saat melahirkan anak pervaginaan, dipengaruhi oleh jaringan ikat yang banyak dan kandungan serabut yang elastis. Lipatan di dalam lapisan endoservik dan 10 % kandungan serabut otot.

C. Etiologi


  1. Teori-teori terjadinya persalinan menurut Manuaba (1998 : 158)
    1. Teori keregangan
      Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas waktu tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai.
    2. Teori penurunan progesteron
      Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur hamil 28 minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Produksi progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap oksitosin. Akibatnya otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai tingkat penurunan progesteron tertentu.
    3. Teori oksitosin internal
      Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis parst posterior Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontraksi braxton hicks. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat besarnya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingga persalinan dapat dimulai
    4. Teori prostaglandin
      Teori prostaglandin meningkat sejak umur 15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan. Prostaglandin dianggap dapat merupakan terjadinya persalinan
    5. Teori hipotalamus-pituatri dan glandula suprarenalis
      Teori menunjukkan pada kehamilan dengan anersefalus, sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus. Pemberian kortikosteroid yang dapat menyebabkan maturitas janin, induksi mulainya persalinan. Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadinya persalinan.
  2. Indikasi dilakukan vakum ekstraksi menurut (Prawirohardjo, 2000 : 82)
    1. Untuk mempercepat kala II misalnya : penyakit jantung kompensta, penyakit paru-paru fibrotik.
    2. Waktu kala II yang memanjang
    3. Gawat janin (masih kontroversi)
    4. Kelelahan ibu
    5. Partus tak maju
  3. Penyebab lambatnya kala II menurut (Simkin, 2005 : 13)
    1. Posisi dan strategi lain untuk dugaan janin oksiput posterior atau oksiput transversal menetap.
    2. Diduga disproporsi kepala panggul (CPD).
    3. Diduga terjadi distasia emosional

D. Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis masa nifas menurut Depkes (2004 : 6)
  1. Adaptasi fisik
    1. Tanda-tanda vital
      Pada 24 jam pertama suhu meningkat hingga 38°C sebagai akibat efek dehidrasi selama persalinan. Pada hari ke-2 sampai sepuluh suhu meningkat karena adanya infeksi kemungkinan mastitis infeksi infeksi traktus urinarius. Periode 6-8 hari sering terjadi bradikadi.
    2. Sistem kardiovaskuler
      Tekanan darah ibu harus kembali stabil sesudah melahirkan. Berkeringat dan menggigil disebabkan oleh ketidakstabilan vasomotor, komponen darah yang meliputi haemoglobin, hematokrit, dan eritrosit ibu post partus sesuai sebelum melahirkan.
    3. Sistem tractus urinarius
      Selama proses persalinan kandung kemih merupakan sasaran untuk mengalami trauma yang dapat disebabkan karena tekanan dan edema. Perubahan ini dapat menimbulkan overdistensi dan pemenuhan kandung kemih yang terjadi selama 2 hari post partum. Hematuri pada periode early post partum menunjukkan adanya trauma pada kandung kemih selama persalinan, selanjutnya bisa terjadi infeksi pada saluran kemih. Aseton dapat terjadi karena dehidrasi setelah persalinan lama, aliran darah ke ginjal glomerular filtration dan ureter dalam waktu sebulan secara bertahap akan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
    4. Sistem endokrin
      Mengikuti lahirnya placenta maka segera terjadi penurunan estrogen, progesteron dan prolaktin dengan cepat. Pada wanita tidak menyusui prolaktin akan terus menurun sampai normal pada minggu pertama. Perubahan payudara kolostrum sebelum produksi susu dapat muncul pada trimester III kehamilan dan dilanjutkan pada minggu pertama post partum.
    5. Sistem gastrointestinal
      Kembalinya fungsi normal usus besar biasanya pada minggu pertama post partum.
    6. Sistem muskuloskeletal
      Otot abdomen secara bertahap atau melebar selama kehamilan, menyebabkan pengurangan tonus otot yang akan terlihat jelas pada periode post partum.
    7. Sistem reproduksi
      • Involusi uteri
        Pada akhir kala III ukuran uterus panjang 14 cm, lebar 12 cm, tebal 10 cm, berat kurang lebih 1000 gram sama dengan umur 16 minggu kehamilan.
      • Kontraksi uterus
        Dengan adanya kontraksi uterus akan menjepit pembuluh darah uterus sehingga perdarahan dapat terhenti.
      • Lochea
        Adalah sekret yang berasal dari kavum uteri yang dikeluarkan melalui vagina pada masa nifas. Macam-macam lochea antara lain : lochea rubra, lochea serosa, lochea alba, lochea purulenta, lochiostatis.
      • Cervix
        Servik dan segmen uterus dengan bawah akan tampak edema tipis dan terbuka pada beberapa hari setelah melahirkan.
      • Vagina dan perineum
        Secara bertahap akan kembali ke sebelum hamil dalam 6-8 minggu setelah post partum.
  2. Adaptasi psikologi; menurut (Bobak, 2000 : 740)
    1. Proses parenting (proses menjadi orang tua) adalah masa menjadi orang tua secara biologis mulai sat terjadinya penemuan antara ovum dan sperma.
    2. Attachment dan bonding adalah proses terjadinya rasa cinta dan menerima anak dan anak menerima serta mencintai orang tua.
    3. Peran tugas dan tanggung jawab orang tua sesudah kelahiran
      Ada 3 periode tugas dan tanggung jawab menurut (Bobak, 2000 : 745)
      • Periode awal
        Periode ini orang tua akan mengorganisir hubungan orang tua dengan anaknya.
      • Periode konsol idasi
        Mencakup egoisasi terhadap peran (suami-istri, ayah, ibu, orang tua, anak, saudara-saudara).
      • Periode pertumbuhan
        Orang tua-anak akan berkembang dalam peranannya masing-masing sampai dengan dipisahkan oleh kematian.
    4. Penyesuaian ibu (maternal adjustment)
      Ada 3 fase perilaku ibu, menurut (Bobak, 2000 : 743)
      • Fase dependent (taking in)
        Pada hari 1-2 pertama ibu lebih memfokuskan pada dirinya sendiri.
      • Fase dependent-independen (taking hold)
        Ibu mulai menunjukkan perluasan, fokus intervensi yaitu memperlihatkan bayinya.
      • Fase dependen
        Dalam fase ini terjadi ketidaktergantungan dalam merawat diri dan bayi lebih meningkat.

E. Patofisiologi


Ada 4 faktor yang mempengaruhi proses persalinan kelahiran yaitu passenger (penumpang yaitu janin dan placenta), passagway (jalan lahir), powers (kekuatan) posisi ibu dan psikologi (Farrer, 1999 : 189). Penumpang, cara penumpang atau janin bergerak disepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap dan posisi janin. Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang yang padat, dasar panggul, vagina dan introitus (lubang luar vagina).

Meskipun jaringan lunak khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu lebih berperan dalam proses persalinan janin. Maka dari itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan. Kekuatan ibu melakukan kontraksi involunter dan volunter. Posisi ibu, posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan, posisi tegak memberi sejumlah keuntungan yaitu rasa letih hilang, merasa nyaman dan memperbaiki sirkulasi.

Pada kala II memanjang upaya mengedan ibu menambahi resiko pada bayi karena mengurangi jumlah oksigen ke placenta dianjurkan mengedan secara spontan jika tidak ada kemajuan penurunan kepala maka dilakukan ektraksi vakum untuk menyelamatkan janin dan ibunya (Simkin, 2005 : 2150). Dengan tindakan vakum ekstraksi dapat menimbulkan komplikasi pada ibu seperti robekan pada servik uteri dan robekan pada dinding vagina. Robekan servik (trauma jalan lahir) dapat menyebabkan nyeri dan resiko terjadinya infeksi (Doenges, 2001 : 388) dan komplikasi pada janin dapat menyebabkan subgaleal hematoma yang dapat menimbulkan ikterus neonatorum jika fungsi hepar belum matur dan terjadi nekrosis kulit kepala yang menimbulkan alopenia (Prawirohardjo, 2002 : 840.)

Pengeluaran janin pada persalinan menyebabkan trauma pada uretra dan kandung kemih dan organ sekitarnya (Reeder, 1999 : 645). Kapasitas kandung kemih post partum meningkat sehingga pengeluaran urin pada awal post partum banyak sehingga dapat mengakibatkan perubahan pola eliminasi urin (Doenges, 2001 : 295). Nyeri dapat mengakibatkan aktivitas terbatas sehingga terjadi penurunan peristaltik usus yang menyebabkan konstipasi (Manuaba, 2003 : 64).

Setelah bayi dilahirkan uterus akan menyesuaikan dengan keadaan tanpa janin kemudian memulai proses kontraksi dan retraksi, plasenta akan mulai terangkat dari dinding uterus sehingga pembuluh darah besar yang ada dalam uterus di belakang plasenta akan berdarah dan darah yang keluar akan mengisi retroplasenta. Jika sudah terisi darah perdarahan berhenti dan darah membeku hal ini menyebabkan kontraksi uterus lebih lanjut sehingga terjadi pelepasan plasenta (Farrer, 1999 : 61).

Setelah plasenta lahir terjadi penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron dan digantikan hormon hipofise anterior yaitu prolaktin yang akan mengaktifkan sel-sel kelenjar payudara untuk memproduksi ASI (Farrer, 1999 : 193). Kelenjar hipofise posterior menghasilkan oksitosin sebagai reaksi terhadap pengisapan puting. Oksitosin mempengaruhi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveoli mamae sehingga alveoli tersebut berkontraksi dan mengeluarkan air susu yang sudah diekskresikan oleh kelenjar mamae (Farrer, 1999 : 201).  Isapan bayi menimbulkan rangsangan hipofise melalui nervus interkostalis 4-6, menuju dorsal root, spinal cord nucleus praventrikularis dan supra optikus sehingga oksitosin dapat dikeluarkan. Fungsi oksitosin yaitu merangsang mioepitel sekitar alveoli dan duktus berkontraksi sehingga ASI dapat dikeluarkan, merangsang kontraksi uterus sehingga mempercepat involusi uteri (Manuaba, 2003 : 66).

F. Pathway


Pathway Download DISINI

G. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik post partum menurut  Mochtar ( 1998 : 118) meliputi :
  1. Pemeriksaan umum : tekanan darah, nadi, keluhan, suhu badan.
  2. Payudara : ASI, putting susu, areola
  3. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rectum.
  4. Sekret yang keluar misalnya lochea, flour albus.
  5. Keadaan alat-alat kandungan

Pemeriksaan post partum dengan episiotomi berfokus pada REEDA kemerahan (redness), pembengkakan (edema) bintik biru (echimosis) pengeluaran cairan (discharge), penyatuan jaringan (aproximation).
Pemeriksaan post  vakum ekstraksi menurut (Saefudin, 2002) meliputi ;

  1. Pemeriksaan bimanual untuk menemukan bukaan servik, besar, arah dan konsistensi uterus dan kondisi fornises.
  2. Pemeriksaan kedalaman dan lengkung uterus dengan penera kavum uteri.

H. Penatalaksanaan


Penatalaksanaan post partum spontan dengan vakum ekstraksi menurut Mochtar (1998 : 112) adalah
  1. Pada robekan perinium lakukan penjahitan dengan baik lapis demi lapis, perhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka ke arah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka.
  2. Segera mobilisasi dan realimentasi.
  3. Konseling keluarga berencana.
  4. Berikan antibiotika cukup.
  5. Pada luka perinium lama lakukan perineoplastik dengan membuka luka dan menjahitnya kembali sebaik-baiknya.

I. Fokus Pengkajian


Fokus pengkajian post partum menurut Doenges (2001 : 387) antara lain :
  1. Aktivitas atau istirahat
    Dapat tampak berenergi atau kelelahan atau keletihan, mengantuk.
  2. Sirkulasi
    Nadi biasanya lambat (50 sampai 70 dpm) karena hipersensitivitas vagal. Tekanan darah bervariasi, mungkin lebih rendah pada respons terhadap analgesia atau meningkat pada respons terhadap pemberian oksitosin atau hipertensi karena kehamilan.
    Edema bila ada, mungkin dependen atau dapat meliputi ekstremitas atas dan wajah atau mungkin umum. Kehilangan darah selama persalinan dan kelahiran sampai 400-500 ml untuk kelahiran vaginal atau 600-800 ml untuk kelahiran sesarea.
  3. Integritas ego
    Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah, misalnya eksitasi atau perilaku menunjukkan kurang kedekatan, tidak berminat (kelelahan).
  4. Eliminasi
    Hemoroid sering ada dan menonjol. Kandung kemih mungkin teraba di atas simfisis pubis. Diuresis dapat terjadi bila tekanan bagian presentasi menghambat aliran urinarius.
  5. Makanan atau cairan
    Dapat mengeluh haus, lapar atau mual.
  6. Neuro sensori
    Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya anestesia spinal atau analgesia kauda. Hiperfleksia mungkin ada.
  7. Nyeri atau ketidaknyamanan
    Dapat melaporkan ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya setelah nyeri, trauma jaringan atau perbaikan episiotomi, kandung kemih penuh atau menggigil.
  8. Keamanan
    Pada awalnya suhu tubuh meningkat sedikit. Perbaikan episiotomi utuh, dengan tepi jaringan merapat.
  9. Seksualitas
    Fundus keras berkontraksi, pada garis tengah dan terletak setinggi umbilikus. Drainase vagina atau lokhea jumlahnya sedang, merah gelap, dengan hanya beberapa bekuan kecil. Perineum bebas dari kemerahan, edema, ekimosis atau rabas. Striae mungkin ada pada abdomen, paha dan payudara. Payudara lunak, dengan puting tegang.
  10. Penyuluha atau pembelajaran
    Catat obat-obatan yang diberikan, termasuk waktu dan jumlah.
  11. Pemeriksaan diagnostik
    Hemoglobin atau hematokrit, jumlah darah lengkap, urinalisis.

J. Diagnosa Keperawatan dan Fokus Intervensi


Fokus intervensi pada pasien post partum spontan berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan menurut (Tucker ,1998 : 869)adalah sebagai berikut :

  1. Nyeri berhubungan dengan episiotomi, nyeri setelah melahirkan dan atau ketidaknyamanan payudara.
    Intervensi:
    1. Atasi nyeri berikan obat sesuai program
    2. Berikan kantong es pada perineum
    3. Anjurkan ibu untuk mengeratkan bokong bersamaan bila duduk pada luka episiotomi nyeri.
    4. Antisipasi kebutuhan terhadap penghilang nyeri
    5. Anjurkan ibu untuk menggunakan tehnik relaksasi
    6. Periksa payudara setiap 4 sampai 8 jam
    7. Izinkan ibu menggunakan bra penyongkong setiap waktu
    8. Kompres payudara selama 15 menit – 3 menit setiap 1-3 jam
    9. Massase payudara secara manual tekan payudara
  2. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan insisi atau laserasi
    Intervensi :
    1. Observasi kondisi episiotomi dan dokumentasi setiap hari
    2. Perhatikan terhadap peningkatan suhu tubuh atau perubahan lain pada parameter vital sign
    3. Lakukan perawatan perineum
    4. Perhatikan dan laporkan adanya drainase bau busuk
    5. Berikan antibiotik sesuai program
  3. Konstipasi berhubungan dengan episiotomi dan hemoragi sekunder terhadap proses kelahiran.
    Intervensi:
    1. Jamin masukan cairan adekuat
    2. Berikan pelunak feses atau laksatif sesuai program
    3. Anjurkan pasien untuk ambulasi sesuai toleransi
    4. Perhatikan diit reguler
  4. Resiko kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan pasca persalinan.
    Intervensi :
    1. Anjurkan cairan per oral.
    2. Ukur masukan dan haluaran selama 24 jam
    3. Pertahankan cairan parenteral dengan eksitosik program
    4. Hindari massage yang tidak perlu
    5. Ganti pembalut perineal setiap 30-60 menit sesuai kebutuhan
    6. Bila fundus lunak masage sampai keras
  5. Resiko retensi urin berhubungan dengan trauma dan edema lanjut sekunder terhadap kelahiran.
    Intervensi :
    1. Anjurkan cairan setiap hari sampai 3 liter kecuali dikontraindikasikan
    2. Anjurkan berkemih dalam 6-8 jam setelah melahirkan
    3. Berikan tehnik untuk membantu berkemih sesuai kebutuhan dengan berkemih rendam bokong
  6. Resiko terhadap perubahan peran orang tua berhubungan dengan transisi pada masa menjadi orang tua.
    Intervensi :
    1. Penuhi ketergantungan ibu selama berada pada fase 2-3 hari pertama
    2. Bantu dan ajarkan ibu untuk melakukan semua tugas perawatan bayi
    3. Ajarkan ibu dan pengunjung tehnik mencuci tangan yang baik
    4. Libatkan pasangan atau orang tua atau orang terdekat dalam perawatan bayi dan penyuluhan
    5. Hindari tehnik negatif pada ibu
  7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan pasca persalinan.
    Intervensi :
    1. Demonstrasikan perawatan payudara
    2. Tekankan pentingnya diit nutrisi
    3. Anjurkan pasien untuk menghindarkan koitus selama 4-6 minggu atau sesuai intruksi dokter.
    4. Jelaskan pentingnya kebersihan perineum
    5. Jelaskan pentingnya latihan ringan pada awal

Doenges (2001 : 237) juga menambahkan diagnosa yang muncul pada post partum berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan sebagai berikut :

  1. Berduka berhubungan dengan kematian janin atau bayi
    Intervensi :
    1. Libatkan pasangan dalam perencanaan perawatan
    2. Identifikasi ekspresi dan tahap berduka
    3. Tentukan makna kehilangan terhadap kedua anggota pasangan
    4. Perhatikan pola komunikasi antara anggota pasangan dan sistem pendukung
    5. Kuatkan realita situasi dan anjurkan diskusi dengan klien
    6. Anjurkan keluarga untuk mengekspresikan perasaan dan mendengar
    7. Kaji beratnya depresi
    8. Perhatikan tingkat aktivitas klien, pola tidur, nafsu makan, personal
  2. Kurang pengetahuan mengenai perawatan diri dan kebutuhan perawatan bayi berhubungan dengan kurang informasi.
    Intervensi :
    1. Berikan rencana penyuluhan dengan menggunakan format yang standarisasi.
    2. Pertahankan status psikologis klien dan respon terhadap kelahiran bayi dan peran menjadi ibu
    3. Anjurkan partisipasi dalam perawatan bila klien mampu
    4. Demonstrasikan tehnik-tehnik perawatan bayi
    5. Kaji ulang tingkat pengetahuan pasien
  3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, tindakan invasif.
    Intervensi :
    1. Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan dengan cermat
    2. Bersihkan luka dan ganti balutan bila basah
    3. Perhatikan jumlah dan bau lochea
    4. Kaji suhu, nadi, dan jumlah sel darah putih
    5. Perhatikan perawatan perineal dan kateter
    6. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
  4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan respon hormonal dan psikologis (sangat gembira, ansietas) nyeri.
    Intervensi :
    1. Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat.
    2. Kaji faktor-faktor bila ada yang mempengaruhi istirahat.
    3. Berikan lingkungan yang tenang.
    4. Berikan informasi tentang efek-efek kelelahan dan ansietas pada suplai ASI.

DAFTAR PUSTAKA


  1. Bobak, Loudermik, Jensen, 2004, Buku Ajar Keperawatan Maternitas (terjemahan), Edisi 4, EGC, Jakarta
  2. Bobak, M..I., Jensen, D. M., 2000, Perawatan Maternitas dan Ginekologi (terjemahan), Edisi 1, YIA. PKP, Bandung.
  3. Carpenito, L.J., 2001, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinik (terjemahan), EGC, Jakarta.
  4. Depkes, RI., 2004, Asuhan Keperawatan Post Partum Mata Ajaran Keperawatan Maternitas, Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Semarang.
  5. Dongoes, M.E., 2001, Rencana Keperawatan Maternal Bayi : Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Pasien (terjemahan), Edisi 2, EGC, Jakarta.
  6. Farrer, H., 1999, Perawatan Maternitas (terjemahan), EGC, Jakarta.
  7. Manuaba, I.B.G., 1998, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana, EGC, Jakarta.
  8. Potter and Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktek, Edisi 4, EGC, Jakarta
  9. Prawirohardjo, 2001, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.
  10. Prawirohardjo, 2000, Ilmu Kebidanan, Y.B.P.S.P, Jakarta.
  11. Reeders, S.J., 1997, Maternity Nursing Family Newborn and Klomens Healt Care, Lippinclot, Company, Philadelphia.
  12. Saefuddin, A.B., 2000, Buku Acuan Nasional (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal), JNPKK POGI, Jakarta.
  13. Tucker, S.M., 1998, Standar Perawatan Pasien Proses Keperawatan Diagnosa dan Evaluasi (terjemahan), EGC, Jakarta.
  14. Underwood, J. C., 1999, Patologi umum dan sistemik, Editor edisi Bahasa Indonesia, sarjadi, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Blog Archive

 

Tentang Kami

kapuk online Askep Kapuk Online | RS PKU Muhammadiyah Solo askep dan asuhan keperawatan gratis.

Bila anda mempunyai koleksi Askep, Asuhan Keperawatan, Makalah Keperawatan atau Kesehatan yang ingin di publish disini untuk di bagikan kepada teman-teman, silahkan kirim beserta identitas lengkap ke Email Kami

FRIEND

Langgan artikel Via Email

RSS Feed Langganan posting via RSS FEED

Atau kirim update terbaru dari
Blog Kapuk Online langsung
ke Inbox Email anda!: